#BreakingNews | Berita duka, seiyuu Ran Mouri, Wakana Yamazaki (61 tahun) telah meninggal dunia karena suatu penyakit pada 18 April 2026. Hal ini dikonfirmasi melalui agensinya, Aoni Production pada hari ini (15/5).
Sebelumnya, Wakana Yamazaki mengumumkan hiatus dari dunia sulih suara karena ingin melakukan perawatan medis. Penghormatan terakhir dan prosesi pemakaman dilakukan secara pribadi dan hanya melibatkan kerabat dekat, sesuai permintaan keluarga mendiang.
Komunitas Conan Fans Club turut berduka atas kabar ini. Terima kasih atas jasamu selama ini, Wakana Yamazaki-san. 🥀🪽
(📰 @conan_movie)
Sakit jiwa nih yang punya dapur MBG.
5 ompreng MBG hilang terus minta diganti rugi dengan 1 siswa, yaitu anaknya sendiri. Dan 1 calon siswanya harus dikeluarin biar anaknya bs masuk ke sekolah itu.
Keterlaluan banget. Bener2 speechless bacanyaa 🤬🤯
CAIR .. CAIIRRR 😜😂
Daftar media-media yg direkrut:
Folkactive, Indozone, Dagelan, Indomusicgram, Infipop, Narasi, Muslimvlog, USS Feed, Bapak-Bapak ID, Menjadi Manusia, GNFI, Creativox, Kok Bisa?, Taubaters, Pandemic Talks, Kawan Hawa, Folix, Ngomongin Uang, Big Alpha, Good States, Hai Dulu, Proud Project, Vebis, Unframe, Kumpul Leaders, CXO Media, Volix Media, How To Do Nothing, Everless Media, Geometry Media, Folks Diary, Dream, Melodi Alam, NKTSHI, Modestalk, Lead Media, Nalar TV, Mahasiswa dan Jakarta, North West, dan mature Indonesia
Narasinya terdengar seperti bantuan langsung untuk rakyat Palestina.
Kenyataannya?
dana itu masuk ke Board of Peace, badan internasional yang mengurus kebijakan politik, rekonstruksi, dan tata kelola yang bukan fokus ke bantuan langsung ke warga Palestine yang terdampak perang.
Sementara, Struktur BoP menempatkan kendali besar di tangan Donald Trump, sebagai pimpinan dan elite lembaga internasional, yang dikenal deket dengan Israel, keputusan soal masa depan wilayah konflik ditentukan oleh mereka.
1 miliar USD itu uang negara, bukan uang pejabat. Tidak jelas sumbernya dari mana, disetujui lewat mekanisme apa, siapa yang mengawasi, dan bagaimana pertanggungjawabannya ke publik.
Sementara kita tahu kalau kita masih punya beban utang, subsidi, gaji guru, layanan kesehatan, pendidikan, dan banyak daerah yang infrastrukturnya tertinggal.
Dulu narasinya pro Palestina, tidak tunduk kepentingan asing, dan mengutamakan rakyat sendiri.
Tapi sekarang kenyataannya?
Banyak orang, termasuk kaum intelektual yang sudah tidak paham lagi negara ini mau dibawa ke arah mana, bahkan sudah merasa seperti dikhianati oleh negara sendiri.
Menyedihkan.
1006 orang meninggal. Belum ada yang dipenjara. Belum ada status bencana nasional. Presidennya sibuk jalan ke luar negeri. Kabinetnya nolak bantuan luar. Menterinya sibuk mantau donasi. DPRnya iri ama influencer yang ke lapangan. Uda gila negara ini
Bantuan dari luar negeri ditolak, bantuan dari warga dihalangin, trying to act like a superhero all by themself when they're the one who caused this. How much more of a pathetic can you be?
Satu juta. Angka itu bukan statistik. Itu adalah 1.057.482 tatapan kosong di tenda pengungsian, bau basah dari pakaian yang tak sempat diselamatkan, dan 961 kursi kosong di meja makan yang takkan pernah terisi lagi.
Kau tahu apa yang paling menjijikkan dari data 961 nyawa melayang dan hampir seribu orang hilang ini? Estimasi biaya pemulihan.
BNPB bilang, butuh Rp51,82 triliun untuk memulihkan Aceh, Sumbar, dan Sumut. Bayangkan. Kerugian yang disebabkan oleh kelalaian sistematis pembalakan liar, tata ruang abal-abal, dan penegakan hukum tumpul terhadap korporasi perusak kini harus ditanggung negara. Uang kita.
Pejabat datang, pasang wajah prihatin di depan kamera, bilang "Indonesia Mampu Atasi Musibah". Mereka memastikan APBN cukup (Kata Mensesneg 3 Des 2025). Tentu saja cukup! Anggaran untuk event pencitraan, studi banding, atau food security project yang tiba-tiba muncul, angkanya jauh lebih berani.
Lihat kontrasnya:
Biaya pemulihan: Rp51,82 Triliun.
Bantuan yang diserahkan Menag tahap awal: Rp155 Miliar (fakta, 2 Des 2025) – mayoritas dari donasi Baznas dan lembaga lain, bukan murni kucuran APBN Penuh.
Korban meninggal hampir 1.000 jiwa, tapi Pemerintah Pusat TIDAK MAU menetapkan status Bencana Nasional (fakta, dikritik ekonom karena membatasi ruang fiskal darurat - 1 Des 2025). Kenapa? Karena menetapkan Bencana Nasional berarti pejabat harus kerja, bukan pencitraan. Itu berarti membuka dompet sebesar-besarnya, bukan sekadar mengirim 3-4 pesawat Hercules berisi mi instan.
Sementara anak-anak di pengungsian merindukan satu piring nasi hangat, elite di Jakarta sibuk berdebat: Apakah lebih penting kerja lapangan atau administrasi? (fakta, alasan belum ditetapkan Bencana Nasional - 3 Des 2025).
Jutaan nyawa terancam. Ribuan hilang. Puluhan triliun rupiah ludes karena keserakahan yang dilegalkan. Dan kita, yang kehilangan saudara, hanya bisa melihat mereka beradu argumen di podium.
Kita menabur kemanusiaan, yang kita tuai hanya lip service dan angka kerugian yang membengkak.
My prayers to the seven poor workers from Freeport Indonesia, who have been trapped for a week in the underground mine in the Grasberg Block Cave Underground area in Tembagapura, Mimika, Papua.
Bangun All, alokasi anggaran dikelola serampangan lagi. @prabowo memilih mengalokasikan anggaran pendidikan untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) ketimbang menjalankan putusan Mahkamah Konstitusi (MK) tentang sekolah tanpa pungutan biaya.
Sebanyak 44,2 persen anggaran pendidikan dialihkan untuk MBG, bukannya melaksanakan putusan sekolah gratis malah langganan nabrak konstitusi lagi.