Yang terjadi di Indo:
-Banjir & longsor
-Orang mati & ilang
-Satwa & orang tergusur
-Satwa terancam punah
Yang dilakukan pemerintah:
-Biarin penebangan & pengerukan ilegal di area konservasi
-Bilang “jangan takut deforestasi”
-Baru naikin status bencana alam di Aceh & Sumut setelah beberapa hari
Gini lah realitanya punya pemerintah pembunuh
Please please stop ramaikan narasi "Presiden gak tahu apa-apa" / "informasi ke Presiden difilter", dan sebangsanya.
Dia itu presiden. Kepala negara. Terpilih melalui proses demokrasi. Sangat layak kita menuntut tanggung jawab dia..
Telah nyata kerusakan di darat dan di laut karena ulah tangan manusia. (QS 30:41)
Catatan reflektif tentang bencana…
Rangkaian badai, tanah longsor, banjir bandang, gunung meletus, hingga satwa yang kelaparan belakangan ini jangan hanya kita pandang sebagai musibah alam, tetapi wajib dipandang sebagai cermin diri.
Badai, hujan lebat, gunung meletus, adalah peristiwa alam yang telah berlangsung jutaan tahun. Namun, kita memperparah dan mengubahnya menjadi bencana ketika kita memperlakukan alam tanpa etika. Tata ruang dilanggar, hutan ditebang habis, pesisir dicemari, habitat satwa dihancurkan.
Ingat kan di masa kampanye lalu kita pernah sama-sama membahas tentang pentingnya tobat ekologis, yaitu mengakui dosa kolektif kita pada bumi, lalu mengubah cara kita hidup dan cara negara mengelola kuasa?
Kita perlu mengakui bahwa kerusakan ini adalah hasil pilihan kolektif, mulai dari kebijakan yang lemah, mengabaikan analisis risiko, pengawasan yang longgar, serta ketidakpedulian ketika aturan dilanggar demi keuntungan jangka pendek yang hanya dinikmati sebagian orang.
Hari ini kita harus jujur bahwa kita terpaksa hidup berdampingan dengan bencana. Terlalu sulit untuk mencegah semuanya. Iklim sudah berubah, bentang alam sudah banyak dilukai. Namun, kita masih bisa mengurangi risikonya, sembari terus berusaha memperbaiki kerusakan alam.
Caranya, dengan tata kelola yang transparan, penegakan hukum yang tegas, gaya hidup yang lebih ramah bumi, keberanian berkata “tidak” pada proyek yang merusak, serta mendidik dan membiasakan mitigasi bencana secara serius bagi seluruh masyarakat.
Ini mungkin unpopular opinion: bumi tidak peduli pada kita, dan bumi tidak butuh kita peduli padanya. Bumi akan terus berputar, dengan atau tanpa manusia. Yang sedang terancam punah bukanlah planetnya, tapi keberlangsungan hidup kita sendiri. Maka kitalah yang butuh peduli pada bumi.
Tobat ekologis, sebuah pengingat dari Paus Fransiskus, adalah upaya yang harus kita jalankan untuk mengembalikan batas. Batas serakah, batas abai, batas melanggar aturan. Demi bumi yang lebih layak dihuni untuk anak dan cucu kita semua. •••
life lesson nya banyak bgt bgt bgt. Tapi aku coba summarize:
1. Ternyata the thing that won’t make us happier ironically adalah the belief that we need to be happy. Jadi kayak tanpa kita sadari “yang penting bahagia, yang penting bahagia” somehow itu jadi tujuan hidup dan jadi beban buat kita kalo ternyata kita gak bahagia. Ternyata di atas bahagia tuh ya, acceptance 🥲
2. Distraksi itu temporer. Makin distract, makin sakit. Aku udah di tahap yang setelah hari yang super sibuk dan berat, pas waktunya istirahat HANCUR semua, nangis terus sebelum tidur. Karna distraksi tuh sementara. Solusinya? Lagi-lagi: acceptance.
3. Avoiding painful memories. Salah. Bukan avoid, tapi digest. Terus dikelola sakitnya, sampai terbiasa, sampai accept. Jangan diburu2 karna proses tiap orang beda-beda.
❤️❤️❤️
Kita butuh small wins — kemenangan kecil setiap hari yang bisa kita atur supaya pasti tercapai.
Contoh:
Daripada cuma nargetin “masuk kampus impian” (yang jauh & bikin stres), lebih baik tambah target kecil seperti “belajar minimal 30 menit sehari”.
Bedanya? Sini aku jelasin
congratulations to the government. you’ve successfully radicalized your whole country in just under one week.
whatever the outcome of this mass protest wave is, tomorrow will never be the same.