Temen gw kerja di PLN.
Dia bilang ada satu pertanyaan yang tiap hari bikin dia dimaki, dan dia capek ngejelasinnya.
Pertanyaannya: "kok beli token 100 ribu, dapet listriknya kurang? Sisanya ke mana?"
Dia cerita ke gw sambil geleng-geleng. "Yang motong duit itu bukan PLN. Tapi yang dimaki tetep kita."
Gw ngerutin dahi. Kalo bukan PLN, terus siapa yang ngambil?
Malem itu gw cek struk token gw sendiri. Ada satu baris kecil yang selama ini gak pernah gw baca.
@BuyungIswanto@MafiaWasit korban? i think emg pada maruk aja gasih mereka mah, udh tau dibatasin eh masih cari celah biar bisa buka dapur. bahkan di tempat ku bekas penggilingan padi aja jadi sppg pdhl bangunannya ga proper blass.
udah liat tingkah menjijikan mimi peri? masih mau ngasih ruang untuk bencong? masih mau bela para boti dan LGBT kah?
-dia terang2an mengaku suka tusbol/sodomi, di mana dia ngambil anak2 kampung, katanya anak2 kampung lebih bersih dari HIV. kurang ajar sekali, pun kalo mereka bersih, bisa saja nanti justru dia yang tertular dari si bencong ini. daya rusaknya luar biasa untuk anak2 dan masa depan
bejat. hina. dia menularkan penyakit kelamin dan bisa menularkan orientasi seksnya yang menyimpang itu ke anak2 kampung yang kemungkinan masih ada yang polos
jangan lagi bilang sifat dan kelakuan bencong itu gak bisa nular. bisa. jurnal barat yang jadi rujukanmu soal LGBT gak bisa nular itu gak valid, emang yang buat jurnal itu udah ngambil survey dari seluruh dunia? gimana kalo yang buat jurnal itu ada beberapa yang pro ke LGBT juga? stop denial
bagaimana kalo anak2 kampung itu anakmu? keponakanmu atau kerabatmu? masih ada kah ruang untuk tidak marah?
anak2 kampung yang dia sebut itu mungkin ada yang sama2 mau, tapi besar kemungkin ada juga yang awalnya gak mau tapi karena banyak faktor seperti iming2 dikasih imbalan, dirayu atau apapun lah caranya sampai pada akhirnya dia mau melakukannya. ditambah dengan keadaan ekonominya yang sulit, begitu ditawari uang dan hadiah bisa saja pendiriannya goyah. ini banyak terjadi
-saat ditegur soal kelakuannya itu, dia teriak "hidup boti, saya bangga menjadi boti. dosa itu gak ada, gak ada disiksa (di neraka), itu hanya dongeng, dongeng masa kecil buat nakut-nakutin"
apa gak bahaya kalo predator seperti ini dibiarin berkeliaran semaunya tanpa ditindak? tanpa memasukkan unsur agama pun, kita semua harusnya gak boleh bebasin dia ngerusak anak2 dan menularkan penyakit fisik dan mental ini
teman2, jangan biarkan kemungkaran terjadi di depan mata. lawan
Akhir tahun lalu kami merilis laporan tentang proyek tebu di Merauke ini. Hingga Oktober 2025, di konsesi 2 perusahaan saja, telah terjadi deforestasi seluas 13 ribu hektare.
Laporannya bisa dibaca di sini:
https://t.co/dX6ZegZoZl
Siswa SD bunuh diri, kabar terakhirnya sempet minta beliin buku dan pulpen ke ibu nya, tapi gabisa karna gapunya uang. Sekali lagi, BUKU DAN PULPEN, barang-barang yang mungkin totalnya Rp. 7000. Negara ini gagal, bener-bener gagal, pemimpinnya bahkan jauh lebih gagal.
Dari segala banyak opini yang berseliweran, kita sering lupa satu hal penting:
Laras adalah warga biasa seperti kita, yang marah ketika melihat polisi MEMBUNUH Affan.
Maka mendukung Laras adalah sikap keberpihakan yang penting bahwa negara GAK BOLEH BUNUH warga serampangan.
hasilnya:
• ribuan anak-anak keracunan
• 13 orang meninggal karena 1312 (selama aug-sep)
• hampir 1000 orang dijadikan tersangka
• tni masuk posisi sipil
• banyak satwa endemik mati
• banjir bandang di sumatra, ratusan meninggal tapi nggak ditetapkan sbg bencana nasional
"Pada tahun 1998, teman seumuran saya dibunuh aparat. Pada tahun 2025, Affan, yang sebaya dengan anak saya, dibunuh aparat.
Dia tidak seberuntung para polisi muda, yang ayahnya, dan mungkin ibunya, punya sawah untuk dijual.
Ada otak di kepala. Bukankah para polisi itu bisa menggunakannya? Jika ada otak, apakah jadi polisi?
Tahukah kalian bahwa semua keputusan politik di negara ini adalah hasil pilihan kalian? Kalian bilang, "Kami rakyat kecil. Kami ini bisa apa?" Kalau kalian tidak berarti bagi mereka, tidak mungkin mereka akan datang mengemis suara kalian.
Anda, Pak Polisi, Ibu Polisi, mau sampai kapan kalian menggunakan kekerasan untuk menghadapi rakyat? Kami ini bukan musuhmu, Pak. Kami ini tangan kosong. Kami ini hanya menyuarakan suara kami.
Kami yang tertindas, kami yang bekerja hari ini, tanpa tahu besok apakah masih ada lapangan pekerjaan untuk kami. Kami yang setiap hari harus berpikir, "Budget apa lagi yang harus kami bayar?" Biaya UKT kuliah anak kami lagi yang akan naik. "Berapa lagi yang harus kami cari?"
Kalian kemana? Kalian membela anggota Dewan yang berjoget dengan pendapatan 100 juta per bulan. Tapi kalian memukuli kami yang di luar sini.
Kalian bisa bersikap manis pada para anggota Dewan, pada para pejabat. Tetapi mengapa kalian beringas terhadap rakyat?
Tolonglah, balikkan badan kalian, berjuanglah bersama kami rakyat. Apakah kami harus mengadu ke Damkar? Apakah kalian tidak malu ketika kalian sedikit demi sedikit kehilangan fungsinya?
Ketika kalian diperolok bahwa kalian hanya bisa merazia. Ketika ada pencurian, masyarakat meminta bantuan Damkar. Ketika ada kekerasan dalam rumah tangga, masyarakat larinya ke Damkar. Apakah kalian tidak malu?
Kalian berseragam coklat untuk menegakkan keadilan. Untuk membantu kami yang tidak mengerti hukum!"
Ibu Nana
Warga Kotawaringin Barat
Kalimantan Tengah
30 Agustus 2025
Kmrn ngobrol ama nyokap trus nyokap bilang :
🧕Kemaren mama denger dr ust Soni, kalimatnya sih kita udh tau tp kek baru makin sadar dan tertohok pas ustadznya nyampein :
“Kalo lg ada masalah, inget doa nabi Musa. Apa doanya? Robbisyrohli sodri, wa yassirli amri, wahlul uqdatan min lisaani, yafqohu qouli.
Satu waktu saya masuk ke ruangan kelas sebuah sekolah di China pada saat kegiatan belajar mengajar berlangsung (tentunya dengan seizin siempunya sekolah). Di dalam kelas itu, sebagaimana di sekolah-sekolah lainnya, terdapat meja dan kursi untuk siswa dan juga meja dan kursi untuk guru.
Lin Qingzhong, guru sekaligus Kepala Sekolah di sekolah tersebut mengatakan bahwa setiap siswa boleh berganti tempat duduk di mana pun ia suka. Tapi yg tidak boleh sama sekali duduk di kursi guru. Kendati pun guru tidak sedang menggunakannya atau bahkan guru sedang tidak ada di dalam kelas. Hukuman berat bagi pelanggarnya (btw, guru piket dan supervisor harian mengawasi semua tingkah laku siswa dan termasuk gurunya melalui CCTV di ruang ‘command center’).
Saya tanya kenapa? Sembari mencontohkan kelas di ‘barat’ yg bahkan memberlakukan ‘no chair for teacher in the classroom’ agar guru lebih aktif dan fleksibel berinteraksi dengan siswanya.
Beliau belum menjawabnya sampai kemudian ia mengajak saya ke ruangannya sambil mengambil 2 buah buku. Sambil menunjukkan buku pertama berbahasa Mandarin ia menjawab bahwa leluhur kami tidak mengajarkan murid bertindak ‘tidak sopan’ kepada gurunya, termasuk duduk (atau berdiri) di tempat guru mengajar adalah nir adab. Terserah ‘barat’ mau melabel bahwa kuno atau konservatif. Tapi faktanya kami bisa mengalahkan ‘barat’, lanjutnya.
Sambungnya lagi, dan pendahulumu juga memberitahukan itu (tentang aturan antara murid terhadap guru dan ilmu) dalam buku klasik ini. Buku itu berbahasa Inggris. Tapi pengarangnya begitu akrab dibenak saya: Imam Az Zarnuji. Buku itu berjudul: Instructions of Student: The Method of Learning (diterjemahkan oleh G.E. Von Grunebaum dan Theodora M. Abel pada tahun 1947. Sementara buku aslinya sendiri ditulis pada abad ke-12).
Buku pertama berbahasa Mandarin itu saya lupa judulnya. Tapi buku kedua, sampai hari ini saya masih ingat. Karena sejatinya buku ‘panduan’ pedagogik yg ternyata diterapkan pada sistem belajar dan mengajar di China adalah kitab klasik fenomenal yg berjudul aslinya Ta’lim al Muta’allim Thariq al Muta’allum karya Imam Az Zarnuji yg di sekolah-sekolah agama (pesantren) diajarkan.
Sementara kita (sebagiannya) malah mengikut ‘barat’ yg malah hasilnya membentuk karakter siswa yg ‘kurang ajar’ terhadap gurunya. Sehingga hasilnya ya kita mendapatkan rata-rata IQ 78 karena ada adab penuntut ilmu yg dilupakan atau ditinggalkan. Mengambil istilah klasik: kita kehilangan keberkahan dari guru dan ilmu.
Mau sampai kapan? Mau mengejar ketertinggalan? Semua jawabannya bergantung pada respon dan jawaban kita sekarang.
Sejak Gibran dititipkan kepada Prabowo untuk misi estafet kekuasaan Jokowi dgn Prabowo sebagai bonekanya yg notabene Prabowo diuntungkan krn syahwat jadi orang nomor 1 akhirnya jadi kenyataan di sisa usianya, tiap telponan dengan teman INA saya selalu blg “Saya pilih Anies. Tp bukan bermaksud mendahalui Takdir, Prabowo Bakal menang. Justru aneh kl dia kalah stlh diback up penguasa dgn cara yg Najis massivenya.” Heuheu
Sejak debat Capres pertama, gesture Prabowo melet2 dengan dada busung kepada Anies, tuit2 saya 100% waktu itu “itu gesture orang yang merasa di atas angin. Orang yg ga dukung penguasa ngga bakal atututednya spt itu di depan umum.”
Justru kalau Anies atau Ganjar yang menang, itu Keajaiban Rabb. Baru aneh.
Semoga kalian pendukung Jokowi Prabowo yg ada di TL, stlh Capres pilihan kalian menang, kalian ngga wasap/DM-in lagi orang2 buat ngutang.
Semoga kalian juga ngga nge DM-in client/customerku yang rejekinya tajir dari Allah, menjual drama kebohongan biaya anak sekolah hingga ngutang 10 juta ke atas hingga uang tsb direlakan oleh clientku heuheu.
Semoga gak banyak lagi lintah pengemis GA di TL yang mempermalukan diri membuka aib ekonomi agar dikasihani.
Semoga token listrik kalian ngga bunyi terus, semoga kalian bs ngisi bensin, bisa memenuhi standar hidup layak.
Indonesia bukan Italia atau Eropa lainnya, bukan Amerika, Aussie dan negara maju lainnya.
Demokrasi di negeri ini ngga perlu ada gagasan keren dari Capresnya, gak perlu ada dialog Desak Anies yang memaksa isi kepala dikeluarkan. Cukup jadi pendukung bodoh yg otaknya dilepas di toilet dan cukup disumpel 100rb untuk 5 tahun ke depan atau dibayarin centang biru meski tuit2nya ceper dan galau.
Alhamdulillah saat ini, Rabb masih takdirkan aku untuk hidup di Benua Biru.
Bersabar Indonesia. Kita ikuti MauNYA Rabbul Alamin❤️
@Mdy_Asmara1701
Bangga sekaligus bingung mencari dana
Itu yang dialami M. Novan Alfaridzi, siswa peraih penghargaan di kompetisi sains Korea
Ayahnya bekerja sebagai petugas security & ibunya bekerja harian
"Ortu kami memang bukan yang berpendidikan
Tapi mereka selalu support minat anak", ujar Dita, kakak Novan