dalam dunia yang dimenangkan kapitalisme, filsafat dipandang takrelevan karena tidak bisa mempercanggih mesin produksi dan keterampilan buruh. apakah dengan begitu layakkah jurusan filsafat dihapus? selamat membaca handai tolan!
https://t.co/iA3vtnLubb
@paprika01101010 ini buku menarik, sangat provokatif, meski menurut banyak ulasan terlalu barat-sentris, agak mengada², dan tidak akurat dalam. aku tahu ulasan itu setelah menamatkannya dan aku tetap tidak menyesal baca. karena buku ini, aku juga mengoleksi karyanya yang lain. namun, ...
sebagai mahasiswa filsafat, teman saya sering ketemu tukang ojek yang cerita bahwa dirinya juga lulusan filsafat dari sama kampus. teman lain bercerita banyak lulusan pasca-sarjana menganggur di Cina dan sebagian dari mereka menjadi tukang ojek. apakah semua orang harus kuliah?
Poster ini diunggah akun Instagram Gerindra Jepara di tengah musim kampanye, 3 Desember 2023 atau 72 hari sebelum Pilpres.
Orang menuduh motif pelangi di poster ini adalah usaha Prabowo-Gibran mencari dukungan politik dari kelompok pemilih tertentu.
Tim Kampanye membantah, dan menyatakan “pelangi lebih dulu (ada) dari urusan LGBT”.
Tentu kita setuju. Anak-anak juga menyanyikan lagu “Pelangi, pelangi, ciptaan Tuhan”.
Ada yang keberatan?
Kita percaya pada Tim Kampanye Pra-Gib bahwa poster ini tak punya motif politik untuk mendapatkan suara pemilih tertentu.
Jadi ketika sekarang rezim Prabowo-Gibran menyatakan LGBT ancaman bagi negara, mestinya mereka tetap santai memakai dasi atau pin bermotif pelangi.
Yang dilakukan Prabowo dengan menyatakan LGBT sebagai ancaman negara adalah stempel-stempel yang sudah dipakai banyak penguasa sepanjang sejarah. Terutama mereka yang gagal memajukan kesejahteraan rakyatnya.
Hitler memainkan kebencian terhadap Yahudi. Soekarno menstempel pengkritiknya sebagai kaum kontra-revolusi. Soeharto dengan stigma komunis. Jokowi memakai cap radikalisme dan menyingkirkan pegawai KPK dengan stempel “Taliban”.
Semua diambil dari bahan bakar yang sama: Kebencian sosial terhadap minoritas.
Saat rezimnya yang korup mulai bangkrut, Soeharto mengkambinghitamkan asing dan Tionghoa. Lalu mereka jadi sasaran amuk massa. Bukan Soeharto dan kroninya.
Resep serupa dipakai rezim militer Fiji terhadap peranakan India atau junta Myanmar terhadap etnis Rohingya.
Dan Donald Trump menjadikan imigran sebagai kambing hitam kemunduran ekonomi Amerika dan memudarnya pengaruh politik internasional mereka.
Pembantaian 253 guru ngaji dan kiyai NU pada 1998 di Jawa Timur juga diawali dengan daftar nama “Dukun Santet”. Investigasi menunjukkan, para pembunuh adalah orang-orang terlatih yang berkaitan dengan anasir militer untuk menghabisi basis pendukung Gus Dur.
Jauh sebelum Prabowo dan Trump, para raja dan kaisar yang gagal menyejahterakan rakyatnya, yang istananya dipenuhi skandal, dan rakyatnya kelaparan karena gagal panen, akan membuat daftar nama “Tukang Sihir” untuk diburu.
Dan kaum agamawan dengan suka cita menyiapkan tiang pembakarannya. ***
@rayculz pas SD aku sering beli CD gim PS 2 ke kota dan aku tidak tahu kalau itu bajakan. harganya di bawah 10 ribuan. buat dengerin musik, aku sering unduh lagu di Stafaband atau minta ke teman lewat bluetooth. buat film dan anime, aku banyak nonton hasil unduhan di laptop pamanku.
hayuk bikin petisi atau serikat pencita buku atau apalah yang bisa mengadvokasi isu ini, biar pajak buku dibuat NOL! pembaca itu massa besar, lebih banyak jumlahnya dari penulis dan penerbit buku itu sendiri. kita, para pembaca, hanya perlu beroganisir!
🇮🇩 Pajak buku di Indonesia : 12%
🇲🇾 Pajak buku di Malaysia : 0%
🇬🇧 Pajak buku di Inggris : 0%
🇮🇳 Pajak buku di India : 0%
Di mana bumi dipijak, di situ rakyat dipalak 🙏🏻
@Zawwaf_ sekarang saya lagi s2 di jurusan filsafat dan sebentar lagi lulus. saya dipenuhi waswas soal kerja belakangan. di lapangan, para sarjana dari jurusan praktis saja, yang pasar kerjanya nyata tersedia, kesulitan dapat kerja, apalagi lulusan filsafat.