@afinaemas Inget sj. Wkwkw. Ada satu cerpen yg udah diterbitkan bareng Mbak Okky, Fin. Yang satu lagi masih jadi arsip sampai sekarang. Dan, sejak itu udah jarang banget nulis fiksi. :((
rada malas membahas terms independent yet again being used so loosely like that; oh well, bahas ini tuh bukan sebagai an attempt to ban/censor/stop the event ya (punya kuasa apa kita woii 😭). Dan juga bukan sebagai virtue signaling bahwa indie > major; tapi ya salah satunya sebagai pengingat + ajakan ke orang2 yg cukup punya platform besar di industri ini, “yuk deh, penyematan istilah indie rada lebih diperhatikan, enggak asal-asalan.”
kenapa ini penting? ya di negara yg industri bukunya punya gurita monopoli besar (dan juga gurita-gurita lapis kedua lainnya), menurutku pembahasan seperti ini perlu banget sih, di virtual mau pun luar virtual ya. 🙃🙃
bagaimana ceritanya toko buku milik penerbit, sekalipun penerbitan indie, adalah toko buku independen? lebih lebih toko milik penerbitan mayor?
independensi dari mana? kemandirian macam apa yang dibayangkan dari hal hal semacam ini?
[Kronologi]
1. Perusahaan gue ga bayarin THR. Alasannya karena omset penjualan masih belum bagus dan masih memiliki banyak catatan untuk kinerja team. Pdhal di kontrak kerja juga tertera kita berhak menerima THR walaupun belum 1 tahun kerja, dan akan diberikan secara prorata.
Memasuki bulan-bulan penuh agenda hiking. Seminggu bisa lebih dari satu kali. Dan, jadwal teman-teman Jakarta dan Bandung berkunjung ke Dieng. Haru bisa jumpa mereka (lagi).
Sebagai yg pernah riset soal seminar poligami, riset gua mengonfirmasi kesamaan seminar poligami dgn anti-boti, yaitu maskulinitas yg dibangun dari penaklukan.
https://t.co/5Scdwcgikz
Wow menarik banget ini. Ada pegawai KemenkumHAM yang menggugat Pigai selaku Menteri HAM ke PTUN, karena keputusan mutasi yang dibuat oleh Pak Menteri. Terus, pegawainya menang!
Bukti kalau memperjuangkan hak itu memang perlu dilakukan 🔥
Harus baca ini mah! Kajian dari anak Kastrat yang isinya tentang dekonstruksi politik seksualitas dalam rezim heteronormatif. Mulai dari nunjukin materialitas keberagaman seks dan gender, sampai pada bagaimana interaksinya dengan formasi sosial-politik. https://t.co/5Ydktm6VQe
Mbak @NaziraCNoer, beberapa orang menganggap Pak Arifin C Noer turut bertanggung jawab justru karena wawancara Ibu Jajang C Noer ini.
Tidak ada paksaan & penyesalan untuk menggarap proyek yg juga didukung @gm_gm, Nugroho Notosusanto, & Gufron Dipayana ini.
Mohon diskusinya 🙏🏼
Sudah saatnya menulis soal lingkungan, tidak hanya soal manusia—yang terlalu antroposentrik.
Salah satu tulisan sejarah dengan judul “Seandainya Mereka Bisa Bicara: Sejarawan Indonesia Mulai Mendengarkan Jeritan Binatang” dalam buku Bacaan Bumi: Pemikiran Ekologis untuk Indonesia.
Seharian ikut aksi di kantor bupati. Lanjut, ngemi ayam. Malamnya, sepedaan putar kota sama teman-teman komunitas. Lalu, makan malam pecel lele. Jam 1 malam menuju tidur. Jam 3 dini hari masuk IGD. Gerd kambuh. Lambung berdarah. Muntah ngga berhenti-henti. Hidup.
Kembali lahir dua doktor wingit dgn kajian naskah-naksah Merapi-Merbabu. Ngiring bungah Mas Agung Kriswanto (Perpusnas) dan Simbok Y.Apriastuti Rahayu (UGM) — mugi arum asmane para Ajar ing Rĕdi-rědi.