Mengapa Negara Menzalimi Suami Saya, yang Tulus Berkorban Banyak Untuk Negara?
Sebagai istri, sakit hati rasanya. Enam belas tahun aku kenal Ibam, dia ngga money oriented. Niatnya tulus. Kalau sudah mau bantu, dia akan benar-benar bantu.
Ibam dituntut penjara 15 tahun dan harus bayar Rp16,9 miliar, kalau tidak maka pidananya ditambah 7,5 tahun.
Berarti, Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Ibam, yang pernah menolak tawaran puluhan miliar karena merasa misi bantu negara lewat bangun teknologi masih belum selesai.
Sekarang ironisnya dituduh korupsi. Padahal sampai 57 saksi diperiksa, tidak ada satu pun bukti Ibam memperkaya diri. Tidak ada konflik kepentingan untuk memperkaya orang lain.
Dia hanya konsultan teknis, rela tolak tawaran asing, turun gaji demi negara, ngga punya jabatan dan kewenangan, selalu profesional dan netral dalam kasih masukan, tapi terjebak dalam pusaran para elite birokrasi.
Masukan teknis Ibam yang sudah terdokumentasi baik, transparan akan kelebihan dan kekurangan, diceritakan sepotong-sepotong saja oleh pejabat pengadaan. Sehingga seakan-akan Ibam memaksa hanya Chromebook.
Untungnya, Ibam punya banyak dokumentasi yang sudah jadi bukti di persidangan. Sudah terungkap di sidang bahwa:
1. Ibam bukan pejabat, tapi konsultan yayasan. Gaji Ibam sama sekali bukan dari APBN.
2. Ibam baru kenal Nadiem setelah dia jadi menteri. Ngga ada persekongkolan, dan ngga pernah ketemu personal.
3. Di banyak bukti chat & notulen rapat: Ibam tidak mengarahkan pengadaan, tidak buat kajian, bahkan Ibam minta kementerian untuk uji Chromebook dulu.
4. Pejabat Eselon I akhirnya mengakui: dia yang menolak masukan pengujian Ibam, dia yang memutuskan Chromebook lewat SK yang dia keluarkan.
5. Ahli IT telah menyatakan masukan Ibam sudah netral dan profesional, sesuai best practice keahlian, serta benar dalam menyerahkan keputusan ke kementerian.
Puncaknya, nama Ibam dicatut ke dalam SK pengadaan yang tidak pernah dia ketahui sebelumnya. Dalam pengesahan kajian Chromebook yang ditugaskan SK, tidak ada tanda tangan Ibam.
Terungkap juga di sidang, belasan pejabat, termasuk yang berupaya ‘menyalahkan’ Ibam, mengakui telah menerima ratusan juta rupiah suap dari vendor. Namun mereka semua bebas, tidak ada yang jadi tersangka.
Disaat mereka bebas, Ibam ditahan dan dituntut penjara. Bagiku perkara ini jelas. Suamiku bukan pelaku, tapi korban permainan elite birokrasi yang seenaknya melempar semua keputusan mereka pada Ibam.
Sekarang, kami hampir sampai di ujung jalan.
Ibam dituntut 22,5 tahun penjara.
Dua terdakwa lain, pejabat Eselon II di Kemendikbud, yang mengatur pengadaan dan sudah mengakui ada aliran dana sampai miliaran rupiah, dituntut 6 tahun saja.
Semakin kontras ketika surat tuntutan sendiri mengakui: tidak ada aliran dana ke Ibam.
Tuntutan bilang di laporan SPT 2021, kekayaan Ibam naik Rp16,9 miliar. Ibam sudah tunjukkan bukti di persidangan kalau itu dari saham Bukalapak yang didapat jauh sebelum Ibam menjadi konsultan Kemendikbud, tidak ada kaitannya sama sekali dengan Chromebook atau Gojek.
Bukti itu ditolak JPU dalam tuntutannya. Mereka bilang karena Ibam sudah resign, sahamnya hangus. Mereka tidak paham kata-kata dalam surat pemberian saham, bahwa yang hangus hanya “saham yang belum diberikan”. Padahal, sebelum resign juga ada sebagian saham yang sudah diberikan.
JPU menyatakan, karena mereka tolak bukti itu, Rp16,9 miliar Ibam diduga hasil korupsi, jadi mereka tuntut 15 tahun ditambah 7,5 tahun.
Bagi kami, ini puncak dari kezaliman. Ibam yang tidak pernah, sekali lagi, TIDAK PERNAH ADA ALIRAN DANA SAMA SEKALI, dikriminalisasi atas prestasinya bantu negara, yang tidak ada hubungannya dengan perkara.
Dua minggu lagi putusan Ibam akan dibacakan oleh Majelis Hakim, kami tetap berharap keadilan putusan bisa sesuai dengan fakta persidangan.
Karena, ini bukan sekedar perkara hukum, ini menyangkut nasib seseorang, masa depan keluarga kami, anak-anak kami, serta kemerdekaan kami sekeluarga.
Setahun terakhir ini adalah masa yang sangat berat bagi kami. Keluarga kami kehilangan penghasilan, kesehatan jantung Ibam kian memburuk, bahkan tabungan hidup kami terkuras habis untuk biaya medis dan biaya hukum.
Namun, aku bersaksi bahwa Ibam adalah seorang perintis. Hidupnya penuh perjuangan dari kecil, insya Allah kami siap bangun dari nol lagi.
Hanya saja, jika pengabdian untuk Indonesia harus dibayar semahal ini. Jika bukti persidangan sudah seterang ini, dan jika upaya mengkambinghitamkan Ibam sudah sekentara ini, dia tetap dipenjara puluhan tahun...
Ini adalah ketidakadilan yang teramat pahit.
Bukan hanya bagi Ibam, tapi bagi siapa pun yang pernah atau akan bantu bangsa ini dengan niat tulus.
Apa memang berbakti bagi merah putih seberbahaya ini?
Apa memang tidak ada keadilan bagi orang jujur yang sudah berkorban banyak bagi negara?
Tolong bantu kami mencari keadilan untuk Ibam selagi masih ada waktu. Mohon bantu bagikan tulisan ini, pada rekan atau kerabat, konsultan atau pejabat, siapapun yang bisa bantu menyuarakan keadilan dan memberi perhatian.
Agar tidak ada lagi profesional seperti Ibam yang jadi korban kriminalisasi.
Jakarta, 16 April 2026
Ririe - Istri dari Ibrahim Arief (Ibam)
Film pendek Turut Berdukacita (Deep Condolences).
Abis nonton film ini, premis ceritanya unik, jadi ceritanya ada seorang perempuan bernama Maria baru aja kehilangan ayahnya.
Saat lagi berduka, ia harus menceritakan secara berulang-ulang tentang kematian ayahnya kepada tamu yg hadir dari pertanyaan yg sama “Sakit apa? Kok bisa? Kapan persisnya?”
Tapi walaupun dalam kondisi sedang berduka, Maria tetap sabar menjawab dengan kalimat yg sama kepada semua tamu²nya yg hadir.
Pesan yg mau disampaikan dari cerita ini sebenernya sederhana, saat kita hadir di tempat orang yg sedang berduka ngga usah jadi pelayat kepo. cukup datang, ucapkan belasungkawa, mendoakan, pulang, dah itu aja.
In Indonesia, Flood waters Turned Timber Into Floating Battering Rams!
Experts said the catastrophic nature of the storm - hundreds of thousands of people have been displaced - was compounded by the fact that large swaths of Sumatra's forests have been razed in recent decades.
https://t.co/WCdpEVhRMD
Rescue workers in Indonesia are still struggling to reach victims in areas submerged by cyclone-driven torrential rain, as authorities say the death toll has reached 248 and will likely rise further https://t.co/qGv43y4nYD
all humans, including the prophets, are primates.
primates are a big family, part of the great tree of life. you begin to lose compassion and grow arrogance the moment you detach yourself from that tree.
yes, that's correct. theologically, we all come from Adam. but the origin of creation is not the same as biological classification.
in religion, Adam is the first human. but in biology, humans are placed in the primate family based on their physical traits.
if you say Adam isn't a primate because his creation was different, that makes sense in that theological context.
but in terms of living-being classification, if someone has a human form and human anatomy, they automatically fall under primates.
it would be incorrect for me to classify Adam as anything else, like calling him an avian.
Pemerintah Aceh Tengah sudah kibarkan bendera putih 🏳️💔
Sudah hampir 5 hari bantuan yang sampai hanya seperti formalitas. Tolong bagikan supaya sampai kepada pemerintah pusat biar lebih cepat ditangani sebelum terjadi bencana yang lebih besar lagi,bencana kelaparan 😭
#PrayForSumatera #PrayForAceh #PrayForGayo
Critically endangered Sumatran elephant dies from blood poisoning after being ensnared near an oil palm plantation.
(https://t.co/yDsfG3ezyH)
(https://t.co/z6j89TjXr0)
(https://t.co/84B7gJuyp3)
(https://t.co/cchbNe4mxv)
Beberapa hari ini beberapa daerah di Sumatera mengalami longsor dan banjir bandang.
Puluhan meninggal atau hilang dan ribuan warga terdampak.
Jika teman-teman lihat berita dan informasi terkait banjir di Sumatera ini, jangan cuma diam. Repost dan wartakan. Share info-info tentang kebutuhan bantuan dan situasi di reply email ini supaya warga lain juga bisa lihat.
Jika teman-teman bisa membantu dengan berdonasi, berdonasilah.
Mari kita bantu dan doakan saudara-saudara kita di Sumatera.
Tiap ujan alasannya gangguan jaringan atau apalah itu. Ditanya kenapa pasti kabelnya putus.
Eh sekarang agentnya katanya sibuk semua.
Ini gimana ya? Apakah kabel listrik kita terbuat dari kwetiau yang kena angin dikit putus? @pln_123
Anak kecil dan orang tua yang pantang patah semangat dalam bekerja serta beraktivitas positif selalu menggerakkan hati Botang untuk mengenal mereka lebih jauh.
Beberapa hari lalu, Botang bertemu dengan adik perempuan ini yang bernama Bilkis. Ia masih berusia 10 tahun, namun tekadnya tinggi untuk membantu orang tuanya mencari rezeki.
Ketika ditemui di dekat gerbang perumahan Graha Raya, Serpong Utara, Tangerang Selatan, Bilkis sedang terduduk dengan sebuah kontainer berisi donat meses dan sekantong plastik bening.
"Donat seres 2.000," begitu tertulis pada kontainer tersebut.
Bilkis masih duduk di bangku 4 SD salah satu sekolah di Pinang, Kota Tangerang. Ia mengaku berjualan atas keinginan sendiri untuk bantu orang tua.
"Biasanya jualan sepulang sekolah. Ke sini (pertigaan Paku Jaya) naik angkot atau dianter mama," katanya kepada Botang.
Setiap hari, Bilkis jualan donat dari pukul 15.00-20.00 WIB dan lebih sering menunggu pembeli di pertigaan tersebut.
"Kadang jam 6 sore udah habis, langsung pulang," ujarnya lagi.
Buat kamu yang sering lewat sini dan ketemu Bilkis, jangan lupa beli donatnya ya supaya Bilkis bisa pulang lebih cepat lagi 😊
Doa Botang semoga Bilkis tumbuh jadi anak yang baik, pintar, sehat, terus membanggakan orang tua, Amin!
Mau pejabat, aparat negara, selebriti, head chef, ibu rumah tangga, pensiunan, semua sama di mata produsen. Harus antri kalau ingin membeli sesuatu karena tidak ada yang "spesial"
Dari game ini ada sebuah pelajaran yang penting. Pertumbuhan populasi harus dibarengi dengan pertumbuhan lapangan pekerjaan. Semakin tinggi populasi, semakin banyak lapangan pekerjaan. Kita tidak bisa menambah populasi jika lapangan kerjanya tidak ada.
Sampai sini paham?