Penulis buku JOKOWI UNDERCOVER Bambang Tri, dipenjarakan Jokowi dua kali, Masing-masing 5 dan 6 tahun, total 11 tahun penjara.
Penulis buku JOKOWI's WHITE PAPER, Roy Suryo dan dr Tifa, dilaporkan Jokowi, dengan ancaman pasal 8 dan 12 tahun.
Sekarang 1 Ilmuwan lagi, Bonatua Silalahi, menulis buku hasil penelitian nya menjadi buku dengan judul lebih parah: IJAZAH JOKOWI TIDAK ADA!
Batak satu ini ampun deh, bikin judul buku straight to point, ngga ada manis-manisnya,. Langsung gubrak kata orang Betawi: "Lo kaga ade ijazah nye, Jek"
Lagi nunggu sambil hitung semut merah yang berbaris di dinding, kapan Jokowi bikin Laporan Polisi buat Bonatua.
Nanti jika Bonatua dipolisikan,. Maka. pasti ada lagi Peneliti yang bakal menerbitkan bukunya.
Yang sudah antri terbitkan buku tentang kepalsuan Ijazah Jokowi, kalau tidak salah adalah Rizal Fadillah, Profesor Tono Saksono, Topi Merah. Dan banyak lagi yang lain.
Percayalah 1 Tifa dan Roy berusaha ditumbangkan, akan muncul. 1000 Tifa dan Roy berikutnya.
Rezim tone deaf:
- Ekonomi memburuk
- Daya beli menurun
- Utang selangit
- Bunga utang mencekik
- Ruang fiskal jebol
- IHSG nyungsep
- Investor angkat kaki
- Rupiah ndlosor
- Badai PHK
"ππͺπ¨π§-ππͺπ¨π§ππ‘"
Sementara dalam waktu yang
sama, proyek ugal-ugalan MBG
dan Kopdes gaspol terus walau
ruang fiskal jebol, dan bahkan
nggak boleh dikritik.
Disenggol sedikit tantrum, lalu
pidato ndakik-ndakik sembari
denial, ujungnya buzzer-buzer
laknat dikerahkan.
Joget-joget saja terus, sampai
ompreng MBG belatungan.
πππ₯ππ‘π πππππ
Dari berbagai pendapat ekonom, termasuk Chatib Basri saya merasa ini lugas, tidak menutupi. Hanya kita yang salah dan bodoh, beda dengan 1998 yang jebloknya dialami negara lain.
2026. Pemerintah yang tidak kmpeten, dan rakyat yang menderita.
Guys, Ferry Latuhihin baru bicara lagi.
Dan seperti biasa tiga prediksi sebelumnya sudah terbukti semua dia tidak menarik kata-katanya.
"Saya masih yakin Juli dolar ke Rp22.000."
Bukan ugal-ugalan.
Bukan menakut-nakuti.
Tapi analisis yang disampaikan dengan sangat tenang oleh orang yang rekam jejaknya bicara sendiri.
Dan sebelum gue lanjut ada satu hal yang harus diluruskan dulu.
Soal tuduhan "agen Soros" ini yang paling menggelikan:
Setiap kali Ferry memperingatkan bahaya langsung dicap agen Soros.
Agen asing.
Mau menghancurkan Indonesia.
Ferry langsung jawab:
Agen itu orang dalam.
Mana ada orang di luar pagar kayak kita disebut agen. Insulting my intelligence.
Dan Prof. Rhenald Kasali menambahkan:
Yang namanya Soros itu business entity bukan political entity. Motifnya cari untung.
Dia itu seperti white hacker kalau lihat celah dia masuk.
Dia bukan mau jatuhkan rezim.
Dia warning bahwa kebijakan Anda salah.
Artinya:
Soros menyerang mata uang suatu negara bukan karena benci negara itu.
Tapi karena kebijakan negaranya sendiri yang menciptakan celah.
Pound sterling Inggris dihajar Soros.
Bank of England dibobol.
Bukan karena Inggris punya musuh tapi karena kebijakannya salah.
Dan kalau Indonesia diserang spekulan bukan karena ada agen.
Tapi karena kebijakan kita sendiri yang menciptakan celah itu.
Dan ini diagnosa Ferry yang paling menohok:
Saat krisis Asia 1998 Thailand, Malaysia, Korea Selatan, Indonesia jatuh bersamaan.
Itu fenomena regional. Contagion effect.
Sekarang? Kita jatuh sendiri.
Currency Malaysia menguat terhadap dolar kita melemah.
Currency Korea menguat kita melemah.
Currency Thailand menguat kita melemah.
"Saat currency lain menguat terhadap dolar kita tetap melemah.
Berarti boroknya memang borok kita sendiri.
Bukan systemic risk. Unique risk.
Kita satu-satunya."
Dan ini lebih berbahaya dari 1998.
Karena di 98 kita jatuh bersama ASEAN dan bangkit bersama ASEAN. Sekarang kita jatuh sendiri. Dan harus bangkit sendiri. Tanpa momentum regional yang membantu.
Dan ini rantai kausalitas yang Ferry jelaskan:
Harga minyak sekarang 117 dolar per barel padahal asumsi APBN hanya 70 dolar.
Perang Iran tidak akan selesai dalam hitungan bulan.
Ferry yakin bisa 5 tahun ke depan.
Iran punya kepentingan menjaga harga minyak tinggi karena itu sumber devisa utamanya.
Setiap kenaikan 1 dolar per barel di atas asumsi APBN tambahan beban fiskal Rp6,7 triliun.
Selisih 47 dolar berarti tekanan ratusan triliun.
Lalu: beban subsidi melambung defisit melebar kepercayaan turun rupiah melemah biaya impor naik inflasi naik daya beli turun.
Dan April 2026 inflasi masih single digit.
Tapi Ferry yakin: Mei 2026 double digit.
Karena produsen sudah mulai beli bahan baku di harga minyak baru yang dua kali lipat dan belum di-pass through ke harga akhir. Sekarang sudah mulai dipass through.
Dan ini soal kabinet yang paling berani Ferry bilang:
"108 menteri dan wakil menteri tidak ada satu pun yang jelas orang-orangnya."
"Amerika cuma punya 16 menteri.
Negara kita yang income per kapitanya 1/20 Amerika punya 108.
Pemborosan yang sangat dahsyat."
"Beda sama zaman Soeharto.
Soeharto cuma lulus sekolah rakyat tapi yang diambil Sumitro Joyo Hadikusumo, Wijoyo Nitisastro, Sumarlin, Emil Salim.
Teknokrat semua.
Begitu kabinet Prabowo diumumkan
pasar langsung baca:
dolar mulai naik sistematis."
Ini bukan soal suka atau tidak suka orangnya.
Ini soal bagaimana pasar membaca sinyal dari komposisi kabinet.
Dan pasarnya sudah membaca hasilnya terlihat dari rupiah yang terus melemah sejak hari pertama kabinet diumumkan.
Dan ini soal kebijakan antimarket yang Ferry sebut:
Ojek online dipaksa komisi 8%.
Ferry langsung bilang: "Tukang ojek sendiri tidak setuju loh.
Mereka sadar kalau Gojek dan Grab kolaps 7 juta ojek online jadi pengangguran.
Tiap satu ojeker menghidupi tiga orang."
Danantara dibentuk untuk kelola aset ribuan triliun. Badan ekspor satu pintu dibentuk untuk atasi under invoicing.
Ferry bilang: "Ini kayak BPPC dulu Badan Penyangga dan Pemasaran Cengkeh. Akhirnya petani cengkeh di Manado kaing-kaing. Pohonnya pun akhirnya enggak ada."
Dan sekarang sudah terjadi:
buyers batu bara internasional
mulai pindah ke Australia.
Bukan karena Australia lebih murah.
Tapi karena tidak ada kepastian supply dari Indonesia. "Saya deal dengan government entity saya tidak tahu apakah mereka bisa commit."
TBS sawit petani sudah anjlok 20% baru beberapa hari setelah kebijakan ekspor satu pintu diumumkan.
Dan ini yang paling mengerikan dari analisis Ferry:
"Outlook 5 tahun ke depan saya: very grim."
"50% anggota Apindo:
tidak akan ekspansi 5 tahun ke depan.
68% anggota Apindo:
tidak akan rekrut karyawan 1 tahun ke depan."
Ini bukan ngarang.
Ini data langsung dari pelaku usaha di lapangan.
Dan recovery-nya tidak akan cepat seperti 98.
Di 98 ada IMF yang menolong.
Ada momentum regional.
Ada kepercayaan terhadap institusi.
Sekarang: "Saya yakin IMF pun tidak mau membantu kita."
Kenapa? Karena masalah kita bukan masalah likuiditas jangka pendek yang bisa diselesaikan dengan pinjaman darurat.
Masalah kita adalah structural problem dan institutional problem yang jauh lebih sulit dan jauh lebih lama untuk diselesaikan.
Dan Prof. Rhenald Kasali menutup dengan satu kalimat yang paling tepat:
"Ancaman terbesar dari suatu turbulensi bukanlah turbulensi itu sendiri tetapi adalah denial. Penyangkalan."
Dan itulah yang sedang terjadi. Prabowo bilang orang desa tidak pakai dolar.
Purbaya bilang fundamental kuat.
Perry mengganti definisi stabilitas.
The Economist disebut bego.
Sementara IHSG turun 22% sepanjang tahun berjalan. Rupiah di Rp17.700. Investor kabur. 40 triliun keluar dari pasar saham hanya di Q1.
Bukan karena dia mau Indonesia hancur.
Tapi karena dia melihat data yang sama yang dilihat oleh seluruh investor asing yang sedang keluar dari pasar Indonesia dan tidak ada sinyal dari pemerintah bahwa ada yang akan berubah.
"Pemerintah ini asik membangun mimpi tapi tidak membangun ekonomi."
Dan rakyat yang tidak pernah pegang dolar yang makan tempe dari kedelai impor, yang isi gas dari tabung yang harganya naik, yang cari kerja di pasar yang sudah mulai menutup lowongan mereka yang menanggung semua tagihannya.
Kemandirian. Sovereignity.
Buat negara, ataupun individu. Jangan korbankan untuk hidup yang lebih mudah.
Dunia tidak bekerja demikian. Tanpa kemandirian, kita tidak tahu kepentingan utama.
Pak Putin
π·πΊ Putin: "By now, everyone should understand what sovereignty really means β and the price paid by those who gave it up for an easier life. The world doesn't work that way. Without sovereignty, you can't defend your core interests."
Prabowo ini bikin semua presiden pendahulunya jadinya terlihat bener kerjanya.
SBY itu nilainya 3/10, Jokowi 2/10 tapi Prabowo ini beneran 0/10. Nepotismenya gila. Temennya ditunjuk jadi Menhan yang ngurusin koperasi. Ajudannya dijadiiin Seskab. Adiknya dikasih jabatan multifungsi. Ponakannya dikasih Deputi BI.
Ekonomi lagi ambruk-ambruknya tapi presidennya macem gini. Hancur total.
There are 56 ethnicities in Chinaβand 55 are getting squashed. A new law passed by the Chinese legislature is a grim milestone in the Communist Partyβs harder-line approach to ethnic politics https://t.co/ZCyRIwL1Us