Bbrp tahun terakhir, gw berusaha melatih emotional intelligence dgn belajar mengendalikan reaksi sendiri. Gk semua perkataan hrs dibalas, gak semua situasi hrs dimenangkan dan gk semua emosi hrs diluapkan. Gk terpancing dan gak asal bicara saat emosi, baik di rl maupun di sosmed.
it sucks when you keep trying to explain yourself but it never gets through... likeee being heard ≠ being understood and sometimes thats the whole fucking problem
sebelum nginjak 20s, sempet mikir 'i can finally do things that i cant do waktu umur belasan tahun" but i was wrong🥲 kena covid, ga lama kemudian si onoh naik jd presiden.. i lost too much.
aku punya cinta yang sangat sangat banyaaaaaaaak, mungkin aku pernah bilang aku menyesal pernah cinta ini itu tapi… aslinya tidak… kamu boleh ambil cintaku, karena mungkin kamu butuh & tidak perlu dikembalikan! aku masih punya banyak cintaaaaaaaaaa <3
Salah satu bentuk self-awareness adalah sadar kalau kita juga bisa jadi orang yang nyebelin, bisa salah, bahkan jadi villain in someone else’s story.
Gak semua hal harus dibela. Sometimes, we just need to accept that we’re not perfect and learn to be better. That’s it.
caraku menyelamatkan diriku adalah dengan menerima bahwa aku jg bisa salah, bisa jahat, bisa nyebelin. I accept that I can be villain too in someone else's story. Abis itu lebih tenang, bodoamat, dan fokus.
Jujur gue tuh sedih sih sama freshgraduate era prabs sekarang. Mereka nyari kerja susah bgt, mana saingannya tuh bukan dominan sesama fresh graduate tapi pekerja senior level yg udah pengalaman 5-10 th yg di layoff. Apalagi kalo interviewnya FGD, apa ga jiper itu fresh graduate