“With these bullets fired by the occupation army from behind the yellow line for amusement, dozens have been killed and injured inside their tents:
The child Ahmed was killed while having breakfast with his parents blood burst from his head and mouth.
Fatima was killed while breastfeeding her baby.
Hala was killed while writing her school lessons.
And many others.”
Nun Ngentut Nun Nai.
Sebuah ungkapan dalam bahasa Sasak yang, pada pandangan pertama, terdengar jenaka—bahkan cenderung kasar—bagi mereka yang belum akrab dengannya. Namun di balik kesederhanaan dan kelugasannya, tersembunyi kebijaksanaan lama yang lahir dari pengalaman hidup
Pemeriksaan sebagai Tersangka
Bismillāhirraḥmānirraḥīm.
Saya, dr Tifa, sekali lagi menegaskan bahwa saya akan menghormati proses hukum yang sedang berjalan. Penetapan kami sebagai tersangka bukanlah suatu pernyataan bahwa kami bersalah. Pengadilan yang jujur akan membuktikan bahwa kami berada di jalur yg benar.
InsyaAllah sesuai undangan pemeriksaan hari Kamis, 13 November 2025 saya akan hadir, kooperatif, dan akan menjalani setiap langkah dengan tenang, tegar dan tanpa rasa takut. Saya yakin atas apa yg kami lakukan ini.
Perjuangan kami ini bukan perjuangan menyerang individu atau orang tertentu. Ini tentang kejujuran, transparansi, dan hak masyarakat untuk mendapatkan informasi yang jelas. Apalagi jika itu informasi tentang pemimpin mereka.
Manusia bisa menilai, media bisa memberitakan, tetapi Allah Maha Benar yang akan memutuskan. Jika saya berada di pihak yang benar, maka tidak ada ujian yang sia-sia.
Saya akan terus mengabdi melalui ilmu dan edukasi bagi negeri ini, karena cinta saya pada tanah air tidak hilang hanya karena tekanan dan ancaman.
Doakan yang terbaik. Mari bergerak bersama kami dengan cara kita yg elegan dan terbaik.
Hasbunallah wanikmal wakil nikmal maula wanikman nasir ("Cukuplah Allah (menjadi penolong) kami, dan Dia sebaik-baiknya pelindung dan sebaik-baik penolong").
Bagi masyarakat yang cinta kepada bangsa ini, cinta kepada kebenaran dan keadilan, silakan hadir membersamai kami, RRT - Roy Rismon Tifa, di POLDA Metro Jaya.
Tadi pagi mendarat dibandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid lombok langsung ke PLN Selong Lombok Timur.
Tadi mau dijemput driver yg biasa jemput saya dari mataram, saya bilang gak usah, saya naik taxi aja ke PLN nya.
Pas mampir ke counter Taxi resmi. Kaget liat harganya Rp. 450.000 (Avanza) Sempat saya tanya lagi, beneran segini? Mereka bilang iya memang segitu.
Kok gak ganti kecounter yang lain? Kalau sering ke lombok pasti tau gimana tuh sales taxi berisik nawarin taxinya selepas pintu keluar. Riweuh. Jadi udah males sendiri.
Saya sih gak masalah bayar segitu. Kan biaya perjalanan saya di tanggung kantor. Tapi Jarak 40-48 km untuk Rp. 450.000 menurut Saya sih kemahalan banget. Kan bukan peak season. Kalau cek di aplikasi Grab cuma sekitar 216.000 - 271.500 an.
Tapi ya udah lah. Mungkin ada alasan lain kenapa jadi mahal.
Harapan Saya, Mudah mudahan kedepannya transportasinya jadi lebih murah. Biar Wisatawannya jadi lebih banyak.