Biasanya nih di Muktamar NU, suasananya bukan cuma hangat oleh silaturahim warga nahdliyin, membahas hukum agama, keorganisasian, keumatan, hingga kebangsaan. Tapi, juga riuh oleh geliat ekonomi warga di sekitar lokasi.
Coba deh tengok di sekeliling arena Muktamar. Ada banyak sekali warga yang ikut ngalap berkah lewat beragam usaha dan karya.
#ansorbanser #muktamar #nahdlatululama #jombang
Direktur Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid, menilai partai politik telah lupa bahwa mereka adalah perpanjangan suara rakyat.
“Partai politik sudah tidak bisa lagi, deal-nya dengan sesama partai politik saja; sekarang harus deal dengan rakyat,” kata Alissa, saat menjawab pertanyaan wartawan dalam konferensi pers Temu Nasional Jaringan Gusdurian di Asrama Haji, Pondok Gede, Jakarta Timur, Ahad (31/8/2025).
Kini, kata Alissa, saatnya partai politik melakukan penyelarasan ulang sehingga keputusan-keputusan yang dihasilkan sesuai dengan aspirasi rakyat.
——————————————————
Baca berita lainnya di https://t.co/UtIVjcxziF
#nuonlinenews #nuonline #berita #ojol #polisi #september #nuonlinenewsseptember2025 #alissa #alissawahid #gusdurian #gusdur #partaipolitik
"DPR Tak Mungkin Mewakili Anda"
Percayalah, meski ribuan orang berdemo, DPR RI dan juga DPRD tetap tidak akan mewakili kepentingan Anda sebagai rakyat. Mereka merasa tak punya kewajiban mewakili Anda karena bebanyakan dari mereka itu terpilih bukan karena Anda pilih, tapi karena telah "membeli" suara Anda.
Ngaku saja deh buat Anda yang kemarin milih calegnya karena dibayar. Ngaku saja. Dan berapa banyak orang di sekitar Anda yang memilih karena dikasih uang seperti itu?
Lalu setelah Anda memilih mereka karena uang, Anda sekarang berharap diwakili oleh mereka? Anda pasti bercanda.
Kemudian setelah Anda menjual suara Anda dan tidak memilih mereka dengan hati nurani, Anda sekarang berharap mereka mau bekerja untuk Anda? Anda pasti sedang melucu.
Dengan sudah menerima uang saat pemilu, berarti suara Anda sudah dibeli. Dan mereka yang terpilih, tak lagi merasa bahwa mereka harus mewakili Anda. Mereka sekarang mewakili diri sendiri untuk mengembalikan modal mereka yang buat beli suara Anda itu. Plus cari untung tentunya.
Sekarang hasilnya bagaimana? Sudah setahun anggota dewan yang terhormat itu bekerja, apa yang telah mereka lakukan untuk Anda? Coba perhatikan caleg yang Anda pilih kemarin, dia sudah melakukan apa terkait nasib Anda?
Saya punya keyakinan, mereka tak akan peduli sama Anda. Yang mereka pedulikan adalah mendapatkan income sebesar-besarnya. Yang legal dimaksimalkan, yang ilegal pun akan mereka upayakan. Karena tujuannya cuma satu: uang.
Baru nanti ketika pemilu lagi, baru mereka kembali memikirkan Anda dan kasih uang Anda lagi. Dan celakanya, Anda nanti akan tetap pilih mereka lagi karena mereka kasih uang lagi. Anda seperti keledai yang terus terperosok di lubang yang itu-itu saja.
Pandji Pragiwaksono pernah bilang bahwa sumber masalah demokrasi di negara kita adalah pemilih yang tolol. Itulah kenapa kebodohan rakyat terus "dijaga" supaya mereka tetap bodoh dan mudah dikelabui.
Sekarang, Anda mau berharap apa dari pilihan Anda yang maju caleg karena mereka nggak punya kerjaan selain jadi anggota dewan? Mereka jadi caleg memang cari kerjaan. Sama sekali bukan pengabdian.
Percayalah, mereka tak akan mewakili penderitaan rakyat kecil seperti Anda.
Mojokerto, 29 Agustus 2025
Hasyim Muhammad
#serbaserbi
Kesederhanaan Presiden Gus Dur
Ajudan Gus Dur @PSambadha pernah bercerita bahwa Gus Dur hanya punya dua jas. Itu pun bukan karya desainer ternama. Waktu mau foto resmi, jasnya kusut. Petugas di istana kelimpungan karena harus cari setrika terlebih dahulu 😂
Merdeka berjilbab itu hasil perjuangan yg tdk mudah. Dulu orang berjilbab itu diejek sbg. anak madrenges, anak madrasah (lulusan sekolah agama di kampung) yg bodoh dan terbelakang padahal mereka cerdas2.
Di era Orde Baru, saat Daoed Joesoef menjadi Menteri Dikbud periode 1978-1983, bahkan pernah ada larangan anak-anak masuk sekolah memakai jilbab. Protes-protes bermunculan dari lapisan masyarakat.
Barulah di era reformasi memakai jilbab menjadi bagian dari kemerdekaan berkeyakinan. Para ibu profesor di kampus2, ibu pejabat atau isteri pejabat banyak yg bejilbab saat berkantor.
Bahkan di POLRI, polwan pun boleh berjilbab dlm tugas di lapangan. Bahkan pd era Kapolri Soetarman model pakaian jilbab polwan disahkan secara resmi dan kita banyak melihat polwan berjilbab di berbagai tempat.
Meski masalah jilbab itu masalah biasa tetapi masih saja ada yang menganggap pemakainya sebagai ektremis-radikal. Sama halnya, jika ada bapak pejabat, rektor, profesor membawa sajadah dan memakai baju koko serta bersongkok lalu ada yg menuduh radikal-ektremis dan anti Pancasila dan anti NKRI.
Padahal mereka adalah pecinta dan pembela Pancasila dan NKRI yang sedang menerapkan kesalihan atau kebaikan menurut keyakinannya tanpa melanggar konstitusi dan hukum. Banyak yang tidak bisa membedakan antara ekstremis-radikal dan orang salih yg taat beragama.
Di Indonesia merdeka berdasar konstitusi ini, tidak boleh ada kewajiban maupun larangan terhadap orang mau berjilbab atau tidak. Jilbab tdk diwajibkan tetapi juga tak boleh dilarang seperti halnya kita tidak boleh melarang orang memakai rok, jas, atau baju batik.
Merdeka🇮🇩
Mosok Ganjar Sering nginep Rumah Warga ??
Oleh : Gus Raharjo
Tuanku Rakyat kata ganjar dalam setiap Kesempatan bicara di Depan publik, tagline itu Berat lho Pak …
Jangan main-main dengan Kata Rakyat jika tidak bisa menggelinding Bersama Rakayat .
Ketika seorang kawan memberitahu soal kebiasaan Ganjar menginap di rumah warga, aku adalah salah satu orang yang nggak mudah percaya begitu saja. Mana mungkin seorang pejabat publik yang biasa hidup nyaman dengan beragam fasilitas, mau-maunya tidur di rumah warga biasa.
Kalau pun itu beneran terjadi, paling-paling cuma pencitraan biar dikira dekat dengan rakyat. Itu pun mungkin paling cuma sekali, tapi beritanya saja yang dibikin bombastis, diekspos banyak media. Begitulah kira-kira pikiranku waktu itu.
Namun anehnya, setelah aku menggali sendiri tentang kebenaran informasi itu, aku justru dibuat makin geleng-geleng kepala. Bayangkan saja, ternyata Ganjar sudah terbiasa menginap di rumah-rumah warga sejak sekitar tahun 2006, saat menjadi DPR RI. Ia berberapa kali menginap di tempat warga di dapilnya sendiri. Kebiasaan itu lalu Ganjar teruskan saat menjadi gubernur Jateng dua periode.
Pada tahap inilah aku mulai meragukan pikiranku sendiri. Kalau disebut pencitraan, masa kebiasaan itu sudah Ganjar lakukan selama hampir 20 tahun? Memang benar setiap orang bisa berpura-pura, namun gestur, dan rasa nyaman tetap tidak bisa dibohongi. Apalagi sampai puluhan tahun. Setelah lama berpikir, barulah aku menyimpulkan: mungkin itulah Ganjar, seseorang yang datang dari rakyat biasa, maka selamanya ia tidak akan melupakan akarnya, akar yang membesarkan dirinya.
Baru sekarang aku melihat pemimpin yang sedekat ini dengan masyarakat, bersedia menapaki lantai rumah warganya. Bersama rakyat, Ganjar seperti tanpa sekat. Menyatu. Gelesotan bareng, bercanda bareng, sampai pijat-pijatan bareng dengan warga.
Saat menjabat gubernur, Ganjar memang punya program Rembuk Desa. Lewat program itu ia akan menginap di rumah warga di desa-desa di Jawa tengah. Pada kesempatan itulah Ganjar bersama warga duduk melingkar di atas tikar, lalu mempersilakan warga, siapapun itu, untuk menyampaikan aspirasnya soal apapun.
Banyak sekali masalah yang sudah diselesaikan dari proses rembuk desa. Salah satunya adalah pengentasan masalah kekeringan di Wonogiri dengan dibangunkan embung. Kelak dari kebiasaan semacam inilah Ganjar melahirkan satu prinsip yang terus menjadi pegangan di jalan politiknya: tuanku rakyat.
Dengan menginap di rumah warga, Ganjar bukan hanya melihat langsung kondisi mereka, namun juga ikut merasakan apa yang dialaminya. Ia menghirup udara yang dihirup warganya setiap hari, meminum air yang sama, dan merasakan setiap persoalan yang dialam warganya. Mulai dari hal kecil seperti tidur dengan obat nyamuk bakar untuk mengusir nyamuk, sampai persoalan besar bagaimana sulitnya membiayai sekolah anaknya.
Persoalan-persoalan itulah yang kemudian Ganjar selesaikan melalui kebijakan-kebijakan di pemerintahan. Kebijakan yang dihasilnya atas pengalaman bersentuhan langsung dengan masyarakat. Seperti misalnya menggratiskan biaya sekolah. Tentu saja ada kalanya kebijakan Ganjar menuai kritik, namun jika terjadi permasalahan di masyarakat, ia tidak pernah absen.
Aku tidak tahu pasti, ketika Ganjar menginap di rumah warga, apakah dia harus melepas semua ego di kepalanya, melupakan semua fasilitas yang melekat dalam nama besarnya, atau tidak perlu susah payah melakukan semua itu karena pada dasarnya dia memang berasal dari rakyat biasa.
Ganjar kpada para penyusup 02 yg hadir di acara dan mengacung2kan 2 jari
"Anda kami bolehkan untuk nonton..mudah-mudahan anda juga mampu memberi hiburan kpada kita, krena kami membawa pesan damai"
Kasih selow...mungkin dia utusan yg lg ada misi dari jinjingannya
Suasana saat Gus Dur wafat 14 tahun yang lalu. Bangsa Indonesia berduka karena kehilangan seorang pejuang kemanusiaan, guru bangsa, bapak demokrasi Indonesia.
Bagaimana perasaanmu waktu pertama kali mendengar kabar Gus Dur meninggal?
#WafatGusDur