Hasan Al Bashri berkata,
*إذا رأيت الرجل ينافس في الدنيا فنافسه في الإخرة *
"Apabila engkau melihat seorang yang bersaing dalam dunia, maka saingi dia dalam masalah akherat".
(Zawaid Zuhud: 1544)
Di zaman modern, hanya 2 negara saja yang berhasil menang melawan wabah preman fasis, yaitu China dan El Salvador. Ditemukan bahwa hanya ada dua opsi yang efektif:
1. Penangkapan massal
2. Perbudakan massal
China memilih opsi 1 + pengusiran, sedangkan El Salvador yang miskin tak punya uang memilih opsi 2. Sejauh ini kedua metode ini berhasil dengan cukup baik.
Sepertinya metode yang lebih straightforward, yaitu pembantaian massal (genosida) biomassa preman nasional, cenderung malah tidak terlalu efektif karena berbagai efek sekunder seperti ledakan kekerasan sosial.
Dalam sejarah, pembantaian massal biomassa populasi preman hanya dapat berhasil pada periode kejadian luar biasa, misalnya pada Perang Dunia II, yaitu ketika jutaan subpopulasi fasis Jerman dan Jepang dalam jumlah jutaan ditipu Hitler dan Tojo untuk mendaftar jadi tentara garis depan, berangkat ke medan perang, kemudian dibantai massal dalam jumlah oleh pasukan Sekutu sebagai kombatan perang yang sah.
Secara alami, populasi Jerman dan Jepang yang mengandung gen-gen psikologi buas dan fasis pun punah dalam beberapa tahun saja karena sudah dibantai massal oleh tentara Sekutu, menyisakan populasi yang tak memiliki gen-gen jahat dan bodoh itu.
Hari ini Jerman dan terutama Jepang adalah negara yang bukan hanya penuh dengan pabrik dan teknologi tinggi dan hukum, melainkan juga demokratis, teratur, dan berkebudayaan anime.
Otherwise, tanpa kejadian luar biasa seperti PD II atau PD III, opsi pembantaian massal populasi preman hampir tidak mungkin berhasil dengan lancar dan teratur, dan jelas mustahil diterapkan sebagai sebuah program pemerintah.
Dari sisi teori ekonomi, premanisme adalah unik karena spesies preman itu sepenuhnya parasitik, seperti tumbuhan benalu penghisap.
Preman tidak menghasilkan tenaga buruh, modal, ataupun konsumsi berarti, melainkan hanya bisa merampok dan memakan seperti benalu yang menyedot pohon.
Akibatnya, apabila pada suatu hari biomassa premanisme nasional dilenyapkan secara fisik dan masall, apabila populasi benalunya ditumpas, pertumbuhan ekonomi akan menjadi semakin sehat dan lancar tanpa gaya gesek dan parasitisme yang tidak perlu.
Kalau begitu pertanyaan menjadi, bagaimanakah cara melenyapkan wabah penyakit parasit ini dari populasi Indonesia secara teratur dan tidak chaos.
Secara umum opsi paling bermoral untuk mewujudkan ini adalah opsi no. 1, yaitu penangkapan massal dalam jumlah ratusan ribu preman untuk kemudian, idk, direhabilitasi perlahan kali ya. China sendiri menangkap 1.7 juta orang preman tak berseragam dan 4 juta orang preman berseragam (pejabat). Kekerasan dan teror dan pembunuhan bisa diminimalisir kalau premannya hanya ditangkap, bukannya dibunuh.
Hari ini China menjadi negara maju yang dipenuhi pabrik.
Kejelekan terbesar dari metode ini adalah mahal. Tiap preman yang dipenjara adalah preman yang harus diberi makan MBG.
Di China ada preman yang ditangkap, ada preman yang diusir. Preman-preman yang diusir dari China, sayangnya, kemudian bermigrasi ke Kamboja dan Myanmar seperti migrasi wabah hama tikus lalu mulai berkembang biak massal lagi di sana. Mereka masih kerap melukai penduduk China lewat penipuan online, penculik, perdagangan manusia, dan sebagainya.
Akhirnya China terpaksa rutin melakukan operasi penangkapan unilateral preman di Myanmar, dengan preman yang ditangkap berjumlah 75.000 orang pada 2023 saja. Kegagalan ini jadi alasan mengapa Pengusiran Massal tidak gw masukkan ke kedua opsi yang available.
Sementara itu, perbudakan massal biomassa preman, seperti di El Salvador, secara teori lebih murah, tetapi menimbulkan berbagai masalah ekonomi yang kerap ditemui negara-negara perbudakan.
Misal, apabila 1 juta preman dijadikan budak dan disuruh kerja di pabrik atau kebun sawit atau tambang, kita tidak perlu berinovasi atau mendidik tenaga kerja yang sudah ada. Untuk apa menggaji buruh kalau kita tinggal memeras budak sampai tewas? Akibatnya negara dan rakyat tidak perlu berusaha, tidak perlu berpikir, dan akhirnya tidak akan maju.
Inilah mengapa opsi 2 (perbudakan) kurang optimal in the long term, meski berhasil in the short term.
Pertanyaan: Gimana kalau seseorang itu bingung sama arah hidup nya, dia gak tau bakat apa, gatau minat apa? tapi dia gak punya privilege untuk nyoba banyak hal.
Ini jawaban nya: 👇
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
ini kronologinya gini kah?
1. salah taxi (bikin kereta berenti)
2. salah KAI (error terkait traffic signs)
KARENA HAL SEPELE TAPI NYAWA ORANG TARUHANNYA!!!!
kalo udh urusan nyawa orang banyaK zero tolerance sih!!