no offense ya...
tapi di umur sekarang kita harusnya lebih takut ga punya skill, value, dan tujuan hidup daripada ga punya pasangan. relationship bukan jaminan hidup bakal selalu aman.
pas hidup lagi di titik terendah, yang bikin kita tetap survive bukan cuma cinta, tapi kemampuan, mindset, relasi, dan value yang kita bangun dalam diri sendiri.
manusia bisa berubah, perasaan bisa pudar, dan keadaan bisa berbalik kapan aja. makanya investasi terbaik tetap career, networking, dan self value.
udah curiga, ortu-ortu yg sok keras ke anak tuh kebanyakan melimpahkah parameter keberhasilan dia sendiri ke anak. aslinya ga peduli "proses" si anak. terlebih di masyarakat yg patriarkis, suami abai, anak jd bumper & aset terakhir yg kudu punya nilai (bisa dipamerin jg kan)
siapa tau ada yg sama kayak gue sepanjang hidup gampang stres dan anxious tiap ngelakuin sesuatu, bikin keputusan, atau sering anxious soal masa depan. gue nemu saran bagus di threads buat ngubah pov biar ga stres di semua hal, lg coba praktekin pelan2
just an advice
trauma ini meninggalkan kesan long term. even kamu udah bahagia, ada certain things will always trigger you. sometimes lagi ketawa, lagi seru2nya, tiba2 one small thing can bring back memories that you worked so hard to forget.
karna itu jangan sesekali berbuat jahat sama orang lain, you never know how hard they’re struggling just to feel normal again, survive each day and libe with the scars you left. tetap berbuat baik, jangan jadi penyebab orang lain meninggal dan give up karna kita.
rasa aman ini juga membantuku menyaring orang2 yg aman dan tidak di kemudian hari.
aku bisa lebih mudah mengenali gaslighting.
bisa lebih mudah mendeteksi manipulasi.
bisa lebih tegas dalam memiliki boundary.
bisa punya sistem pertahanan diri yang baik dan mandiri.
disini resiko jadi lebih luas.
hanya krn aku merasa "nyaman", kupikir itu "aman".
hanya krn aku merasa "disayang", kupikir itu "aman".
hanya krn aku merasa "didengarkan", kupikir itu "aman".
...dan itu yg ditawarkan groomers, pengedar narkotika, toxic & manipulative bf/gf.
Beneran gue jg all or nothing type of person kok. Tp kalo gue ngerasa lo off sm gue ya yaudah that's that. Gue gapernah nyesel sama sekali baik sm org di awal. Yg penting intention gue bagus sm lo, kalo intention lo yg gabagus ya urusan lo
Salah satu tanda kamu sudah benar-benar lelah:
kamu nggak marah,
nggak balas,
nggak debat.
Kamu cuma pergi.
Karena kamu sadar,
nggak semua orang mau memahami.
Sebagian hanya mau dimengerti.
yakan.. emang yang bener tuh gini, bukannya jadi mirroring treatment karena orang lain ngasihnya setengah (can relate). i’ll give my all when i love someone supaya nanti ga ada penyesalan dan dipenuhi “what if” ketika udah gak bareng cause i already gave them the best of me
@persephoet The real cinta tak bersyarat itu cinta anak ke orang tuanya, we love them dearly until they broke ourheart karena kita ga bisa memenuhi tuntutan2 mereka ke kita, kenapa nakal banget? Kenapa ga bisa kaya anak tetangga?
Dan kalo kita speak up kitanya yang durhaka.
harsh truth dunia tuh gini ya... bahkan hubungan orang tua ke anak tuh masih banyak yang cintanya bersyarat kayak gini. tapi setiap ada anak yang punya emotional gap ke orang tuanya atau jadi distant ke ortunya pas dewasa tetep salah anaknya. padahal ya itu,
Ortu tuh suka pura-pura gak tau (apa beneran gak tau??) bahwa karakter anak-anak ketika sedang bersama keluarga itu BISA BEDA BANGET dengan ketika mereka di antara teman-teman dan atau guru-gurunya di sekolah.
Ada alasannya kenapa kalian tuh diundang untuk duduk sejenak bersama guru untuk ambil rapor dan bukan dateng-ambil-pergi macam ngambil karcis parkir. Dengarkan baik-baik itu laporan guru-gurunya tentang gimana karakter dan kehidupan sosial anakmu di sekolah karena sejatinya itu penting BANGET untuk kehidupannya kelak.
Dikiranya naik karir/nambah koneksi/narik investor pas kerja nanti cukup liat nilainya doang apa gimana sih? 😆