@basebuku Lagian tujuan orang baca buku itu beda-beda. Ga bisa disamain. Yang baca buku self-imp biasanya lagi di fase terpuruk/pengen jadi lebih baik. Meanwhile yg baca buku fiksi butuh hiburan.
@basebuku I personally think majority of self-improvement books is shit bruh. Not dragging anything, tapi liat aja dari background authornya, isinya, dll. Sebagian besar hampir sama. Lagi pula buku self-improvement itu percuma kalau cuma dibaca sekali doang (apalagi ga diterapin)
Kemarin ada satu coffee shop yang bikin campaign "NGENTOT", katanya singkatan "Ngenal Total".
Menu kopinya dikasih nama-nama cewek.
Jadi pas barista nanya "mau pesan apa?", pelanggan jawab "mau pesan Nadia."
Lucu? Kreatif? Nggak sama sekali. Ini pelecehan yang dikemas jadi marketing.
Seolah-olah harga diri perempuan bisa dibeli seharga kopi.
Yang bikin gue lebih kesel: "permintaan maaf" mereka kayak ga niat gini.
Cuma tulisan doang. Ga ada video. Ga ada statement langsung dari yang bertanggung jawab.
Gak ada penjelasan kenapa ini bisa lolos. Gak ada akuntabilitas. Cuma damage control yang berasa template dan malah lanjut jualan.
How the fuck was this approved by the higher ups? Did they hire misogynist perverts?
Gw inget kasus EF yg mati diperkosa+dimasukin gagang cangkul di kemaluannya karena nolak berhubungan badan sama pacarnya masih rame, ada aja yg ngomong hal senada;
"Belum aja dicangkulin", "dicangkulin tau rasa", dsb
Seolah cewe emang gak boleh nolak, gak boleh punya suara sendiri.