Indonesian authorities used online disinformation campaigns to brand activists and journalists as "foreign agents" and silence dissent, sometimes leading to physical threats, Amnesty International said. https://t.co/sFoBm6AbMx
"Kalo tau bakal begini ga bakal gw dukung"
Ngga, lo bukan gatau, tapi bodoh aja. Dari program kerja, riwayat hidup, sampe debat pun lo harusnya udah bisa nilai.
Far too much in Indonesia depends on a thin-skinned former general with a sketchy human-rights record. Prabowo Subianto needs to hear some unpalatable truths https://t.co/8cvnt563TJ
Photo: Getty Images
Dulu paling inget pas kampanye pillress pak @aniesbaswedan pernah bilang:
kelas menengah adalah kelompok yang sering "terlupakan" oleh kebijakan sosial, krna ga dapet bantuan atau tunjangan Dari pemerintah, padahal mereka rentan terhadap gejolak ekonomi
Dan pak anies memaparkan ide - ide nya untuk mendukung kelas menengah ini,
tapi Yaa sayang yang menang yg joget-joget 😌
BREAKING: Seorang siswa SMK di Kudus bernama Muhammad Rafif Arsya Maulidi menulis surat terbuka kepada Presiden Prabowo, menolak jatah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk dirinya dan meminta anggaran tersebut (sekitar Rp6,75 juta untuk 1,5 tahun) dialihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru-guru yang kesejahteraannya masih memprihatinkan.
Ia berargumen bahwa guru jauh lebih berperan membentuk generasi muda daripada program makan gratis, dan suratnya yang diunggah di Instagram menjadi viral.
Reza Pahlavi fell for a prank call from Russian comedians Vovan and Lexus, who pretended to be German officials - with one identifying himself as "Adolf" and dressed to resemble Adolf Hitler
@worksfess JANGAN BUNUH DIRI, KAK, 2026 INDONESIA TENGGELAM DAN KITA SEMUA AKAN MATI. DESEMBER JAKARTA BANJIR KARENA TAMBANG BOGOR, JANUARI JAWA PUNAH, INDONESIA TENGGELAM. BUNUH DIRI KARENA PUTUS ASA ITU DOSA, TAPI MATI KARENA BENCANA JADI TANGGUNG JAWAB PEMERINTAH DI AKHIRAT. DONT DIE!
Fenomena Sistem Setoran dapat menjelaskan mengapa hukuman Neraka bisa sangat sadis.
Ketika kamu terlanjur korupsi, selalu ada jalan keluar: mengaku saja.
Palingan dipenjara 2 tahun. Toh kamu memang pantas dihukum.
Tapi kamu malah takut mengaku.
Kamu terlalu pengecut untuk mengaku "betul, saya melakukan pemalakan", dan (sepantasnya) dipecat dan dicibir oleh lingkunganmu.
Kamu terlalu sombong untuk menerima konsekuensi meninggalkan karir dan status kerenmu saat ini sebagai "pejabat".
Malahan kamu lanjut merampok lagi. Agar tidak ditangkap.
Dosamu semakin besar dan bertumpuk. Ancaman penjaranya semakin besar.
Bahkan yang sekarang terancam dipenjara bukan hanya kamu, melainkan seluruh anak buah kamu, dan seluruh suami, istri, anak, cucu, dan ipar kalian.
Semakin lama kamu lanjut, semakin besar kerusakan mengerikan yang kamu buat di muka bumi.
Akhirnya sampai di suatu titik ketika kamu merebut puncak kekuasaan, dengan segala cara, hanya agar kamu tidak ditangkap dan diseret.
Segala cara kamu lakukan. Tirani, penembakan, penculikan, pembantaian, penghancuran potensi ekonomi. Hanya demi melindungi posisimu dan posisi anak buahmu.
Semakin kamu berusaha menutupi kejahatanmu, semakin Bubble kejahatanmu membesar.
Bubblenya cepat atau lambat akan meletus. Kamu memilih "lambat", sehingga bubblenya tumbuh dengan sangat luar biasa besar.
Kemudian bubblenya meletus dengan sangat dahsyat, mengoyak seluruh negara dan ratusan juta orang di dalamnya dengan mengerikan.
Kemudian kamu mati, dan ternyata kerusakan yang kamu akibatkan tidak selesai. Muka bumi masih rusak dan busuk, dan semakin rusak, karena perbuatan kamu.
Dosa jariyah. Kamu sudah dikubur dan masih farming dosa berskala nasional.
Kemudian kamu jatuh ke dasar neraka.
Music is political.
Fashion is political.
Food is political.
Language is political.
Love is political.
Silence is political.
Bodies are political.
Borders are political.
Art is political.
Work is political.
Rest is political.
Dreams are political.
Education is political.
Technology is political.
Money is political.
Faith is political.
Fear is political.
Joy is political.
Birth is political.
Death is political.
Existing is political.
Breathing is political.
Health is political.
Water is political.
Land is political.
Housing is political.
Safety is political.
Danger is political.
Peace is political.
War is political.
History is political.
Memory is political.
Forgetting is political.
Justice is political.
Punishment is political.
Freedom is political.
Prison is political.
Borders are political.
Migration is political.
Skin is political.
Hair is political.
Gender is political.
Desire is political.
Marriage is political.
Divorce is political.
Parenthood is political.
Childhood is political.
Youth is political.
Ageing is political.
Grief is political.
Healing is political.
Pleasure is political.
Pain is political.
Science is political.
Medicine is political.
Law is political.
Crime is political.
Power is political.
Corruption is political.
Truth is political.
Lies are political.
Secrets are political.
Speech is political.
Silence is political.
Voting is political.
Not voting is political.
Religion is political.
Atheism is political.
Climate is political.
Weather is political.
Time is political.
Space is political.
Art is political.
Entertainment is political.
Sports are political.
Games are political.
Internet is political.
Algorithms are political.
Censorship is political.
Expression is political.
Creation is political.
Destruction is political.
Noise is political.
Quiet is political.
Culture is political.
Tradition is political.
Change is political.
Revolution is political.
Compromise is political.
Hope is political.
Despair is political.
Work is political.
Unemployment is political.
Wealth is political.
Poverty is political.
Charity is political.
Greed is political.
Community is political.
Isolation is political.
Love is political.
Hate is political.
Everything is political.
Pop culture is political.