Narasumber bukan entitas yang statis. Mereka bisa berubah. Bisa menarik pernyataan. Bisa menyangkal juga. Dan perubahan itu tidak selalu berarti bahwa mereka sejak awal berbohong.
Ada banyak kemungkinan, bisa jadi
mengalami tekanan, mendapat ancaman hukum, mengalami intimidasi fisik atau digital, atau mungkin ada tawaran lain.
Karena itu, dalam jurnalisme atau dalam hal ini film dokumenter, perubahan sikap narasumber tidak otomatis dibaca sebagai bukti bahwa laporan sebelumnya salah, dan Papua baik-baik saja. Tetapi juga tidak boleh diabaikan begitu saja. Justru di situlah pentingnya verifikasi berlapis dan prinsip informed consent.
Narasumber adalah manusia yang berada dalam relasi kuasa. Semoga Mama Yasinta sehat selalu.
Btw, bahkan untuk tim yang bukan underdog pun, alasan seseorang untuk mulai menyukainya (di luar pencapaian prestasi) kadang absurd.
Di salah satu lingkaran pertemanan saya, ada kawan bernama Gembus, dia pendukung Chelsea. Dan alasan kenapa dulu dia mendukung Chelsea sangatlah konyol dan sepele: Karena waktu itu, di grup pertemanan kami, belum ada yang mendukung Chelsea.
“Arsenal wis ono, MU wis ono, Liverpool yo wis ono, sing ndukung Chelsea sopo?” tanya Gembus saat itu.
“Hurung ono, Mbus.”
“Yo wis, nek ngono aku tak ndukung Chelsea,” katanya. Sejak saat itu, kami mengenalnya sebagai seorang pendukung Chelsea.
Gembus mungkin tidak semilitan kawan-kawan yang lain, tidak serajin kami yang rutin menonton pertandingan. Namun, ia lumayan sering menyimak kabar soal Chelsea, dan sesekali, hasil pertandingan Chelsea dan peringkatnya. Kami juga tahu betul, ia sedih saat Chelsea kalah di final Liga Champions melawan Manchester United.
Sampai sekarang, dia masih mendukung Chelsea.
Saya membayangkan, pencariannya terhadap Chelsea seperti seorang lelaki yang dijodohkan dengan seorang perempuan, yang tidak ia kenal sebelumnya, yang tidak cantik tapi juga tidak jelek, yang ia tidak tahu bagaimana sifatnya, dan ia mau menikah dengannya dengan alasan “Ketoke saiki wayahe rabi”, lalu ia perlahan belajar untuk mencintainya, dan bisa.
Fun fact juga kalo banyakan buku2 tu bisa terbit lebih karena faktor perkoncoan dgn penerbit bukan karena isinya sesuai dgn value atau gak.
Award2 kesusastraan, film dll juga seringnya juga cuma ajang temen2 sesirkel saling coliin satu sama lain aja.
Aku masuk org yg menyarankan teman2 yg ingin blajar nulis utk tak mendekati penulis matang/mapan, terutama dlm pola yg personal, apalagi tradisional. Bukan nyalahkan yg mau belajar, tp krn berangkat dr PRADUGA BERSALAH bahwa penulis mapan yg ngajak "main ke rumah" adalah PEMANGSA
Budaya fans K-Pop ini tolonglah jangan dibawa ke F1. Driver itu bukan idol yang MESTI HARUS WAJIB KUDU dicitrakan MANUSIA SEMPURNA kayak idol K-Pop.
Jauh-jauh lo pada. Cari hobi yang lain gih.
@ManUtd Good result. Atleast this team using four back. And the youngster have red card. Good improvement. We need this youngster change to number 7 shirt asap.
NewJeans mudah diterima sama non-kpop listener karena musik mereka adalah antithesis dari k-pop itu sendiri. di saat k-pop makin formulatik yg dimana tiap detik mesti heboh gedebak gedebuk, mereka hadir dengan simply musik yang bagus aja. bahkan dari segi estetikpun juga begitu.
🚨 Staff at Carrington today were surprised to see Ruben Amorim and his coaching staff leave the training ground LAUGHING and JOKING. #MUFC [@ChrisWheelerDM]