🚨🎙️Joe Hart on Kai Havertz escaping a red card against Burnley, insists they’re doing to help Arsenal win the league:
“Listen, I’ve been in this game a long time as a player, now watching it closely and that challenge from Kai Havertz on the Burnley lad today is a stone-cold red card. Straight out of the IFAB Law 12 playbook: serious foul play.
You’re lunging in, studs showing high, minimal contact with the ball, endangering an opponent’s safety with excessive force. It’s reckless at best, dangerous and brutal at worst. The law is clear, ‘a tackle or challenge that endangers the safety of an opponent… must be sanctioned as serious foul play.’ VAR had a look and still bottled it. Yellow card? Come on.
If that was a Burnley player sliding into Saka or Ødegaard like that in the title run-in? Red card before he even hits the ground, three-game ban, headlines for days. But Arsenal? Nah, just a booking and carry on.
They’re doing everything, everything to help Arsenal win this league. Refs, VAR, the whole system. It’s not even subtle anymore. Big club protection on another level while teams like Burnley are fighting for their lives. How are we supposed to trust the integrity of the competition when decisions like this keep swinging one way?
Fans are fed up. Proper fans see it. This isn’t football anymore, it’s a scripted title charge. If Arsenal win it, a lot of people will have serious questions. Absolute shambles.”
Almarhummah adalah pelanggan di penitipan motor bapak ku, dan dia selalu nitipin motor beserta kuncinya karena udah langganan dari lama. Ini aku sama bapak lagi anter motornya pulang.
Ini Ibam, bicara sendiri agar Ririe terlindungi.
Betul, ketika belum jadi tersangka, saya dapat ancaman: buat pernyataan "mengarah ke atas" kalau tidak kasusnya "akan diperluas".
Saya tolak, ngga mau bohong & zalim.
Tiga minggu kemudian, saya jadi tersangka.
Saya tolak bukan untuk lindungi Nadiem, tapi karena memang ngga pernah ada arahan dari Nadiem ke saya agar pengadaannya jadi Chromebook semua.
Seperti yang terungkap dari 22x sidang, tidak ada sama sekali arahan dari atas seperti itu. Saya hanya diminta memberi masukan netral dan objektif sebagai konsultan.
Artinya, ketika menerima ancaman tersebut saya dihadapkan ke dua pilihan:
Berbohong mengarang cerita menuduh orang lain untuk menyelamatkan diri sendiri.
Atau, berpegang kepada integritas, kejujuran, dan kebenaran yang saya yakini, dan menolak untuk berbohong.
Dengan shalat istikharah dan kesadaran penuh akan risikonya, saya memilih jalan yang kedua: kejujuran.
Insya Allah selalu berpegang pada kejujuran akan berujung pada kebaikan untuk saya, Ririe, dan keluarga kecil kami. Kalau tidak di dunia, maka di akhirat kelak.
Lalu jawabannya apa ketika saya menolak untuk berbohong? "Oke, kami perluas.”
Saya tidak berdaya. Ya Allah, apa lagi yang bisa kami lakukan ketika dihadapkan pada pilihan seperti itu? Pegangan kami hanya prinsip integritas dan kejujuran.
Ketika konsekuensinya beberapa minggu kemudian saya dinyatakan tersangka, kami hanya bisa memperbanyak istighfar dan ikhtiar.
Kami jalani dan hormati proses hukum yang ada dengan tabah, kami berniat jelaskan di persidangan fakta-fakta yang membuat terang, kami masih percaya dengan hukum Indonesia.
Mungkin ngga banyak yang tahu, tapi Ririe istri saya adalah seorang sarjana dan magister hukum. Di Belanda dulu kami banting tulang nabung dan berhemat banyak, supaya bisa bayar uang kuliah S2 Ririe.
Dari Ririe, saya belajar banyak tentang hukum Indonesia, apa saja yang mungkin terjadi, dan bagaimana hukum kita tetap memungkinkan pembelaan yang efektif.
Baik, mari berjuang di persidangan, luruskan seluruh tuduhan. Satu persatu fakta di persidangan muncul dengan terang benderang, satu persatu tuduhan bisa kami bantah.
Sampai akhir rangkaian sidang, 57 orang saksi dihadirkan, tidak ada bukti saya menerima keuntungan dari perkara ini, tidak ada bukti masukan saya karena konflik kepentingan, tidak ada bukti saya mengarahkan.
Yang terungkap malah saya sebagai konsultan sudah menyarankan Chromebook diuji dulu, pejabat menolak pengujian dan memutus Chromebook, nama saya dicatut di SK, masukan saya dipelintir.
Kami merasa pembelaan hukum kami sudah maksimal, kebenaran sudah terungkap, tinggal menumpu harapan pada keadilan dan kebijaksanaan dari majelis hakim yang mulia, yang kami merasa sudah sangat objektif dan penuh kearifan sepanjang persidangan.
Namun, ketika JPU menyebutkan tuntutan 15 tahun penjara, denda Rp1 miliar, uang pengganti Rp16,9 miliar subsider 7,5 tahun penjara tambahan...
Ini titik kezaliman yang sangat terang benderang, tekanan kepentingan yang sangat kentara, saya memutuskan pembelaan saya tidak lagi bisa hanya di persidangan.
Besok saya akan sidang pembelaan (pleidoi) dan kami bersurat kepada Presiden @prabowo Subianto serta @KomisiIII DPR, untuk memohon perlindungan hukum dari kriminalisasi, ketidakadilan, intimidasi, serta pengkambinghitaman yang sudah sekentara ini.
Kami takut untuk bicara? Takut ada intimidasi lain? Itu risiko yang jelas, tapi kami tidak gentar. Tuntutan 22,5 tahun dan belasan miliar yang tidak mampu kami bayar mungkin dianggap akan membuat kami terdiam, tapi kami malah semakin berani untuk melawan kriminalisasi ini.
Mohon bantuan, dukungan, dan perlindungannya dari masyarakat Indonesia, dari pekerja kreatif dan pekerja pengetahuan, serta dari semua yang ingin bantu negara atau takut dizalimi negara.
Kami berjuang bukan untuk kami sendiri, tapi agar tidak ada lagi kriminalisasi dan ketakutan bagi mereka yang tulus mau bantu Indonesia. Kami masih percaya Indonesia bisa menjaga dan menghadirkan keadilan dalam kasus kami.
#intinyadeh kasus uang jemaat gereja ilang Rp28M ditipu pegawai BNI:
> 2019 Andi Hakim Febriansyah, Kepala Kantor Kas BNI Unit Aek Nabara Rantauprapat, nawarin produk fiktif "BNI Deposito Investment" dgn bunga tinggi 8% ke Suster Natalia, bendahara Credit Union Paroki
(1/4)
#intinyadeh kasus bayi hampir dibawa org lain di RS Hasan Sadikin Bandung:
> Bu Nina melahirkan 1 Apr di RS UNPAT
> 5 Apr bayi (Kahfi) dirujuk ke RS HS, masuk NICU
> 8 Apr bisa plg. Pagi mandiin, gantiin baju
> Pas nunggu, ada Ibu W, cerita bayinya alami paru2 bocor
(1/4)
@ezash Sebagai pemain console PS, sampai saat ini masih stuck di layout PS. Pilihan controller 3rd party juga terbatas. Pengen nyobain layout XBOX dari brand kaya Gulikit, 8BitDo, Gamesir juga belum ada yang natively compatible sama PS4/PS5.
"Harap mengacu kepada website IGRS resmi untuk rating gim"
Pertanyaannya, mengacu kemana? Cuma ada logo 18+ dan input kategori icon kategori aja udah dirasa cukup kah?
Bandingin sama PEGI/ESRB yg beneran ngasih detail gamenya tentang apa, yg jadi masalah dimana, itu baru RATING