“Harus provide 100%” itu sebenarnya maksudnya apa?
Sebagai bapak-bapak yang sudah menikah, saya melihat satu hal: kehidupan rumah tangga itu nggak sesederhana suami cari uang, istri tinggal menerima.
Memang, suami punya tanggung jawab menafkahi keluarga.
Tapi dalam praktiknya, kondisi setiap keluarga berbeda.
Ada suami yang gajinya Rp3 juta, tapi seluruh tenaganya diberikan untuk keluarga.
Ada juga yang penghasilannya besar, tapi pulang ke rumah tidak pernah punya waktu untuk istri dan anak.
Jadi kalau bicara “provide”, jangan cuma dihitung dari transferan.
Ada uang, waktu, tenaga, perhatian, dan tanggung jawab.
Hari ini suami bisa menghasilkan 100%.
Besok bisa kena PHK, sakit, atau bisnisnya jatuh.
Di situ baru terasa bahwa pernikahan bukan hubungan ATM dan pengguna ATM.
Pernikahan itu kerja sama.
Kalau suami sedang kuat, dia menopang keluarga.
Kalau suatu saat suami sedang jatuh, istri bisa ikut membantu sesuai kemampuannya.
Bukan berarti kewajiban suami hilang.
Tapi keluarga tidak ikut hancur hanya karena kondisi ekonomi sedang turun.
Dan buat yang belum menikah, jangan terlalu terpaku dengan konten:
“Cari laki-laki yang bisa provide 100%.”
Lebih penting cari laki-laki yang bertanggung jawab, mau bekerja keras, dan bisa diajak membangun kehidupan bersama.
Karena yang kita bangun dalam pernikahan bukan cuma siapa yang bayar berapa persen.
Tapi bagaimana dua orang menghadapi hidup bersama.
Cowok dituntut punya inisiatif, punya rencana, menentukan tempat, mengambil keputusan, dan sering kali membayar.
Kalo semua tanggung jawab relationship dibebankan ke satu pihak, itu bukan standar laki-laki. Itu pembagian kerja yang timpang, cuma dibungkus romantisasi.
justru pasangan yg beneran anti patriarki biasanya nggak percaya konsep "cowok harus provide". keduanya ikut kontribusi, cari duit, urus rumah, bahkan punya suara yg sama. jadi aku agak bingung klo ada yang anti patriarki tapi masih menganggap laki-laki wajib jadi provider😹