gw jadi keinget pas lagi jaga IGD dan nanya riwayat pasien ditemani istrinya…
👩⚕️: ada alergi obat?
🧔: enggak ada
👩: ada
🧔: enggak ada
👩: ada
👩⚕️: jadi ada atau enggak?
👩: tahun lalu dikasih obat terus bentol semua
🧔: oh iya ya
👩⚕️: …
👩⚕️: riwayat operasi?
🧔: enggak ada
👩: usus buntu 2019
🧔: OH IYA
👩⚕️: …
👩⚕️: obat rutin?
🧔: enggak ada
👩: tiap pagi minum obat darah tinggi
🧔: itu dihitung?
👩⚕️: pak…
👩: makanya saya ikut masuk
hal yang tidak diajarkan di FK:
kadang riwayat penyakit pasien tersimpan lebih aman di memori istrinya daripada di pasiennya sendiri 😭
@withoutmaximoff ini analoginya persis omongan emak² Betawi tiap anaknya minta doain.
"mak doain yaa."
"eh kalo doa emak wujudnya batu, abis lu udah pada benjol saking banyaknya doa emak."
🤣🤣🤣
Gue baru nyadar satu hal, orang yang hobi baca biasanya kalau ngetik juga rapi banget. Bahkan di WA pun jarang pakai singkatan aneh-aneh.
Kayak ada kepuasan tersendiri buat mereka kalau bisa nulis dengan ejaan lengkap. Bener nggak sih?
Kalau rupiah benar-benar tembus Rp20.000 per dolar, ada satu kelompok yang bisa sangat tertekan.
Bukan orang miskin.
Bukan juga orang kaya.
Tapi kelas menengah.
Kelompok yang "terlalu kaya" untuk dibantu tapi "belum cukup kaya" untuk terlindungi.
Mereka terlihat baik-baik saja dari luar.
Padahal sedang menopang semua bebannya sendiri.
Cicilan rumah, sekolah anak, orangtua yang mulai menua, dan standar hidup yang harus terus dipertahankan.
Masalahnya, selama bertahun-tahun banyak yang mengira mereka sedang membangun kekayaan.
Padahal yang dibangun baru kehidupan yang lebih mahal.
Penghasilan naik, tapi cicilan ikut naik.
Penghasilan naik, tapi kebutuhan ikut naik.
Penghasilan naik tapi rasa aman tidak ikut naik
Itulah mengapa banyak keluarga merasa:
“Gaji saya jauh lebih besar dibanding beberapa tahun lalu, tapi kenapa hidup terasa lebih berat?”
Kalau dolar benar-benar menuju Rp. 20.000, yang perlu dikhawatirkan bukan cuma kursnya, tapi kenyataan bahwa banyak keluarga akan baru sadar:
selama ini mereka hidup nyaman bukan karena keuangannya yg kuat, melainkan karena kondisi ekonomi masih cukup baik untuk menopangnya.
dan ketika kondisi itu berubah…
yang bertahan bukan siapa yang bergaji besar tapi siapa yang punya bantalan finansial.
Jokes lawas Idul Adha:
*ngomong ke orang berbadan gemuk
“Ngumpet begoo, ntr dipotong lo..”
Semua orang tau ini becandaan doang. Tapi ternyata ada satu orang yg nganggep ini serius, dia takut dan akhirnya pergi ke Perancis. 😔
Anehnya Rifaldy Fajar dan Prihantini ini kan bukan dokter, bukan perawat, bukan apoteker, bukan nakes, gak pernah studi kesehatan atau kedokteran. Tapi kok bisa dapat puluhan travel grant selama 2-3 tahun di bidang spesialis kedokteran semua.(?) apa gak heran orang-orang dari sana?
pun perbuatan ini bener bener mencoreng nama baik pendidikan Indonesia loh, pendidikan kita (khususnya kedokteran) udah dipandang sebelah mata, ditambah ada pemalsuan kelas dunia begini apa ga amsyong
Kenapa pemimpin negara boleh lansia, tapi kerja corporate 30an dianggap ngga produktif?
Dan kenapa ngelamar kerja harus pake SKCK? sedangkan banyak pejabat negara aja mantan napi
BREAKING: media Jepang menyebut pemerintah Indonesia memakai buzzer untuk membungkam publik dengan cara menuduh warga yang kritis sebagai "antek-antek asing"
---
Antek-antek asing mendunia guys.
di saat rupiah anjlok 1 USD: 17.720, prabowo tetap pertahankan program MBG. sedangkan habibie memilih mengubur mimpinya untuk pesawat N250, demi stabilitas ekonomi indonesia.
"saya mengalah untuk menang, yang menang itu siapa? rakyat" (Habibie)
sederhana tapi prabowo ga bisa
prabowo nih ditanyain soal IHSG anjlok bilangnya "rakyat desa ga main saham", sekarang pas rupiah lagi lemah ngomongnya "rakyat desa nggak pakai dollar".
rakyat desa rakyat desa mulu ajg, lu itu presiden bgst, bukan lurah.