Tanggal 25. Gajian cair. Bapak buka mobile banking. Transfer 15 juta bulat-bulat ke rekening istri.
"Udah masuk ya Ma. Semua gaji bulan ini. Atur aja."
Bapak taruh HP di meja. Senyum bangga. Rebahan di sofa. Nonton TV. Merasa sudah jadi laki-laki paling bertanggung jawab se-RT.
Merasa bulan ini tugasnya SELESAI.
Fast forward tanggal 20 bulan depan. Istri bilang uang menipis. Bapak naik darah:
"Kok boros banget sih?! 15 juta! Kamu belanjain apa aja?!"
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Ada tulisan cantik banget, kira-kira begini isinya:
“semoga kamu selalu dipertemukan dengan seseorang yang dapat berbicara bahasa mu, sehingga kamu tidak perlu menghabiskan waktu seumur hidup untuk menerjemahkan jiwamu..”
Aku buka food illustration commission lagi temen-temen
harganya 100 k / ilustrasi
Buat yang mau order bisa DM aku, atau reply di komen juga bisa hehe
Commission yang aku kerjain dari beberapa klien aku di batch pertama kemarin :)
RTs are appreciated 😊
#commissionopen
Cantik doa ini:
Ya Allah, lindungilah aku dari rasa putus asa, aku tak mahu jadi beban kepada siapapun.
Alirkan aku dan orang yang aku sayang, dengan rezeki yang halal seperti air zam - zam yang terus mengalir.
Aamin yra.
bapak gua bilang >>>
dalam pernikahan itu artinya harus siap untuk memaafkan seumur hidup dan banyak hal diluar ekspektasi kita. caranya adalah “kompromi seumur hidup.”
menikahlah dengan seseorang yang tepat, yang saling dalam segala hal, yang mau diajak kompromi.
itu artinya, dalam hubungan kita memang harus terus adjust. baik diri kita sendiri maupun pasangan kita.
Semoga kita berjodoh dengan seseorang yg baik, menikah dengan niat yg baik, mendapatkan mertua yg baik, memiliki keluarga yg baik, mendapatkan keturunan yg baik-baik, menghabiskan sisa hidup bersama pasangan dengan baik dan semoga kalian semua dijauhkan dari hal yang tidak baik.
cuma mau bilang;
lebaran kali ini, jangan lupa memaafkan diri sendiri untuk setiap kegagalan, ekspektasi dan janji yang diingkari. seenggaknya kamu mencoba melakukan yang terbaik. intinya, Tuhan dan kamu tau itu, meskipun orang lain ngga memandang demikian.
Pernah dengerin curhatan temen perempuan yang punya asam lambung:
"Kalau perempuan di bawah 20 tahun kena asam lambung obatnya masih sama obat-obat dari resep dokter, tapi kalau perempuan di atas 20 tahun obatnya tuh sepasang telinga yang siap mendengarkan, sepasang mata yang memandang sejuk, sepasang tangan yang mendekap dengan tulus dan bahu yang kuat untuk bersandar."
Karena salah satu gejala asam lambung adalah stres, mendem semuanya sendiri, ga punya tempat buat nuangin emosi, penyakitnya bisa kambuh parah banget.
Makanya kalau ada yang cerita sesepele apapun tolong didengerin, karena setiap mental orang itu beda-beda dan ga semua orang kuat untuk menyimpannya semua sendiri, kita juga ga tau seberapa berat beban seberapa banyak pikiran yang dia tanggung.
Apalagi tabiat perempuan itu suka bercerita, tentunya dia membutuhkan pendengar yang baik. Tapi kalau misalnya udah terlanjur sakit, ya harus tetep berobat juga dan rajin konseling kepada yang ahlinya.