Hanya pegam. Dari legam tak pernah padam. Sapa dulang dari puang yang tak menahan. Jari-jari keramat yang mati saat Jumat. Berbahaya, sukma, dan serupa.
Tidak semua kehidupan harus berakhir menang
Kali ini aku harus mengangkat kata yang harus ku akui; kekalahan
Juga menundukan kepala, ranum ego yang harus terobati
Segala nyawa harus ku selesaikan, untuk buah yang segala rasa terpuja
Sebatang pohon di tanah tandus akan layu tanpa kulit dan daun
Sama halnya dengan pria yang tidak dicintai siapa pun, mengapa harus terus melanjutkan hidup?
Jiwa bapak-bapak punya anak 1 gadis. Ketika sedang pergi,
"ini kalo ku beli buat anak, kayaknya dia seneng deh", kata diri dalam hati.
Sudah dilevel itukah sekarang?
Tidak ada doa kembali terucap
Mengingat jejak yang lalu telah terusap
Kau menghamba pada emosi yang kalap
Berujung hening haru dari gagalnya sulap
Semakin menjalani, semakin merenungi
Bukan lagi sebuah narasi dari deskripsi
Terlebih, kau sudah membubuhkan hari
Yang tak lagi cari
Kita bukan lagi kayu ataupun hutan
Kita telah habis ditebang dari jutaan perlawanan
Kita telah musnah diakhir perjalanan
Sebelum kita mengangguk kawan
Berdoalah sebelum memulai awal
Pahit memang harus melakoni kehidupan yang kesal
Bagaimanapun, itulah resiko dari kata normal