Isunya nama² ini yg terlibat Korupsi MBG:
1. Nanik S Deyang
2 Patris Rumbayan ibunya Tedy
3 Ketua dprd jatim dan Jateng
4 Suwardi samiran
5 Dudung lewat kepala bgn
6 Puti Sari Gerindra komisi 9
7 D Mahari komisi 9
8 Yahya zaini
9 Wihardi banggar
10 Cucun Ahmad
11 ketua dan seluruh wakil banggar
12 Bima Arya Wamendagri
13 Wamenaker Feri
14 Ahmad Riza patria
15 ketua komisi 9
16 seluruh wakil ketua KOM 9 kecuali Charles honoris dan seluruh poksi komisi 9
17 Dek gam komisi 9
18 Muslim Ayu komisi 3
19 fitroh Basori wakil kpk
20 Kajari Purwakarta Sulvia Dewi Hapsari SH, MH
21 Kapolres bekasi Kombes Sumarni
22 Irma Chaniago komisi 6
23 uya kuya komisi 3
24 Lula Kamal PIC Menko pangan
25 2 kolonel usulan AHY
26 gabungan asosiasi GAMBI-Kadin makan bergizi Indonesia... Dll.
isu saja bukan tuduhan proses masih diselidiki pihak terkait
sumber : threadsuzan18706
Guys, ada pertanyaan yang menurut gue sudah terlalu lama dijawab dengan cara yang salah.
Kenapa orang pintar sering gagal?
Dan Feri Irwandi orang yang masuk STAN karena iseng, kerja 10 tahun di Kementerian Keuangan, sekarang S2 di Monash Melbourne punya jawaban yang sangat tidak klise.
Kecerdasan tanpa kemampuan berpikir mandiri adalah racun:
Feri punya pengalaman langsung dengan ini waktu di STAN.
Teman-teman sekelasnya?
Orang-orang yang sebelumnya keterima FTTM ITB, Kedokteran UI, Kriminologi UI. Otak-otak terbaik Indonesia yang memilih masuk STAN.
Dan mereka semua belajar dari kisi-kisi.
Menghapal jawaban persis dengan yang diminta dosen.
Feri tidak mau melakukan itu.
Bukan sombong tapi karena dia punya satu pertanyaan mendasar:
Kalau lo belajar dari kisi-kisi sebelum ujian apa yang sebenarnya diuji?
Bukan kemampuanmu.
Kisi-kisinya.
Hasilnya:
ketika soal ujian sama persis dengan kisi-kisi — nilai Feri di bawah rata-rata.
Mereka yang hapal jawaban punya nilai sempurna.
Tapi ketika soal berbeda dari kisi-kisi Feri langsung top.
Mereka yang hapal jawaban bingung karena tidak ada template untuk dijawab.
Inilah paradoks orang pintar yang sering gagal. Mereka sangat terampil mengoptimalkan sistem yang sudah ada tapi ketika sistemnya berubah atau tidak ada panduan, mereka tidak tahu harus berbuat apa.
Karena selama ini yang dilatih bukan kemampuan berpikir tapi kemampuan mengikuti instruksi dengan sangat presisi.
Sekolah mengajarkan kita untuk mendapat nilai bagus.
Bukan untuk berpikir.
Dan orang yang paling mahir di sistem itu justru paling rentan ketika sistemnya tidak ada.
Perfeksionisme adalah bentuk lain dari ketakutan:
Orang pintar cenderung perfeksionis.
Dan perfeksionisme terdengar seperti sesuatu yang bagus standar tinggi, detail-oriented, tidak mau sembarangan.
Tapi Feri dan Jerome sepakat:
perfeksionisme dalam konteks action adalah musuh kemajuan.
Perfeksionis menunggu kondisi sempurna sebelum bertindak.
Menunggu ide yang benar-benar matang.
Menunggu momen yang tepat.
Menunggu skill yang cukup.
Dan selama menunggu orang lain yang mau mulai duluan meskipun hasilnya tidak sempurna sudah jauh di depan.
Kalau lu nunggu bagus baru mulai lu bakal kalah sama orang yang mulai dulu meskipun enggak bagus.
Dan ini bukan hanya soal kecepatan.
Yang mau memulai duluan belajar dari kesalahan nyata bukan dari simulasi sempurna di kepala.
Mereka mengembangkan kemampuan beradaptasi. Sementara perfeksionis terus menyempurnakan rencana yang belum pernah dieksekusi.
Feri menyebutnya dengan konsep matematika sederhana: frekuensi harapan. Semakin banyak percobaan, semakin besar probabilitas menemukan sesuatu yang bekerja.
Orang pintar yang perfeksionis membuat sedikit percobaan tapi masing-masing sangat terencana.
Orang yang mau terus mencoba membuat banyak percobaan dengan kualitas yang bervariasi dan dari volume itu, sesuatu yang besar hampir pasti akan muncul.
Orang pintar terlalu peduli dengan persepsi orang lain:
Ini yang paling menohok dan paling sering terjadi tapi paling jarang diakui.
Feri menyebutnya dengan sangat langsung: "Udah banyak banget gua ngelihat orang stres kehilangan dirinya.
Karena standar moral dan ukuran normal mereka dipengaruhi oleh orang yang bahkan enggak peduli sama mereka sama sekali."
Orang pintar yang tumbuh dengan selalu mendapat validasi juara kelas, pujian guru, pengakuan lingkungan menjadi sangat tergantung pada validasi eksternal.
Ketika validasi itu berhenti atau lebih buruk, berubah menjadi kritik mereka tidak tahu harus bertumpu pada apa.
Mereka mulai mengubah diri bukan karena keyakinan internal tapi karena ingin membuat yang tidak suka menjadi suka.
Mereka membeli barang yang tidak dibutuhkan dengan uang yang tidak dimiliki untuk mengimpresi orang yang dari awal tidak pernah peduli.
Dan ini adalah spiral yang sangat melelahkan karena tidak ada ujungnya.
Karena: "No way. Mereka enggak akan melihat lu berbeda.
Tidak peduli seberapa banyak lo berubah untuk memuaskan mereka orang yang tidak suka akan selalu menemukan alasan baru untuk tidak suka.
Jerome menambahkan pengalamannya sendiri: ketika dia dukung timnas dan digoreng habis-habisan, instingnya adalah klarifikasi membuktikan bahwa dia memang suka sepak bola dari dulu, bukan ikut-ikutan.
Karena dia tidak mau terlihat salah di mata orang lain.
Tapi Feri dan Choki Pardede sama-sama bilang: "Udah, besok bilang aja minta maaf karena dukung timnas." Dan ketika Jerome melakukan itu dengan self-deprecating humor, mengakui dengan enteng — masalahnya langsung selesai.
Karena tidak ada yang lebih mematikan serangan daripada tidak memberikan reaksi yang diinginkan penyerang.
Paradoks terbesar: yang membenci justru yang membuat lo bertahan:
Ini yang paling counterintuitive dan paling didukung oleh riset yang Feri lakukan untuk disertasinya.
Untuk bertahan lama dan relevan yang perlu dibina bukan hanya yang suka.
Tapi justru yang tidak suka.
Logikanya: orang yang tidak suka sama lo memperhatikan lo dengan intensitas yang jauh lebih tinggi dari orang yang suka.
Mereka yang menggerakkan percakapan tentang lo. Mereka yang membuat nama lo terus disebut.
Dan ketika mereka menunjukkan ketidaksukaannya dengan cara yang impulsif dan emosional justru orang yang suka menjadi semakin yakin untuk mendukung lo.
Feri bahkan dengan sengaja mengetes ini: di periode paling banyak diserang, justru ketika serangan mulai mereda dia memancing lagi supaya tetap ramai. Dan hasilnya? Di saat yang bersamaan konversi penjualannya naik lebih dari dua kali lipat.
"Justru bukan memuaskan yang sudah suka. Justru membuat orang yang enggak suka itu apinya enggak padam. Karena dialah yang membuat lu terus terbakar."
Orang pintar yang gagal biasanya melakukan sebaliknya: mereka panik ketika ada yang tidak suka, berusaha menyenangkan semua pihak, dan akhirnya tidak punya positioning yang kuat di mana pun.
Semua orang suka mereka tapi tidak ada yang benar-benar peduli. Konversinya rendah. Massanya tidak militan. Dan ketika mereka ingin menggerakkan sesuatu tidak ada yang bergerak.
Tentang kebencian dan ini wisdom terpenting Feri:
"Membenci adalah hal yang lumrah. Kita pun akan membenci sesuatu. Tapi kalau manusia tidak bisa mengendalikan kebenciannya dia akan dimakan oleh kebencian itu sendiri."
Kebencian butuh energi yang sangat besar. Dan energi itu dikeluarkan untuk seseorang yang bahkan tidak tahu lo ada.
Tapi yang lebih berbahaya dari membenci orang lain adalah membiarkan kebencian orang lain mengontrol hidup lo.
Ketika lo membuat keputusan hidup berdasarkan siapa yang tidak menyukai lo dan bagaimana cara membuat mereka berubah pikiran lo sudah menyerahkan kendali hidup lo ke orang yang paling tidak layak memegangnya.
"Kendalikanlah kebencianmu lebih besar daripada kecintaanmu. Karena kalau lu dikendalikan sama cinta efeknya akan berbeda. Tapi ketika lu dikendalikan sama benci ya enggak bakal jadi apa-apa. Beneran."
Orang pintar sering gagal bukan karena kurang kecerdasan. Tapi karena kecerdasan itu justru menciptakan jebakan-jebakan yang spesifik:
terlalu mengandalkan sistem dan template, terlalu perfeksionis untuk mulai, terlalu bergantung pada validasi eksternal, dan terlalu takut pada ketidaksukaan orang lain.
Yang benar-benar membuat seseorang bertahan dan berkembang bukan seberapa pintar mereka tapi seberapa baik mereka bisa berpikir mandiri ketika tidak ada panduan,
seberapa cepat mereka mau memulai meskipun belum sempurna, seberapa kuat mereka bisa bertumpu pada standar internal mereka sendiri, dan seberapa tenang mereka bisa menghadapi ketidaksukaan tanpa kehilangan diri.
Dan ironisnya semua itu justru tidak diajarkan di sekolah. Yang diajarkan sekolah adalah cara mendapat nilai bagus di sistem yang sudah ada. Bukan cara bertahan ketika sistemnya tidak ada.
Guys, Ketua Komisi II DPR baru bilang sesuatu yang menurut gue adalah salah satu pengakuan paling jujur tentang bagaimana otonomi daerah di Indonesia berjalan atau lebih tepatnya tidak berjalan sesuai harapan.
"Para kepala daerah menjadi raja-raja kecil. Terutama para bupati dan wali kota."
Rifqinizamy Karsayuda. Ketua Komisi II DPR. Bukan pengamat. Bukan aktivis. Anggota DPR yang bilang itu.
Konteks dulu supaya kita paham akar masalahnya:
Setelah Reformasi 1998 Indonesia banting setir dari sentralisasi total era Orde Baru ke otonomi daerah yang sangat luas.
UU No. 22 Tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah memberikan kewenangan yang sangat besar ke daerah sementara pemerintah pusat relatif hanya punya kewenangan terbatas.
Niatnya baik.
Logikanya masuk akal: rakyat daerah lebih tahu kebutuhan daerahnya sendiri daripada pejabat di Jakarta. Biarkan daerah yang urus daerahnya.
Tapi yang terjadi di lapangan berbeda dari teorinya.
Yang dimaksud "raja-raja kecil" dan ini yang perlu dipahami konkret:
Bayangkan seorang bupati di kabupaten kecil. Tiba-tiba dia punya kewenangan yang sangat besar:
Menentukan siapa yang dapat proyek pengadaan. Menentukan siapa yang dapat izin usaha. Menentukan struktur birokrasi daerah. Mengelola anggaran daerah miliaran sampai triliunan rupiah. Menentukan peruntukan lahan. Menentukan siapa yang naik jabatan di pemerintahan daerah.
Dan pengawasan dari pusat sangat terbatas.
Hasilnya yang bisa diprediksi sejak awal: kewenangan besar tanpa akuntabilitas yang kuat menghasilkan penyalahgunaan kewenangan yang masif.
Data yang paling mengejutkan:
Rifqinizamy menyebut bahwa saat ini 90% pemerintah daerah bergantung pada APBN khususnya transfer daerah untuk membiayai operasionalnya.
Artinya: daerah punya kewenangan yang sangat besar untuk mengambil keputusan. Tapi uangnya sebagian besar dari pusat.
Ini adalah kombinasi yang sangat berbahaya:
Kewenangan ada di daerah. Uangnya dari pusat. Akuntabilitasnya tidak jelas ke mana.
Dan di titik itulah korupsi paling mudah terjadi karena uang yang datang dari luar terasa bukan milik siapapun. Bukan uang rakyat lokal yang merasa memilikinya. Tapi transfer dari angka-angka di Jakarta yang jauh.
Berapa banyak kepala daerah yang sudah terbukti jadi "raja kecil" yang korup:
KPK mencatat sejak otonomi daerah berjalan kepala daerah adalah salah satu kelompok tersangka korupsi terbesar yang mereka tangani.
Gubernur. Bupati. Walikota. Berulang. Berganti. Ditangkap. Digantikan yang baru. Ditangkap lagi.
Kaltim adalah contoh yang baru saja kita bahas satu keluarga menguasai gubernur, ketua DPRD provinsi, walikota kota terbesar, dan anggota DPR pusat sekaligus. Adik bungsu sudah dipenjara karena korupsi. Tapi yang lain masih berkuasa.
Dan itu bukan satu-satunya. Ada ratusan kasus serupa dengan skala yang berbeda di berbagai daerah di seluruh Indonesia.
Kenapa kewenangan besar tidak otomatis menghasilkan kesejahteraan:
Rifqinizamy mengakui sesuatu yang sangat penting:
"Nyatanya juga tidak terlalu besar berkorelasi terhadap kemajuan dan kesejahteraan daerah."
Ini adalah kalimat yang perlu diulang sampai benar-benar meresap.
Daerah sudah punya kewenangan besar selama lebih dari 25 tahun sejak UU 1999. Dan hasilnya?
Kesenjangan antar daerah masih sangat lebar. Daerah 3T masih tertinggal jauh. Banyak kabupaten yang setelah puluhan tahun otonomi infrastruktur dasarnya masih memprihatinkan. Sekolah rusak. Puskesmas tidak memadai. Jalan rusak.
Sementara gedung DPRD daerahnya megah. Mobil dinas kepala daerahnya mewah. Anggaran perjalanan dinas DPRD daerah mencapai angka yang sulit dibenarkan.
Soal 90% bergantung pada APBN dan ini yang paling fundamental:
Kalau 90% daerah tidak bisa membiayai dirinya sendiri tanpa transfer dari pusat pertanyaan yang harus diajukan adalah:
Apakah otonomi daerah selama ini benar-benar membangun kemandirian fiskal daerah? Atau justru menciptakan ketergantungan baru yang jauh lebih tidak efisien dari sentralisasi?
Sebelum otonomi uang dikelola di pusat dan didistribusikan. Korupsinya ada, tapi setidaknya ada satu titik kontrol.
Setelah otonomi uang tetap dari pusat, tapi distribusinya melewati ratusan titik daerah yang masing-masing punya potensi kebocoran sendiri.
Apakah hasilnya lebih efisien? Data anggaran dan kondisi daerah menjawab sendiri.
Soal penguatan peran pusat yang sekarang terjadi dan dilema yang tidak mudah:
Rifqinizamy mengakui bahwa sebagai respons atas pengalaman buruk otonomi pemerintah pusat sudah memperkuat kembali kewenangannya.
Tapi dia juga memperingatkan:
"Sentralisme yang terlalu kuat juga tidak baik. Titik keseimbangan itu menjadi penting."
Dan ini adalah dilema yang genuinely sulit:
Terlalu otonom lahirlah raja-raja kecil yang korup dan tidak efisien.
Terlalu sentralistik lahirlah sistem seperti Orde Baru di mana semua keputusan ada di Jakarta dan daerah tidak punya suara.
Titik keseimbangannya ada tapi sangat sulit ditemukan. Dan lebih sulit lagi dipertahankan ketika sistem politiknya sendiri menghasilkan insentif yang salah.
Yang paling kritis dan belum dijawab:
Apa yang membuat raja-raja kecil itu bisa lahir dan bertahan begitu lama?
Jawabannya bukan hanya soal kewenangan yang terlalu besar. Tapi soal sistem pengawasan yang lemah dari semua sisi:
DPRD daerah yang seharusnya mengawasi eksekutif daerah tapi seringkali diisi oleh partai yang sama dengan kepala daerahnya. Atau bahkan anggota keluarganya.
Inspektorat daerah yang seharusnya audit interna tapi bertanggung jawab langsung ke kepala daerah yang diaudit. Konflik kepentingan yang sangat jelas.
BPK yang audit keuangan daerah tapi hasil auditnya tidak otomatis berujung pada tindakan hukum.
KPK yang seharusnya jadi garda terakhir tapi sumber dayanya tidak pernah cukup untuk mengawasi lebih dari 500 pemerintah daerah di seluruh Indonesia secara efektif.
Dan pemilu daerah yang seharusnya jadi mekanisme akuntabilitas tapi seringkali dimenangkan oleh siapa yang punya uang paling banyak untuk kampanye. Yang untuk mendapatkan uang itu seringkali butuh korupsi terlebih dahulu.
Lingkaran setan yang sangat sulit diputus dari dalam.
Dan ini yang paling ironis dari situasi sekarang:
DPR membahas raja-raja kecil di daerah. Tapi DPR sendiri tidak bisa lepas dari kritik bahwa banyak anggotanya adalah produk dari sistem yang sama sistem pembiayaan politik yang bergantung pada jaringan uang yang tidak transparan.
Orang yang membicarakan masalah raja kecil sebagian dari mereka juga punya kepentingan dalam sistem yang menghasilkan raja kecil itu.
Dan reformasi sistem otonomi daerah yang serius yang membutuhkan perubahan undang-undang, perubahan sistem pengawasan, perubahan mekanisme pemilu daerah itu semua harus melewati DPR dan DPRD yang sebagian anggotanya diuntungkan oleh status quo.
Otonomi daerah adalah eksperimen besar yang dimulai dengan niat yang benar membawa pemerintahan lebih dekat ke rakyat, mengurangi ketergantungan pada Jakarta, memberdayakan daerah.
Tapi implementasinya menghasilkan sesuatu yang tidak direncanakan: ratusan titik korupsi baru yang sebelumnya tidak ada. Raja-raja kecil yang merasa tidak perlu bertanggung jawab kepada siapapun. Daerah yang 25 tahun kemudian masih bergantung 90% pada transfer pusat.
Dan yang paling menyakitkan: rakyat di daerah yang harusnya diuntungkan oleh otonomi masih banyak yang hidupnya tidak berubah signifikan. Sekolah masih rusak. Air bersih masih susah. Jalan masih berlubang.
Sementara bupati dan walikotanya naik mobil dinas miliaran. Renovasi rumah jabatan puluhan miliar. Dan keluarganya menempati berbagai posisi di pemerintahan daerah.
Itu bukan otonomi. Itu adalah desentralisasi korupsi.
Ingat kasus Leony Vitria Hartanti (eks Trio Kwek Kwek)? Ayahnya meninggal 2021. Rumah sudah lunas dari dulu. PBB dibayar rajin tiap tahun. Pas Leony mau balik nama sertifikat, dia kena tagihan PULUHAN JUTA.
Reaksi Leony sama seperti semua org: "Kan bukan jual beli? Ini kan WARISAN?"
Ternyata ada prosedur yang bisa bikin biaya balik namanya jadi 0 rupiah. Tapi banyak yang gak tau. Simak screenshot cara2nya dari akun thread @nafkahnation.dx
Guys, Bu Rani Anggrini Dewi konselor pernikahan 25 tahun lebih, sudah menikah 44 tahun bilang sesuatu yang menurut gua adalah penjelasan paling nyesek yang pernah gua dengar tentang kenapa banyak perempuan menyesal setelah menikah.
Dan ini bukan opini.
Ini dari orang yang setiap hari duduk berhadapan dengan pasangan-pasangan yang pernikahannya sedang hancur.
Jawabannya satu kalimat
mereka masuk ke pernikahan
tanpa tahu siapa diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka masuk
semua yang membentuk identitas mereka sebelumnya karir, mimpi, ambisi,
pengembangan diri pelan-pelan hilang.
Bukan karena dirampas.
Tapi karena struktur pernikahan
yang mereka masuki memang tidak dirancang
untuk menampung itu semua.
Bu Rani bilang polanya sangat konsisten dari ribuan kasus yang dia tangani.
Perempuan menikah.
Anak lahir.
Semua fokus beralih ke peran sebagai ibu dan istri.
Pengembangan diri berhenti.
Dan di suatu titik entah dua tahun kemudian atau sepuluh tahun kemudian mereka bangun dan bertanya siapa saya sekarang?
Saya sudah S1,
saya pernah kerja,
saya punya mimpi.
Sekarang saya cuma masak
ngurus anak, dan menunggu suami pulang.
Dan yang membuat ini sistemik dan bukan hanya nasib buruk individu adalah satu fakta yang Bu Rani sebut dengan sangat tegas orang tua Indonesia sekarang sudah sadar untuk menyiapkan anak perempuannya.
Mereka kirim ke universitas terbaik.
Dorong untuk berkarir.
Ajarkan untuk mandiri secara finansial.
Tapi mereka lupa menyiapkan anak laki-lakinya.
Hasilnya adalah collision yang tidak bisa dihindari. Perempuan yang sudah berkembang menikah dengan laki-laki yang masih membawa mindset bahwa suami harus dilayani, urusan rumah tangga dan anak adalah urusan istri, dan suami harus selalu lebih tinggi dari istri dalam segala hal.
Dua orang dengan level perkembangan yang sangat berbeda masuk ke satu institusi.
Dan perempuannya yang selalu diminta untuk menyesuaikan diri ke bawah bukan laki-lakinya yang didorong untuk naik ke atas.
Dan ini yang paling menyakitkan dari seluruh cerita ini. Banyak perempuan yang menyesal bukan karena suaminya jahat.
Bukan karena pernikahannya penuh kekerasan.
Tapi karena perlahan-lahan tanpa ada satu momen dramatis yang bisa ditunjuk sebagai titik balik mereka kehilangan diri mereka sendiri.
Dan begitu mereka sadar bahwa yang hilang itu tidak bisa dikembalikan oleh siapapun termasuk oleh suami yang mencintai mereka itulah penyesalan terdalam yang Bu Rani temui dalam kasusnya setiap hari.
perempuan yang menyesal setelah menikah bukan perempuan yang salah pilih pasangan.
Mereka adalah perempuan yang masuk ke struktur yang tidak pernah dirancang untuk menampung mimpi mereka.
Dan selama struktur itu tidak berubah selama anak laki-laki tidak disiapkan dengan cara yang sama dengan anak perempuan angka penyesalan itu tidak akan turun.
Kalo lu tau indomie yang sering kita makan
itu tuh milik salim grup
yang lebih gila lagi dari lippo
The Indomie Empire Circle:
- Tepungnya : mereka punya Bogasari. Ini pabrik penggilingan gandum terbesar di Indonesia. Indomie nggak perlu beli tepung ke orang lain, tinggal ambil dari gudang sendiri.
- Minyaknya: Mereka punya perkebunan sawit raksasa (IndoAgri/Lonsum). Minyak goreng buat goreng mi-nya di pabrik? Pakai Bimoli, punya mereka juga.
- Bumbunya: Mereka punya divisi Food Ingredients. Jadi racikan micin dan saus cabainya pun hasil olahan pabrik sendiri.
- Bungkusnya: Plastik kemasan Indomie yang ada foto mi-nya itu? Dibikin sama divisi Packaging mereka sendiri.
- Distribusinya: Dikirim pakai truk-truk Indomarco, perusahaan logistik milik mereka.
- Ujungnya: Dipajang di rak Indomaret, yang juga punya mereka.
Gila-nya di mana?
Mereka bisa nekan harga Indomie jadi murah banget karena mereka nggak perlu bayar margin ke perusahaan lain.
Mereka untung di tepung, untung di minyak, untung di pabrik mi, untung di logistik, sampai untung di kasir Indomaret.
Guys, emas lagi aneh banget sekarang.
Itu kata Raymond Chin dan dia nggak lebay.
Bayangin lo beli emas pas harganya lagi di puncak. Semua orang bilang beli, semua orang FOMO, rasanya kayak yang nggak beli itu ketinggalan.
Terus seminggu kemudian harganya anjlok hampir 10%.
Penurunan terburuk dalam 43 tahun terakhir.
Sakit? Iya. Tapi Raymond bilang ini bisa diprediksi kalau lo ngerti caranya baca tanda-tandanya.
Dia jelasin pake konsep simpel yang dia sebut Tiga Kaki Meja Emas.
Kaki pertama Ketakutan.
Dunia rusuh → orang lari ke emas. Dan 2026 ini beda dari krisis sebelumnya. Krisis 2008 ada penyelamatnya. COVID ada penyelamatnya. Sekarang? Yang bermasalah itu Amerika sendiri hutang numpuk, konflik geopolitik, risiko perang dunia yang makin nyata. Nggak ada yang bisa jadi penyelamat. Makanya orang borong emas gila-gilaan.
Kaki kedua Dolar Amerika.
Harga emas dunia dipatok dalam dolar. Dolar menguat → emas melemah. Sesimpel itu.
Kaki ketiga Suku bunga.
Suku bunga naik 1% → harga emas rata-rata turun hampir 5%. Karena kalau obligasi AS kasih return gede dan dijamin negara ngapain beli emas?
Nah kenapa tiba-tiba crash?
Gara-gara satu nama Kevin Warsh.
Trump mau nominasikan dia jadi kepala bank sentral AS. Profilnya bikin market panik dia dikenal anti cetak uang dan kemungkinan besar bakal naikkan suku bunga lagi.
Hasilnya? Orang kabur dari emas dalam waktu singkat.
Terus sekarang harus ngapain?
Raymond bilang jangan panik dulu.
Dunia belum aman. JP Morgan bahkan prediksi emas bisa tembus $8.000 di 2030.
Tapi satu hal yang harus diubah dari sekarang mindset lo soal emas.
Emas bukan saham yang bisa lo trading minggu ini untung minggu depan. Emas itu pelindung kekayaan jangka panjang. Ibaratnya asuransi bukan mesin cuan cepat.
Dan satu indikator yang wajib lo pelajari namanya RSI. Kalau RSI di atas 90 artinya udah terlalu banyak orang yang beli itu sinyal bahaya buat masuk. Kemarin pas emas di atas 5.000, RSI-nya udah 90 ke atas. Wajar banget habis itu turun.
Sekarang RSI udah turun ke zona yang lebih wajar. Dan kalau harga masih koreksi itu justru bisa jadi momen diskon yang menarik buat yang mau mulai.
Tapi ingat ini bukan financial advice. Pakai uang dingin, mulai dari porsi kecil, dan pahami dulu sebelum beli.
Surat Al-Mu'minun — Blueprint Jiwa yang Berhasil
Al-Mu'minun turun dengan pertanyaan yang lebih personal — bukan semesta, tapi kamu. Apa yang membuatmu berhasil?
Surat ke-23 ini dibuka dengan cara yang tidak lazim dalam Al-Qur'an.
Bukan perintah. Bukan peringatan. Bukan kisah.
Tapi pernyataan kemenangan:
"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman." (QS. Al-Mu'minun: 1)
*Qad aflaha* — sudah beruntung, sudah berhasil. Bukan *akan* berhasil. Bukan *mungkin* berhasil.
**Sudah.** Seolah kemenangan itu adalah fakta yang menunggu untuk disadari, bukan janji yang masih harus dibuktikan.
Dan kemudian Al-Qur'an merinci — siapa mereka?
Tujuh Karakter Pemenang
"Orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya."(QS. Al-Mu'minun: 2)
"Orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna." (QS. Al-Mu'minun: 3)
"Orang-orang yang menunaikan zakat." (QS. Al-Mu'minun: 4)
"Orang-orang yang memelihara kemaluannya." (QS. Al-Mu'minun: 5)
"Orang-orang yang memelihara amanat dan janjinya."(QS. Al-Mu'minun: 8)
"Orang-orang yang memelihara shalatnya."(QS. Al-Mu'minun: 9)
Tujuh karakter. Dan perhatikan apa yang tidak ada dalam daftar ini.
Tidak ada — jadilah kaya.
Tidak ada — jadilah terkenal. Tidak ada — jadilah cerdas. Tidak ada — jadilah kuat secara fisik.
Semua tujuh adalah karakter internal — kualitas jiwa yang tidak terlihat dari luar tapi menentukan segalanya dari dalam.
Proses Penciptaan Manusia — 14 Abad Sebelum Sains
Kemudian surat ini melakukan sesuatu yang mencengangkan — ia menggambarkan *proses embriologi* dengan detail yang tidak mungkin diketahui tanpa mikroskop:
"Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati tanah. Kemudian Kami menjadikannya air mani dalam tempat yang kukuh. Kemudian air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging." (QS. Al-Mu'minun: 12-14)
Nutfah — zigot. Alaqah — embrio yang melekat. Mudghah — segumpal daging. Pembentukan tulang. Pembungkusan dengan daging.
Tahapan ini baru dikonfirmasi sains modern pada abad ke-20. Al-Qur'an menyebutnya di abad ke-7.
Tapi yang paling menggetarkan bukan detailnya. Yang paling menggetarkan adalah kalimat setelahnya:
"Kemudian Kami menjadikannya makhluk yang berbentuk lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik."(QS. Al-Mu'minun: 14)
Setelah menggambarkan proses biologis yang panjang dan detail — Al-Qur'an tiba-tiba berhenti dan *berdecak kagum pada dirinya sendiri.*
*Mahasuci Allah, Pencipta yang paling baik.*
Seolah bahkan Sang Pencipta ingin kita ikut berhenti sejenak dan benar-benar *merasakan keajaiban bahwa kita ada.*
Delapan Stasiun Kehidupan
Di surat ini Al-Qur'an memetakan *perjalanan jiwa manusia* secara lengkap:
Tanah → Air mani → Embrio → Bayi → Dewasa → Tua → Mati → Dibangkitkan.
Delapan stasiun. Dan manusia sibuk di stasiun ketiga, keempat, kelima — lupa bahwa masih ada tiga stasiun lagi yang menunggu.
"Kemudian sesudah itu kamu benar-benar akan mati. Kemudian sesudah itu kamu benar-benar akan dibangkitkan pada hari Kiamat." (QS. Al-Mu'minun: 15-16)
Al-Qur'an tidak menyebut kematian sebagai akhir. Ia menyebutnya sebagai *antara* — sebuah perhentian di tengah perjalanan yang jauh lebih panjang.
Nuh, Musa, Isa — Satu Skrip, Tiga Aktor
Surat ini kemudian menceritakan tiga nabi — Nuh, Musa, dan Isa. dan polanya selalu sama:
Nabi datang membawa kebenaran. Kaumnya menolak. Kaumnya berkata: "Ia hanyalah manusia biasa."
"Maka berkatalah para pemimpin kaumnya yang kafir: 'Orang ini tidak lain hanyalah manusia seperti kamu.'" (QS. Al-Mu'minun: 24)
Ini adalah penolakan paling klasik sepanjang sejarah
bukan menolak pesannya, tapi mendiskreditkan *pembawanya.*
Jika kamu tidak bisa mematahkan argumennya, serang orangnya. Jika kamu tidak bisa menemukan kesalahan dalam ajarannya, temukan kesalahan dalam biografinya.
🗣️ Ruud Gullit :
"Saya sudah tidak terlalu menikmati menonton sepak bola lagi. Bukan karena pertandingannya terlalu banyak, tapi levelnya, saya tidak tahu sebenarnya apa yang sedang terjadi. Saya menonton Arsenal vs Chelsea, benar-benar pertandingan yang payah. Isinya cuma memaksakan sepak pojok dan lemparan ke dalam. Isinya cuma orang-orang pakai headband yang mengejar bola kesana-kemari. Sangat menyebalkan untuk ditonton. Saya harap ini bukan tren permanen."
"Sekarang semua pemain lebih fit, bisa lari dan bertahan. Kita rindu pemain yang bisa melewati lawan dalam situasi satu lawan satu. Rasanya mereka semua cuma duduk di depan komputer menimbang taktik. Saya rindu keseruannya! Saya masih nonton cuplikan, tapi makin lama makin tidak menyenangkan."
"Saya rindu pemain yang punya keberanian dan bakat seperti Summerville saat menggiring bola, punya kebebasan dan kreativitas. Sekarang terlalu banyak umpan satu sentuhan. Semua orang terus-menerus main one-two. Rasanya muak melihatnya."
📝 @ZS_Voetbal
13.52: Info awal #kecelakaan beruntun melibatkan beberapa mobil. Terlihat ada 4 mobil di KM 15 Tol Waru arah Satelit. Beberapa meter setelahnya, ada 5 mobil lainnya yang juga ringsek. Posisinya di lajur kanan. Lalu lintas macet. Informasi sudah diteruskan ke petugas. (ss-af)
Morowali bisa jadi anomali,negara dalam negara.
Berdasarkan pengalaman dari Film, Kuching Kuching Ngentohai...
Biasanya pelaku itu adalah :
1. Paling kenceng teriak NKRI Harga mati,
2. Klau di kritisi,pasti ngamuk ngoceh "apa yg sdh kalian buat untuk negara".
3. Si paling pejuang
SISTEM KEUANGAN KUANTUM – FAJAR BARU TELAH TIBA
Banyak orang masih belum menyadarinya – tetapi QFS (Quantum Financial System) sudah AKTIF. Bukan “segera datang,” bukan “masih dipersiapkan,” tetapi sudah BERJALAN, dikonfirmasi, dan secara pribadi disetujui oleh Donald J. Trump. Ia telah lama menyatakan bahwa “umat manusia berhak atas kebebasan finansial, bukan utang seumur hidup” – dan inilah alasan QFS diluncurkan.
Ini bukan sekadar sistem keuangan. Ini adalah satu-satunya sistem yang sah, didukung emas, dan terinspirasi secara ilahi yang pernah diciptakan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, setiap transaksi:
100% transparan
Mustahil diretas
Dilengkapi kode algoritma kuantum secara energetik
Trump memegang otoritas tertinggi, dan di belakangnya berdiri aliansi dari 209 negara yang telah menandatangani perjanjian untuk mengakhiri mafia perbankan dan korupsi sekali untuk selamanya.
APA ARTINYA BAGI ANDA?
Tidak ada lagi utang – semua pinjaman, hipotek, dan bunga dihapus secara instan.
Tidak ada lagi manipulasi mata uang – setiap negara terikat pada emas dan logam mulia.
Tidak ada lagi bank palsu – Mastercard, Visa, dan seluruh kartel swasta akan runtuh.
Tidak ada lagi pencurian energi Anda – QFS melindungi setiap orang dengan “frekuensi tanda tangan kuantum.”
Ini adalah amnesti finansial, simbol kedaulatan, dan akhir dari kekuasaan monopoli.
RINCIAN TERSEMBUNYI (yang tidak akan pernah diungkap oleh media arus utama):
QFS menggunakan satelit Starlink untuk memproses transaksi lebih cepat dari kecepatan cahaya.
Setiap orang diberi ID digital QFS unik yang terhubung ke DNA mereka – mustahil dipalsukan.
Semua kekayaan yang telah dicuri selama berabad-abad oleh kelompok rahasia, BlackRock, Vanguard, dan bank Illuminati – sedang dikembalikan kepada rakyat melalui QFS.
Uji coba rahasia pertama telah berlangsung di 22 negara dengan 100% keberhasilan – transaksi instan tanpa cela.
QFS sudah mendanai proyek seperti teknologi MedBed, energi bebas Tesla, dan infrastruktur baru untuk kebebasan total umat manusia.
Dulu saat jd Chief Economist Danareksa, bapak ini punya data omzet harian 100 toko bangunan dan 100 dealer motor di 10 kota utama RI. Diupdate tiap sore!
Dia bilang dari data itu dia merasakan betul denyut ekonomi day by day.
Dia bukan tipe ekonom menara gading. Tapi ekonom jalanan.
Saat jd Chief Economist Danareksa, Purbaya jg menciptalan tool yg amat powerful.
Namanya LEI Leading Economic Indicator. Bahannya dari beragam data penjualan harian toko bangunan, dealer motor hingga toko ritel kayak Indomart.
Dulu di awal thn 2000an dia suka publikasikan hasil LEI di harian Kompas. Amazingly, akurasinya dalam memprediksi masa depan ekonomi RI amat akurat.
Jadi dia kalau nulis nggak kayak Chatib Basri atau SMI yg serba makro dan teoritis.
Purbaya lbh suka nulis dan bahas tren penjualan semen di toko2 bangunan dan tren penjualan sepeda motor di berbagai kota di Indonesia.
Purbaya nulis dari data penjualan harian semen di 100 toko bangunan di tanah air, saya bisa lbh memahami denyut ekonomi secara real time. Gak ada lag time. Kalau hanya andalkan data BPS, kadang terlalu lama.
Jadi kalau dia bilang ekonomi RI akan ekspansi dalam 5 tahun ke depan, semoga bukan asbun.
Purbaya pernah menulis, setiap kali jatuh resesi, ekonomi RI akan bangkit dan ekspansi 7 tahun lamanya.
Saat jatuh 1998, ekonomi RI bangkit mulai thn 1999 hingga 2006.
Saat resesi global 2008, ekonomi RI resilien dan tumbuh terus.
Dan after covid 2020 2021, maka ekonomi RI akan tumbuh hingga 2029.
Sejarah pasti berulang.
Hanya orang yg gak pernah baca sejarah, yang selalu cemas dg masa depan. Begitu kata pepatah.
Kadang saya punya harapan, maybe Purbaya ini bahkan akan lebih bagus drpd SMI. Harapan yg bisa saja salah.
Tapi dari kecakapan membaca data rea dan data lapanganl, maka purbaya sang ekonom jalanan ini maybe punya mata yg lebih tajam drpd SMI.