it’s called “Cognitive Niche” dalam biologi komunikasi
niche ini yg bikin manusia bisa terus bereproduksi. Pertukaran informasi dan komunikasi menjadi faktor paling penting dalam keberlanjutan umat manusia
bahkan komunikasi dengan hewan dan alam kyk di twt tsb
Pakde ku yang rumahnya di pinggir hutan ngajarin gw kalau mau nyari makanan di tengah hutan sedangkan kita gatau mana buah dan pohon yang bisa dimakan atau engga, coba liat hewan2 aja..
Kalau ada hewan yang makan buah tertentu, berarti buah tadi bisa dimakan, begitupun tanaman.
Selain itu nguji beracun atau engga ya tinggal dikasih ke hewan juga, kalau mabuk atau keracunan berarti beracun, jadi gaperlu human test. Terkesan kejam, tapi demi bisa survive.
Nah disini kasusnya di tebu, mungkin aja dulu ada hewan2 mamalia yang biasa makan batangnya, sehingga akhirnya dicoba sama penduduk wilayah tersebut. Tebu itu asalnya dari papua new guinea, dan seperti yang kita tau disana banyak mamalia nya kan, jadi bisa jadi hal yang seperti gw bilang tadi terjadi.
ibarat nih braw! daftar panit rabraw aplg CO, gaperlu berpengalaman atau kinerja bagus tahun kemaren, yang penting mah punya backingan omek dan abang abang udah pasti lolos🤭🤪🙏
padahal media juga bisa membeberkan kesalahan dari pemilik toko yg justru membebankan biaya admin Qris kepada pelanggan yg seharusnya ia tanggung
dapat dipahami bahwa media berhasil menentukan siapa yg menjadi “korban” dan siapa “pelaku” melalui narasi yg dibawakan
dalam kajian Framing Theory dari Goffman bisa kita pahami bahwa media berperan besar dalam menentukan siapa salah dan siapa benar dengan menonjolkan isu apa yg perlu menjadi wacana
di sini, media berupaya melakukan framing bahwa TNI yg salah dan harus dihakimi oleh masyarakat—
Ternyata kronologi perusakan warung madura oleh oknum TNI AD kemarin tu karena oknum TNI gak mau bayar Admin Qris yg cuma 1000 rupiah waktu beli rokok.
Parahnya lagi oknum TNI tersebut memukul penjaga warung yg seorang WANITA!!
Jijik bgt cuma karena uang 1000 rupiah trus mukul Cewek..🤮
“berpihak pada korban” itu fokusnya adalah upaya menenangkan dan memberikan ruang kepada korban untuk dapat menyampaikan masalah yg dihadapi dengan aman
dan ini bukan berarti memvonis “tertuduh” sebagai pelaku, sehingga menghilangkan asas praduga tak bersalah di dalamnya
imo, "berpihak pada korban" kalo di twitter ini jadinya kadang berat sebelah
penghakiman massa sudah terlebih dahulu dilaksanakan sebelum jelas kronologinya bagaimana