Hadiah kecil menjelang MayDay untuk buruh yang kecewa, muak, dan lelah. Unduh, Sebar, atau Abaikan sebagaimana dunia mengabaikanmu. Bersenang-senanglah!
https://t.co/BnT9x720yN
Mengingat ekskalasi aksi yang sepertinya akan terus meningkat di masa mendatang, juga karena pembahasan soal aksi damai vs aksi dengan kekerasan selalu berulang tiap ada aksi massa jadi sepertinya buku ini akan semakin relevan.
https://t.co/sJpO6oWLvH
Teman Makan Itu Bernama Bir. Baca di https://t.co/9m4jjSzY1y
Akses Harian Kompas praktis, kapan saja, dan dari mana saja lewat aplikasi. Unduh sekarang!
Eh, udah tau belum di aplikasi GoPay ada pinjaman tunai?
kamu bakal dapet hadiah saldo GoPay 50k. Lumayan, buat bantu-bantu atur pengeluaran bulanan. Ini, Kamu tinggal masukkin kode JX4WPT di proses aktivasi.
klik linku:
https://t.co/0k1ujba7Zn
Saya ditanya: support dosen dan guru, atau bangun 30.000 MW lebih dulu?
Saya pilih dosen dan guru. Sebenarnya karena satu hal: saat ini teknokrasi dan meritokrasi adalah spesies yang terancam punah.
Kenapa?
Kalau kita bandingkan 30 tahun terakhir, pendapatan per-kapita Tiongkok naik 10 kali lipat. Asia Tenggara hanya sekitar 2,7 kali.
Ada lima atribut di balik ketertinggalan ini:
(1) Kita cenderung menyeleksi talenta berdasarkan loyalitas, bukan meritokrasi.
(2) Kurangnya titik temu yang optimal antara talenta dan kekuasaan.
(3) Kurangnya daya saing, tercermin dari izin usaha kita yang hanya 0,3 per 1.000 orang dewasa, dibanding Tiongkok dan Singapura yang mencapai 8-10.
(4) Model pembangunan yang sentripetal, menarik segalanya ke pusat, sehingga ketimpangan kekayaan dan pendapatan makin lebar dan oligarki makin difasilitasi.
(5) Dan yang paling fundamental: kurangnya investasi di pendidikan.
Karena tanpa reformasi untuk kepentingan gaji guru atau kompensasi, saya nggak melihat Indonesia, atau sebagian besar dari Asia Tenggara, bisa menuju ke arah keemasan.
Kita harus menyadari bahwasanya IQ manusia itu bisa berkembang sampai umur 16 tahun.
Tapi setelah umur 16 tahun, yang paling penting untuk mengembangkan manusia itu adalah keterbukaan. Keterbukaan itu sangat foundational untuk bisa mengkombinasikan antara kekuatan inovasi dengan kekuatan preservasi. Saat perkembangan otak seseorang tidak optimal, bisa dikompensasi dengan kualitas guru.
Di sinilah benang merahnya. Kemampuan kita memilih dengan basis seleksi, bukan sekadar elektabilitas, sangat bergantung pada kemampuan kita berpikir. Kemampuan berpikir itu dibentuk oleh guru.
Ini pula yang berkorelasi dengan kemampuan kita membangun ekosistem yang memadai untuk 30.000 MW. Karena tanpa kualitas guru yang membuahkan SDM yang mumpuni, sebesar apa pun kapasitas yang kita bangun, hasil jangka panjangnya tidak akan tahan lama.
Dan jika resah menunggu gerakkan top-down, maka mungkin kita harus perbanyak bottom-up kan perubahan sosial ini. Perbanyak diskusi entah di tempat tongkrongan, tempat ibadah, puskesmas, atau di meja makan rumah sendiri.
Dan yang kita perbanyak sebaiknya diskursus ide, bukan sekadar fenomena. Karena selama percakapan kita hanya berhenti pada sensasi dan peristiwa yang datang dan pergi, kita tidak akan pernah beranjak.
Tapi ketika kita mulai membiasakan diri berdiskusi tentang gagasan, di situlah inkrementalisme kecil hari ini bisa membuahkan lompatan besar suatu hari nanti.
“Nggak ada UU yang mengatur sabtu minggu libur.”
Ok, but tetap HARUS ada libur minimal satu hari seminggu (untuk jam kerja 7 jam sehari) dan dua hari seminggu (untuk jam kerja 8 jam sehari).
Kalau bingung baca UU 13/2003 karena udah banyak revisinya, baca PP 35/2021 aja deh.
Learn Data Science for FREE in 2026
1. Python
https://t.co/MaOHz0MUr6
2. SQL
https://t.co/VYMcTJS2mx
3. Excel
https://t.co/iiHp8bDIBH
4. Power BI
https://t.co/sU505kAX37
5. Mathematics
https://t.co/jUnLb7rgWv
6. Data Analysis
https://t.co/4aNtpWhAXq
🚨Free-to-read # 1: Fighting Lens: Military Doctrine and the Future of Warfare in Asia 👉 https://t.co/AfJfQ7kzPw
This chapter analyses the military doctrines of the United States, China and India as they prepare for future wars in the Asia-Pacific