@tanyarlfes Aku pribadi gak permasalahan kalo jodoh nanti maunya karir atau IRT. Yg penting dia bisa menjadi rumah bagiku & mau hidup bersama sampai tua. Saling support dlm menjalin rumah tangga. Koreksi jika keputusanku salah. Hargai, sayangi, terimalah orangtuaku layaknya sebuah keluarga.
pada akhirnya, bukan lagi
"if he want, he would"
tapi "if Allah has written it for you, it will find its way to you, at the right time, in the right way"
inget, apa yang emang buat kamu, pasti akan jadi milikmu, dan gaakan jadi milik orang lain.
Jangan sakiti orang introvert.
Mereka tidak mudah percaya.
Sekali mereka membuka dunianya untukmu, itu bukan hal biasa, itu tanda kamu benar-benar dipercaya.
Introvert akan melakukan banyak hal demi membuat orang di dalam dunianya merasa nyaman.
Tapi sekali kamu menyakiti mereka, kamu bisa hilang begitu saja, seolah tak pernah ada.
@eeeipy Dia nungguin di jembatan jamsostek krn kami janjian di sana, hujan2 lagi. 2x kami cari tempat parkir mall krn di dalam sudah penuh. Di parkiran softball jg kami cari tempat, nungguin di depan asumsi kami mau mereka keluar eh malah masuk ternyata, tertawa bareng kami krn hal itu.
@eeeipy Itu benar, saat itu dia makeup cakep, cocok bangeeet sm baju merah yg dia pakai (warna fav dia) dan jilbab coklat muda dia, parfumenya jg harus sampe di lapangan softball msh wangi pdhl udh malam (kita sm2 suka tipe parfume manis). Dia pakai soflen tp baru engeh pas liat di foto
Berpasangan itu kerjasama, bukan transaksi, bukan eksploitasi, bukan kompetisi, dan bukan juga saling tuntut harus begini–begitu. Idealnya saling melengkapi.
Mau dapet pasangan yang baik, ya kitanya juga harus mau berproses jadi orang yang lebih baik: kontrol emosi, belajar komunikasi, saling bantu, tumbuh bersama, dan saling jaga satu sama lain.
Sibuk memperbaiki diri & intropeksi
Kerja yg baik
Memperbaiki sholat 5 waktu & bacaan tilawah qur'an
Gym
Baca buku
Mempersiapan tabungan utk berumah tangga kelak
Menikah itu sunnah yg panjang tp jk tdk disiapkan dgn matang akan runtuh ditengah jalan & itu tdk sejalan dgn my visi
Kalau diskusinya masih sebatas “laki-laki provide rumah, mobil, lalu perempuan provide apa,” berarti pemahamannya masih di level transaksi, bukan pernikahan.
Karena hari gini, banyak perempuan bisa provide rumah, mobil, dan kehidupannya sendiri. Itu bukan lagi sesuatu yang eksklusif milik laki-laki.
Yang jauh lebih langka dan jauh lebih mahal adalah kemampuan membangun dan mengelola kehidupan bersama.
Pernikahan bukan semata biaya rumah dan mobil. Itu bagian obrolan level permukaan banget 😅
Biaya terbesar dalam pernikahan adalah hal yang tidak bisa dibeli pake uang: kematangan emosional, kapasitas intelektual, stabilitas karakter, dan kemampuan mengelola rumah tangga sebagai sebuah sistem.
Apalagi kalau you memutuskan punya anak.
Biaya membesarkan anak bukan hanya makan dan sekolah. Tapi kemampuan orang tua menjadi figur yang stabil, hadir, dan layak dicontoh. Kemampuan mengelola emosi. Kemampuan membuat keputusan jangka panjang. Kemampuan menjaga struktur keluarga tetap utuh. Semua itu ngga bisa digantikan oleh uang.
Jadi kalau diskusinya masih berhenti di “siapa provide rumah dan mobil,” honestly bukan perempuannya yang perlu dipertanyakan.
Tapi kesiapan berpikir laki-lakinya.
Karena pernikahan bukan tentang siapa membawa apa. Tapi tentang apakah dua orang punya kapasitas untuk membangun sesuatu yang jauh lebih besar dari diri mereka sendiri?
Kalau masih melihatnya sebagai transaksi, mungkin memang belum siap untuk menikah.
@baseconvo Kepintaran krn itu salah satu gift dari maha kuasa. Kalo fisik bisa dilatih sesuai keinginan body goal (proposional, kurus, berisi, atau berotot) dalam konteks berat badan yaa
@hanmula Krn itu pengalaman berharga yg jg membuat hubungan kami renggang tp di dlm buku kesalahan tsb bisa diperbaiki asal pria mau belajar memahami perasaan wanitanya. Saat ini diri pribadi fokus intropeksi & perbaiki shg nanti kedapan menikah dgnnya bs jd sosok suami yg dpt diandalkan
Kata bosku, awal dia liat foto aku dgn my semesta dia bilang muka kami mirip dan pinter enerjik dari wajahnya. Yes, emg mirip dgn adik yg di condet wajahnya dan dia wanita tangguh utk keluarganya ❤️
Kata orang sih, jika wajah mirip dengan pasangan, bisa jadi tanda jodoh. Ternyata ini ada konsepnya, yaitu Mimikri Empatik.
Jadi gini, terkadang pasangan itu tidak benar-benar mirip satu sama lain pada mulanya. Ekspresi baru akan terlihat seirama setelah menjalani lembaran tahun bersama; wabilkhusus dalam ikatan pernikahan dan menua.
Mimikri Empatik menyebut bahwa karena melalui empati satu sama lain, pasangan sangat mungkin merasakan emosi yang sama. Usai menjalani dialektika syukur dan sabar, secara tak sadar, ekspresi wajah masing-masing akan makin sama. Otot-otot wajah akan makin adaptif alias membiasakan diri, bahkan termasuk pola kerutan dan penuaan.
Sumber: https://t.co/G4sxmCQKFb