@innovacommunity Circa 2015. Jam 1 malam di saradan, ngikutin truk yg sangat lambat. Marka tdk putus, ikut aturan. Cuma tahan 10 menit, karena jalanan kosong & gelap okelah gpp salip aja. Selang 1 km lebih di depan, ada pak pol nyetop. Di bawa ke pos, pasiennya banyak. Semuanya nyiapin merah2 π€£
@rgoestama Sudah 10 tahun rutin mudik Surabaya-jabar. Sore nanti juga mau jalan.
Sepengalaman saya, jadwal buka tutup tol di medsos jasa marga ga pernah akurat. Buat kita yg dari timur, tutupnya bs lebih cepat, bukanya pasti ngaret. Buang jauh2 harapan itu π
@MafiaWasit Lho, bukane konsep awal kopdes itu memperbaiki rantai pasok komoditas dari peternak, petani, atau sejenis UMKM khas daerah masing2?
Jadi jualan sembako kaya alfa/indo gitu?
@Strategi_Bisnis Kemapanan orang tua ya memang jadi modal penting anaknya. Defaultnya bs provide sekolah dan lingkungan yg lbh berkualitas. Jaman saiki opo2 butuh sing jenenge duit
@famajiid Sekarang banyak kantor2 pemerintah ditarget PNBP pak akibat efìsiensi anggara . Saingan sama siapa? Ga bisa menafikan ya sama swasta juga lhaaa.
@fandalisme Pas usia 20an pernah ada di fase ini. Sekarang 30an mah sdh berdamai dgn nasib. Nyariin postingan temen2, yg lewat akun berita terus. Kalo liat postingan karir atau sama keluarganya ikut seneng. Kdg nemuin profile temen di ig yg udah lama ga update, ternyata udh meninggal π
Studi World Bank tersebut memang mengkaji kapasitas fiskal kota-kota di Indonesia, khususnya 20 kota.
Konteksnya jelas akan berbeda jika kajian dilakukan di negara lain karena karakteristik wilayah, kemampuan fiskal, dan political will yang berbeda.
China merupakan kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia, tentu kemampuan fiskalnya jauh di atas Indonesia. Sementara di India, justru World Bank mendukung pengembangan sistem rail-based perkotaan di beberapa kota.