Teruntuk Coach John Herdman
Coach, baru-baru ini saya mendengar Anda berulang kali mengatakan bahwa bermain untuk Timnas Indonesia berarti mewakili 280 juta jiwa di negeri ini. saya mengangguk dalam hati. benar coach, Ini bukan sekadar hadir, bagi sebagian orang ini adalah napas sebuah bangsa.
Beberapa waktu terakhir ini juga, saya melihat berita, coach memanggil 23 pemain untuk pemusatan latihan di Jakarta pada 26 hingga 30 Mei untuk persiapan awal jelang ASEAN Championship 2026
Saya membaca daftar itu dengan penuh harap, penuh talenta muda, pemain-pemain yang lapar akan prestasi, dan wajah-wajah baru yang membawa angin segar. langkah yang baik, Coach.
Namun sambil melihat nama-nama itu, saya memutar kenangan ke belakang, entah kenapa saya terbawa kembali ke suatu momen, betapa pilunya malam-malam final AFF dulu.
Jalanan yang biasanya ramai tiba-tiba menjadi sepi senyap, orang-orang meninggalkan rumah, berkumpul di balai warga, warung kopi, atau nobar bersama keluarga.
Semua menahan napas, berdoa, berteriak, dan akhirnya menangis dalam diam ketika mimpi itu kembali pupus di garis akhir. seringkali kali kita hampir menyentuh langit, tapi selalu jatuh di ambang pintu juara.
Di tengah pergantian era yang penuh harapan ini, di mana Indonesia mulai diperhitungkan lagi di Asia Tenggara bahkan cita-cita kita ke piala dunia, ada satu nama yang tak pernah pudar di hati saya, atau mungkin banyak orang, pemain tersebut bernama Boaz Solossa.
Legenda hidup yang pernah dua kali merasakan tulang kakinya patah saat membela Timnas Indonesia, tapi tetap bangkit dan terus bermain hingga usianya tak lagi muda.
Maka izinkan kami, orang-orang yang merasakan patah hati dan menangis di Final AFF berkali-kali itu menyampaikan satu permintaan yang tulus, atau mungkin terasa cukup berbeda, Panggillah Boaz ke dalam skuad Timnas untuk ASEAN Championship ini.
Bukan untuk menjadi pemain inti yang terus bermain 90 menit, bukan untuk memikul beban berat, melainkan sebagai simbol indah dari transisi era yang kita jalani, saya percaya lebih banyak efek positifnya dibandingkan efek negatif jika Legenda hidup itu dipanggil ke Timnas Indonesia
Biarkan ia hadir di antara transisi pemain-pemain diaspora yang datang dari Eropa dan talenta-talenta muda dari Sabang sampai Merauke, bagaimana simbol mimpi yang pernah kira rajut pelan-pelan bisa saja terwujud, saya percaya itu.
Jauh sebelum nama-nama hebat kami teriakan di Tribun seperti Jay, Marselino, Ole, Kevin Diks atau pemain lainnya yang menghiasi era transisi ini, ada satu nama yang selalu melekat di hati kami yaitu Boaz Sallosa, gocekannya, lincahnya kakak boci, dan luar biasanya talenta itu, terekam jelas di memori kami.
Kami ingin melihat legenda ini seyogyanya mengenakan jersey Merah Putih sekali lagi, kami ingin menyaksikan ia ikut merayakan, mengangkat piala, dan menutup lembaran air mata masa lalu.
Bukan hanya untuk dirinya, tetapi untuk kita semua untuk membuktikan bahwa semua kegagalan di final-final AFF dulu bukan akhir cerita, melainkan awal dari kejayaan yang sedang kita bangun.
Panggilan untuk Boaz adalah jembatan,
Jembatan antara generasi dengan generasi yang akan menjadi juara, era di mana Indonesia mulai ditakuti lagi, saya percaya kualitasmu sebagai seorang pelatih Coach, karena dirimu membuat Kanada menjadi poros baru di benua Amerika.
biarkanlah sang legenda ikut menuliskan akhir yang manis.
Karena sepak bola adalah tentang mimpi, dan mimpi yang paling indah adalah yang akhirnya terwujud, meski harus patah dan tumbuh berkali-kali.
Terima kasih, Coach.
Jika permintaan ini diijinkan, mungkin saya hanyalah satu dari sekian banyak pendukung Timnas yang akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa ini, kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
Terbang tinggi Garuda
BREAKING: Former Manchester United manager Sir Alex Ferguson has been taken to hospital after feeling unwell at Old Trafford before the side's Premier League match against Liverpool.
https://t.co/SCZLBUhNaz
πΊ Sky 501, Virgin 602, Freeview 233 and YouTube