BRI, Alumni Akuntansi UMY, KEPEMATANG Yogyakarta, HIPMALA Yogyakarta, Muslim Negarawan, Release Fotografy Club, Penikmat Alam Bebas, Gunung Alip-Tanggamus
Pada 21 Agustus 1969, Masjid Al
Aqsha dibakar. Api dengan segera melahap sajadah, mushaf Al Quran, atap masjid dan beberapa bagian-bagian masjid yg terbuat dari kayu. Salah satu yg turut terbakar adalah mimbar yg dibuat pada tahun 1187 dan diletakkan di Al Aqsha oleh pemimpin dan pahlawan umat Islam Shalahuddin Al Ayyubi, sang pembebas dan pembuka Al Quds pada tahun yg sama setelah mengalahkam tentara salib yg dipimpin oleh Richard I (The Lionheart) dari Inggris setelah berkuasa hampir 1 abad di sana.
Pelaku pembakarannya adalah seseorang yg berasal dari Australia bernama Dennis Michael Rohan yg didukung penuh oleh pemukim pendatang Zionis Israel lainnya di sana. Umat Islam setempat berusaha memadamkan api tersebut. Namun, upaya tersebut dihalangi oleh tentara Zionis Israel.
Dennis Michael Rohan ditangkap dua hari kemudian pada tanggal 23 Agustus 1969. Namun dibebaskan atas alasan gangguan jiwa.
Hal yg lebih ‘menarik’ adalah pernyataan Perdana Menteri Israel Golda Meir (PM perempuan satu-satunya) pada saat terjadinya kebakaran di Masjid Al Aqsha tersebut. Ia mengaku tidak bisa tidur karena takut negara-negara Arab sekitar dan dunia Islam menyerang Israel sebagai bentuk perlawanan atas terbakarnya Masjid Al Aqsha dan juga kekalahan perang Enam Hari pada tahun 1967, dua tahun sebelumnya. Namun, besoknya ternyata tidak terjadi apa-apa.
Muncullah pernyataan Golda Meir yg diabadikan dalam catatan sejarah yg seharusnya menjadi tamparan keras negara-negara Arab dan dunia Islam:
“Aku tak bisa tidur di hari ketika Al Aqsha terbakar. Dan aku mengira hari itu Israel akan musnah. Namun ketika aku menjumpai pagi, ternyata malah Arab dan Islam-lah yg sedang tertidur”.
Hari ini, 54 tahun setelah terbakarnya Masjid Al Aqsha dan pernyataan Golda Meir, apakah Arab dan dunia Islam masih tertidur? Semoga saja tidak.
Praying for humanity. 🤲🏼 Praying for peace. 🤲🏼🇵🇸 Innocent people and especially innocent kids are losing their lives in the war - on both sides. It's so heartbreaking & sad. 😥💔 PLEASE STOP THE WAR!!! ❌❌❌
NASIB LAMPUNG dan SIKAP JAWA SENTRIS
Mesir, Arab, Afrika, China, Mongol, India, Portugis, Inggris, Belanda, sampai Jepang datang ke Tanah Punt (Lampung) tidak mengubah simbol2 adat secara berarti.
Tapi ketika datang transmigrasi, ngacak2 adat dan budaya.
Perasaan baru aja sembuh batuk-pilek setelah 2 minggu. Kok udah sakit lagi? Udah gitu nular ke kakak/adiknya, dan nular ke ayah-ibunya pula. Wajarkah selesma tiap bulan pada anak? Sebuah utas
Kira2 beginilah suasana waktu UAS menyeberang laut dari Batam menuju Singapore bersama anak dan istrinya. Setelah begitu lelah perjalanan tiba2 ditolak tanpa alasan yg masuk akal. Alhamdulillah beliau berada di negeri sendiri disambut dengan meriah.. Madura Bergelora! 😂
Kalo ngikutin standar cuitan bacot netizen masa kini, di umurku yang sekarang seharusnya aku sudah bisa keliling dunia, foya-foya hasil kebebasan finansial dan mengendalikan decacornku yg sudah go public dari manapun aku berada. Tapi kenyataannya nggak begitu dan nggak apa-apa.
Cara pemerintah menjual perhelatan MotoGP di Sirkuit Mandalika sudah bak orang kehilangan akal sehat. Segala cara seolah-olah dihalalkan demi suksesnya balapan motor di Lombok, Nusa Tenggara Barat, itu. #Editorial#KoranTempo
Selamat sore bos..
Soal toa itu kearifan lokal masing masing aja, pemerintah tidak usah ngatur-ngatur.
Disemua kampung toa malah jadi hiburan, selain syiar agama..
Cabut aja aturan-aturan yang gak perlu ..