Ada nasehat dari Si Sultan Hamengkubuwono X, jika dari daerah lain yang ingin merantau ke Yogyakarta.
Dia misalnya orang Batak, dia orang Kalimantan, dia orang Sulawesi, tapi tinggal di Jogja.
Jangan jadi orang Jawa.
Jadilah orang Batak yang baik, jadilah orang Sulawesi yang baik, jadilah orang Kalimantan yang baik.
Itu lakukan tanpa membedakan. Supaya apa? Supaya masyarakat juga semuanya bisa membangun komunikasi.
Nasehat ini tentu tidak menghilangan asal usul dari daerah masing-masing perantau tapi jalinlah komunikasi akan tercipta harmoni antar sesama.
Renungan subuh :
Ini yang dicari dari dulu. Makna lengkap dari yang sering didengar terutama sebelum adzan Subuh.
Maa Syaa ALLAAH....
Jadi merinding dengarnya ...
Semoga setelah melihat dan menyimak video tsb, semua sobat TL yg muslim mendapatkan pencerahan ...
Mujer musulmana en un taxi:
"Disculpe, ¿podría apagar la música?"
Taxista: "¿Por qué?"
-"La música es haram (prohibida)."
-"¿Por qué es haram?"
-"Porque en la época del profeta Mahoma no había música."
El taxista apaga la música, avanza unos metros y para el coche:
-"Muy bien, ahora bájese".
-"¿Por qué? Aún no hemos llegado."
-"Porque en la época del profeta Mahoma tampoco había taxis. Espere a que un camello la recoja."
ada santri nanya orang kristen bisa masuk surga gk ?
Santri: Cak, kebetulan teman profesi saya beragama Hindu. Beliau sering tanya, nanti setelah mati, selain agama Islam, apakah bisa masuk surganya Allah?
Cak Nun: Sangat bagus pertanyaanmu itu. Tapi ini soal antara qat'i dengan dhanni. Qat'i itu sesuatu yang pasti. Tapi pasti bagi siapa? Bagi kita, itu jadi tidak pasti. Yang kedua, dhanni itu berprasangka kira-kira masuk atau tidak masuk.
Santri lain: Mbah, apakah selain Islam bisa masuk surganya Allah?
Cak Nun: Itu jawabannya qat'i, Mas dan qat'i itu pasti. Tapi coba, aku tanya balik: kamu sendiri pasti masuk surga?
Santri: ...Ragu-ragu, Cak.
Cak Nun: Nah, kan. Dan tidak mungkin ada kepastian, karena kepastian hanya ada di tangan Allah. Kita hidup ini cuma mudah-mudahan "laallakum", bukan kepastian. Sama seperti puasa: kutiba 'alaikumus-shiyam... laallakum tattaqun supaya kamu bertakwa, bukan "supaya kamu pasti jadi takwa". Dinamis, kadang naik kadang turun.
Santri: Jadi bagaimana sikap kita, Cak?
Cak Nun: Kalau saya, posisinya sederhana: ayo didoakan saja. Mudah-mudahan semua orang yang baik diterima Allah, dimasukkan surga. Karena dia Hindu, Buddha, Kristen, atau Islam, itu urusan dia sama Allah bukan urusan saya. Kalau dia bersyahadat, itu kepada Allah, bukan kepada saya. Jadi saya tidak punya urusan menghakimi itu. Yang penting, doakan saja, dan pastikan dia jadi teman yang baik.
Penghasilan negara ini 82% dr pajak
Pajak itu yg bayar rakyat, bukan anggota DPR, PSN, TNI ato Polri.
Tapi ketika rakyat menyampaikan kritik jawabannya: apa yg sudah kamu berikan pd negara??!!!
Belum pejabat yg suka ngremehin rakyat!
Heeiiii...
Klo rakyat berhenti bayar pajak, pejabat2 itu makan dr mana?
Sementara penguasa saat ini ugal2an mengelola uang negara demi kroni2nya... Seolah uang itu milik nenek moyangnya.
Bagus kan? 😓