Di antara kemewahan ruh yang paling luhur adalah ketika kesendirian bersama dirimu sendiri menjadi kenikmatan yang sejati. Sebab barang siapa tidak menemukan keakraban dengan dirinya, niscaya ia tidak akan menemukan keakraban pada apa pun selainnya.
Luka mengajarkan apa yang tidak diajarkan oleh nikmat, dan nikmat mengajarkan apa yang tidak diajarkan oleh luka. Keduanya adalah sayap yang mengangkat ruh menuju Sang Kekasih.
Salam perpisahan hanya berlaku bagi cinta yang terpaut pada pandangan. Namun bagi cinta yang bersemayam dalam ruh dan hati, tiada jarak, tiada kehilangan, dan tiada perpisahan selamanya.
Engkau berada dalam kedamaian ketika tidak lagi menginginkan lebih ataupun kurang;
ketika engkau tidak berusaha menjadi raja ataupun orang suci;
ketika engkau terbebas dari duka-duka dunia;
dan ketika engkau merdeka bahkan dari zarrah paling kecil dalam dirimu.
Wahai qalb, bernaunglah hanya di bawah pohon yang berbunga;
sebab di sanalah kasih berteduh,
di sanalah ruh bertumbuh,
dan di sanalah engkau tak sekadar dipahami,
melainkan diterima dalam hakikatmu.
Engkau berada dalam damai
ketika tak lagi merasa kurang ataupun lebih,
ketika tak berhasrat menjadi raja ataupun suci di mata manusia,
ketika perlahan melepaskan beban duka dunia,
dan ketika terbebas bahkan dari butir paling halus dalam dirimu sendiri.
Jangan berlama-lama terpaku pada yang telah berlalu.
Yang pergi bukan sekadar kehilangan
ia adalah cahaya yang diam-diam melatih matamu untuk melihat lebih jernih.
Dan yang masih menunggu di hadapanmu
akan menuntunmu, perlahan,
untuk belajar menjadi diri yang lebih utuh.
Mengasinglah sejenak dari riuhnya dunia,
agar serpihan jiwamu kembali menyatu.
Sebab jarak dan perpisahan bukanlah luka semata
ia adalah guru sunyi yang menumbuhkan kedewasaan batin,
menghaluskan rasa, dan menuntun jiwa perlahan menuju utuhnya diri.
Andai kau tahu betapa kasih-Nya melingkupimu,
takkan kau tangisi sepinya malam.
Dia tak menunda untuk menyakiti,
melainkan menata hatimu
agar layak menerima yang lebih luas dan kekal.
Dan kelak, saat engkau tiba di ujung perjalanan,
barulah tersingkap bagimu:
bahwa yang kau sangka beban adalah bimbingan,
yang kau kira kesesatan adalah pelukan rahmat
yang diam-diam menuntunmu pulang kepada-Nya.
Seberat-berat jalan adalah jalan yang hikmahnya masih terselubung dari pandangmu.
Namun ketahuilah, tiada sekali pun Allah menuntun langkahmu ke suatu lorong
melainkan rahmat-Nya telah lebih dahulu singgah di sana.
Engkau bukanlah makhluk rapuh sebagaimana sangkamu;
pada tulang-tulangmu tertanam teguhnya gunung,
pada hatimu mengalir jernihnya mata air,
dan pada ruhmu bersemayam nur yang takkan dipadamkan
meski seluruh gelap dunia berhimpun memeluknya.
Tatkala segala pelita dalam dirimu seakan padam dan malam menyelubungi batinmu,
janganlah engkau tergesa mencari cahaya dari luar;
menyelamlah ke kedalaman ruhmu,
sebab di sana terbit matahari yang telah Allah nyalakan sejak awal penciptaanmu.
Setiap kali engkau diremukkan oleh takdir, Dia membentukmu kembali pada fitrahmu;
kian dekat engkau kepada-Nya, kian renggang engkau dari gemerlap dunia.