Adik-adik, kakak-kakak semuanya. Kali ini gw mau bicara tentang sesuatu yang sudah menyiksa rakyat Indonesia selama bertahun-tahun. Bukan korupsi. Bukan inflasi. Tapi sesuatu yang lo rasain setiap kali mau mudik atau liburan dan buka aplikasi Traveloka, lalu langsung menutup aplikasinya lagi karena tidak sanggup melihat angkanya.
Yes. Tiket pesawat domestik Indonesia. Yang harganya bisa lebih mahal dari tiket ke luar negeri. Yang bikin relawan bencana harus muter lewat Malaysia dulu baru bisa ke Aceh. Yang udah dikeluhkan jutaan orang tapi tidak pernah beneran berubah.
Gw udah baca risetnya. Gw udah cek datanya. Dan sekarang gw mau cerita ke lo semua, pelan-pelan, dengan bahasa yang bisa dimengerti semua orang, kenapa ini terjadi dan siapa yang sebetulnya diuntungkan dari penderitaan kita bersama. 🧵
Buat yg jarang pake kuota karena di rumah pake Wifi, di kantor pake Wifi, WFC pake Wifi, wicis kuota cmn kepake pas di jalan doang, gw saranin pake 3 aja.
Krn ada paket Always On.
Masa Kuota-nya ngikutin masa kartu, ini gw trakir beli kuota November taon lalu kayaknya 😂
Aku pernah mengajar di KELAS PRAKERJA.
Itu kan GRATIS ya.
Tahu gak POV-ku sebagai pengajar gimana?
Sebagai gambaran:
Tiap kelas berlangsung 5 hari.
Tiap sesinya 3 jam.
Itu aku berasa bicara dengan tembok 🥲
Hampir semuanya OFF CAM dan PASIF.
Buka sesi tanya jawab,
gak ada yang nanya.
Lalu, pas dikasih tugas tahu gak apa yang kudapat?
Anggap ada 15 peserta.
Itu bisa 10-12 nya ngerjain asal-asalan.
Bahkan ada yang kelihatan banget pake chatGPT 😭
Ya, kelas gratis sering yang datang MENTAL GRATISAN.
Mau cerita lain dari contoh ilmu yang dikasih GRATIS?
Aku punya grup menulis.
Terbuka dan gratis untuk umum.
Semua bisa diskusi dan belajar di situ.
Tapi, KALAU MAU ✨
Karena yang kudapat banyak banget SILENT READER.
Tiap aku sharing materi,
sepi dari tanggapan.
Padahal yang "seen" itu banyak banget.
Sementara itu, di balik materi webinar hingga komunitas, ada effort yang kucurahkan. Ada waktu yang kugunakan buat nyiapin materi. Ada pengalaman yang kubagi cuma-cuma.
Di situ aku punya kesimpulan:
MENTAL GRATISAN dan MENTAL SIAP BAYAR itu berbeda ✨
Contoh:
Aku beberapa kali itu bootcamp berbayar.
Di sana suasananya aktif sekali.
Sesi tanya jawabnya hidup.
Tugas dikerjain sungguh-sungguh.
ILMU BERBAYAR ternyata jauh lebih dihargai dari ILMU GRATISAN.
Nah, kalau ada yang bilang "Kok ujung-ujungnya jualan kelas?"
Ya, buat menyaring siapa saja yang siap dengan ilmu.
Termasuk menghargai yang membagikan ilmunya ✨
Pedagang mobil bekas itu punya insting.
Mereka bisa bedain mana pembeli yang polos, mana yang ngerti barang. Dalam 30 detik pertama.
Lo dateng, elus-elus bodi, duduk di jok, terus nanya "AC-nya dingin gak mas?"
Dalem hati mereka udah senyum. Mangsa empuk. Mark up Rp 15 juta.
Tapi coba lo dateng langsung jongkok di depan mobil, raba celah antar panel, buka kap mesin, cabut dipstick, senter kolong.
Pedagangnya langsung keringat dingin.
Jadi peneliti Stanford ngetes 11 AI model paling populer termasuk ChatGPT dan Gemini. Mereka analisa lebih dari 11 ribu percakapan nyata orang yang minta saran ke AI.
Dan hasilnya sama semua.
Setiap AI setuju sama penggunanya 50 persen lebih sering dibanding manusia biasa.
Artinya apa?
Waktu lo cerita ke ChatGPT soal berantem sama pacar, konflik di kantor, atau keputusan yang lo ragu AI itu hampir selalu bilang lo yang bener.
Bukan karena lo emang bener. Tapi karena itu yang bikin lo senang. Dan AI ditraining buat bikin lo senang.
Yang lebih gelap lagi peneliti nemuin bahwa AI ini tetap validasi penggunanya bahkan waktu penggunanya cerita lagi manipulasi orang lain, nipu teman, atau nyakitin orang lain.
AI nya gak protes. Gak nantang. Malah supportif.
Terus mereka lakuin eksperimen yang lebih nyata. 1600 orang lebih diskusi konflik pribadi mereka sama AI. Sebagian dapat AI yang selalu setuju. Sebagian dapat AI yang netral.
Hasilnya ngeri.
Kelompok yang dapat AI tukang iya iya jadi lebih susah minta maaf. Lebih susah kompromi. Lebih susah lihat sudut pandang orang lain.
Mereka jalan keluar dari percakapan itu jadi versi yang lebih egois dari diri mereka sendiri.
Dan yang paling ironis mereka yang dapat AI tukang iya iya itu justru bilang AI nya lebih bagus. Lebih mereka percaya. Lebih mau mereka pakai lagi.
AI yang bikin mereka jadi orang yang lebih buruk terasa seperti produk yang lebih baik.
Dan ini yang bikin siklusnya berbahaya.
Pengguna suka AI yang selalu setuju. Perusahaan train AI buat bikin pengguna happy. AI makin jago muji. Pengguna makin gak bisa introspeksi diri.
Tiap hari jutaan orang minta saran ke ChatGPT soal hubungan, konflik, keputusan hidup.
Dan tiap hari hampir semuanya dapat jawaban yang sama.
Lo yang bener. Mereka yang salah.
Bahkan waktu kenyataannya kebalikannya.
Barang kali ada yang butuh info per core tax an.
Bisa ke link ini ya. Isinya bangak bet dah. Tutorial tutorial.
Semoga bermanfaat! Makasi DJP!
https://t.co/RVcjXPwe8D
Melapor pajak bervariasi kesulitannya di berbagai negara. Berdasarkan data World Bank 2020, Indonesia butuh sekitar 173 jam/tahun, Estonia 105 jam (sangat mudah via online), AS 159 jam, Singapura 91 jam, Brasil 274 jam (lebih rumit). Coretax baru dimaksudkan menyederhanakan, tapi banyak umpan balik soal kerumitannya. Di negara maju, sering lebih sederhana dengan teknologi.
Kenapa Jaman Soeharto Lebih Enak?
Karena hidup terasa stabil.
Harga-harga jarang naik.
Sekolah, jalan, dan irigasi banyak dibangun.
Televisi bicara soal pembangunan, bukan keributan.
Dan semua tampak aman. Tenang. Terkendali.
Tapi di balik ketenangan itu, kekuasaan terkonsentrasi di satu keluarga.
Selama 32 tahun, uang publik berputar di lingkaran kecil bisnis kroni dan yayasan pribadi.
Nilai kekayaan tidak sah yang dikaitkan dengan Soeharto diperkirakan mencapai US$ 15–35 miliar,
setara dengan Rp 400–1.000 triliun dalam nilai uang sekarang.
Lalu ketika ia turun tahun 1998,
Sang "Pahlawan" tidak mewarisi kemakmuran, tapi utang lebih dari Rp 550 triliun,
sekitar 58 persen dari total ekonomi nasional saat itu.
Beban itu tetap kita cicil lewat pajak, inflasi, dan kebijakan anggaran sampai hari ini!
Masalahnya tidak berhenti di situ.
Korupsi dan inefisiensi birokrasi selama Orde Baru menghambat produktivitas nasional.
Menurut simulasi ekonomi, jika sistem pemerintahan saat itu bersih,
dan pertumbuhan ekonomi naik hanya 1,5 poin persen per tahun (dari 7 persen menjadi 8,5 persen),
maka dalam 32 tahun ekonomi Indonesia bisa dua kali lipat lebih besar dibanding kenyataan.
Potensi yang hilang sepanjang periode itu setara dengan Rp 7.000–8.000 triliun dalam nilai sekarang.
Uang sebesar itu bisa membiayai pendidikan gratis untuk seluruh anak Indonesia,
membangun ribuan rumah sakit, dan mengangkat jutaan keluarga dari kemiskinan.
Seandainya Soeharto tidak korupsi, Indonesia bisa masuk ke jajaran negara maju sejak awal 2000-an.
Kita tidak akan terjebak dalam lingkaran utang, subsidi, dan ketimpangan yang masih terasa sampai hari ini.
Jadi kalau ada yang bilang "jaman Soeharto lebih enak",
mungkin iya, karena rakyat hanya merasakan stabilitas di permukaan.
Tapi di bawahnya, masa depan bangsa sudah dijual jauh sebelum reformasi dimulai.
I think we’ll see more Korean artists start to onboard the cause since public sentiment is shifting towards pro Palestine. This is NOT a time to berate artists for being late. Better late than never. Let’s just hope this will make the impact we need to end this insanity
@Oda_Grixxx@c0rel16@efraimsthoughts lihat kalimatmu sendiri? "emang pengen menggunakan 'English' "? maaf tapi it should be "bahasa inggris" instead of "english" . gausah campur campur sok british
when jae leave, at first i still trusted day6 members because jae trust them. then they release "fourever" and it feels like pouring salt over a wound...
I was a fan of day6 since 2017, I know their story and their journey until now, I have all their albums up to Negentropy but... everything changed since Jae and Sungjin took a break for their mental health and then Jae's departure was the breaking point for me
i threw the whole series away after i saw how the night king died. Not to belittle arya but... BUT at least they shouldve made it more spectacular somehow??? and watchable??? i remember set my laptop brightness to max just to watch that scene 😭
that script was so bad that emilia clarke had to re-read it 7 times when she first got it, cried, and then went on a walk for 5 hours around london until she had blisters on her feet 😭