Nonton ulang *freekick* Messi lawan Jordan kemarin bener-bener bikin geleng-geleng kepala.
Waktu diskusi bareng para pecinta bola soal *reaction time*, kami sadar kalo hal ini sangat krusial walau cuma sepersekian detik apalagi di olahraga level tinggi.
Kebanyakan orang mikir *freekick* yang mematikan itu selalu soal *power* tendangan yang kencang atau kurva bola yang melengkung tajam.
Tapi di momen ini, Messi ngebuktiin kalau kadang senjata yang paling bahaya itu adalah "nyolong" waktu kiper.
Coba perhatiin deh detail dari video analisis FIFA ini. Jaraknya sekitar 24 meter. Dari jarak segitu, bola tendangan langsung bisa nyampe ke gawang dalam waktu kurang dari 1 detik.
Secara fisiologis, ini ngasih kiper waktu yang super sempit buat memproses visual, ngambil keputusan, sampai akhirnya otot mengeksekusi gerakan.
Nah, jeniusnya Argentina di sini adalah pada eksekusi taktik, mereka bikin tembok kedua dari pemain sendiri. Tiga pemain Argentina sengaja diposisikan di depan tembok pemain Jordan. Tujuannya? buat nutupin garis pandang kiper di momen krusial saat bola ditendang.
Dampaknya fatal buat kiper. Dia kehilangan *reaction window* yang sangat berharga. Karena pandangannya terhalang, dia nggak bisa memprediksi lintasan bola dari titik kontak kaki Messi. Pas bolanya udah ngelewatin tembok dan kelihatan, semuanya udah terlambat, gol pun terjadi.
Ini contoh nyata di lapangan kalau *advantage* terbesar itu nggak selalu tentang kekuatan fisik tambahan, tapi sekadar ngilangin sepersekian detik waktu reaksi lawan. Strategi yang kelihatannya simpel banget, tapi efeknya luar biasa mematikan.
Ada yang sempet ngeh sama taktik ini pas nonton?
Istrinya Bapak itu tipe yang gak pernah sakit.
16 tahun nikah. Dia ke dokter cuma dua kali: waktu hamil anak pertama, dan hamil anak kedua.
Pernah demam? "Gak papa, besok juga sembuh."
Pernah pusing? "Biasa, kurang tidur aja."
Aku pikir dia memang KUAT, itu pengamatanku, karena sangat dekat dengan beliau, saudara.
Sampai suatu malam, HP-nya ketinggalan di meja makan. Layarnya nyala. Dan Bapak itu lihat riwayat Google-nya.
Kenapa zaman sekarang makin banyak orang gagal dalam relationship?
Yang single susah dapat jodoh, yang menikah susah bertahan. Bukan cuma di Indonesia, ini fenomena global.
Dan itu semua gara-gara Netflix dan TikTok!
Penjelasannya bakal bikin kamu kaget, baca sampai habis.
Giacomo Bonaventuran resmi pensiun di usia 36 tahun setelah tanpa klub selama 8 bulan terakhir.
Bonaventura adalah salah satu cerita paling manis dan bikin hati hangat di era Milan yang lumayan gelap pasca Scudetto tahun 2011.
Agennya, Giocondo Martorelli mengatakan bahwa Jack, sapaan akrab Bonaventura, menangis saat menandatangani kontrak untuk Milan pada tahun 2014 silam.
Seorang anak kecil dari San Severino Marche yang bermimpi bisa bermain di San Siro itu, akhirnya bisa mewujudkan mimpi masa kecilnya, berseragam merah-hitam Rossoneri.
Debutnya bersama Milan langsung bikin gol saat Milan menang dramatis dengan skor akhir 4-5 lawan Parma di Serie A.
Musim pertamanya, Jack berhasil catatkan 7 gol dan 5 assist di semua kompetisi. Yang paling memorable mungkin saat pertandingan Supercoppa 2016 lawan Juventus di Doha. Jack berhasil mencetak gol penyama kedudukan, dan berhasil membawa Milan juara lewat adu penalti, trofi satu-satunya di banter era.
Namun ceritanya di Milan tak selalu mulus. Cedera seringkali membuatnya absen lama, tapi bangkit lagi dengan semangat yang sama, meski pada akhirnya cedera lututnya benar-benar memupus mimpinya untuk berseragam Milan lebih lama.
Secara keseluruhan, ia tampil sebanyak 184 kali bersama Milan. Berhasil mencetak 35 gol dan 30 assist, statistik yang luar biasa buat seorang gelandang yang sering absen karena cedera.
Sampai akhirnya di musim 2019/20, kontraknya yang habis di tengah pandemi, tak diperpanjang oleh manajemen Milan.
Meski tak diperpanjang, ia tak menyimpan dendam. "Saya tidak kecewa. Saya sudah tahu sejak 1 Januari bahwa Saya tidak akan bertahan (di Milan). Saya mencoba menyelesaikan musim dengan cara terbaik."
Laga terakhirnya di San Siro cukup menggetirkan meski Milan menang 3-0 lawan Cagliari. Masuk sebagai pemain pengganti, ia hanya bermain beberapa menit saja. Saat peluit akhir berbunyi, Jack berlutut sendirian di lapangan cukup lama sambil meneteskan air mata.
“Aku tahu ini terakhir, aku tidak mau meninggalkan San Siro. Aku ingin laga itu tidak pernah berakhir.” ucapnya seusai pertandingan.
Tidak ada sambutan megah dan tidak ada banner perpisahan dari Milanisti karena tribun memang dikosongkan karena COVID.
Jack mungkin bukan bintang top seperti halnya Maldini atau Kaká, tapi dia adalah wujud ketulusan di tengah masa suram.
"Saya ingin menyendiri di sana sejenak. Setelah bertahun-tahun di San Siro, itu adalah momen ketika Saya merasa bersyukur atas apa yang telah berhasil Saya lakukan di sana." Bonaventura terkait pertandingan terakhirnya bersama Milan.
Terima kasih Jack, atas enam tahun penuh emosi dan cinta. Selamat pensiun, San Siro selamanya punya tempat spesial untukmu. Selalu.
Final interview. HR tanya: "Ekspektasi gaji kamu berapa?"
Otak lo blank.
Lo jawab: "Sekitar 15 juta, Pak."
HR senyum. Nulis di kertas.
Lo baru aja kehilangan 5 juta per bulan dalam 5 detik.
Ini jawaban yang BENER biar lo bisa dapet gaji terbaik pas negosiasi:
@tanyarlfes terima aja der. karna kita tetep butuh penghasilan buat hidup. tapi tetep kata-katain pemerintah sih der wkwk. apalagi lu bisa bongkar bobroknya sistem di sppg karna lu bagian dari itu
Hari-hari kemarin dipenuhi cerita cintanya Tegar, Rosie, dan Sekar. Minggu ini dengan Zaman yang menyelidiki hidupnya Sri Ningsih. Oktober penuh dengan Tere Liye hahaha
Menurutku, cinta yg akan berhasil bukan yg kenangannya paling banyak. Bukan yg paling romantis. Bukan juga yg paling berani. Sebab cinta bukan siapa cepat dia dapat. Tapi soal yg ditakdirkan. Jadi berusahalah mengejar Sang Pemberi Takdir. Dan semoga 'lariku' ke arah yg tepat.
"Hei, ada yg berlari ke arahmu"
Setelah menghabiskan malam menjadi saksi turunnya bulan dari singgasananya, menikmati tua dan dosa yg makin tumbuh beriringan, namun kamu yg masih jadi subjek yg sama, yg ternyata tak pernah hilang, tak seperti asap dari tembakau yg kuhisap.
MENIHILKAN GASPERINI?
Coba tengok akun-akun ramai followers favorit kalian terkait final liga poconk kemarin. Patternnya: jika menang, Xabi hebat. Jika kalah, Xabi melakukan kesalahan. Begitu narasinya kan?
Padahal, perjalanan Atalanta tidak mudah:
- Pulangin Sporting si juara liga; dilatih Amorim (hot property), punya striker Viktor Gyokeres (katanya sich striker ganas). 2 sesi loh, di grup dan di fase gugur.
- Pulangin Liverpool yang saat itu peringkat 1; bantai di kandang, kasih kecup hangat ke Klopp sebelum vakum karena capek balbalan, lalu memberi pesan ke penikmat liga tendang lari bahwa mereka bukan pusat semesta.
- Kasih reality check ke Leverkusen di final. Kasih 3 gol tanpa balas dan tanpa perlawanan. Kasih tau bahwa saat kalian lagi cari orgasme dengan ide 3 bek, Gasperini udah dapet klimaks dari belasan tahun lalu dengan formasi tsb. Tetap respect dengan Xabi, invincible (lokal) is not for everyone.
Suka tak suka itulah media.
Namun, jihad kita adalah menyiarkan pesan jangan menihilkan suatu pencapaian, bahwa;
Atalanta pantas juara & Gasperini pelatih hebat kan?
Ps:
Bagi yang minim literasi soal liga italia dan lagi ngintip tweet ini... Atalanta & Gasperini sudah hebat, bahkan jauh sebelum mereka raih piala.
Salam dari Ilicic, Papu Gomez & German Denis
ODE UNTUK MISTER 19
Apa sih hal di dunia ini yang mudah ditebak? Ya, berita Stefano Pioli selesai di Milan.
Gimanapun, pelatih ini punya rekor kemenangan 55% di Milan. Jumlah pertandingan yang ia pimpin dari bench juga udah lewatin Arrigo Sacchi. Ia pula yang mentato abadi lengannya dengan perisai tricolore bernomor 19, dia yang namanya mendominasi komentar di setiap twit Info Serie A. Admin nulis apapun yang ga ada hubungannya dengan Pioli, juga tetep ada yang balesnya pake Pioli. Udah kaya Roy yang ngatain Doel dan Mandra pas ketemu di rumah Sarah, padahal mereka ga pernah usil sama dia.
Impression “Pioli” dengan segala imbuhan, sisipan dan akhiran segala rupa memang jadi konklusi kariernya di Milan yang bagaikan perjalanan orang yang terlalu terpaku google map. Dari jalan besar yang beneran lancar, eh ketemu jalan sempit pematang sawahnya Surti Tejo yang ga muat mobil. One hell of ride.
Kayaknya sulit nemu pelatih yang sebelum kedatangannya udah dikasih tagar out, tapi itulah kenyataan Pioli. Datang2 diwarisin skuat bingung Giampaolo yang naro Suso di trequartista dan Borini di mana aja asal ada. Rasa banter era yang begitu kental dengan pesimisme, tanpa mental pemenang berujung segala komedi di lapangan, lalu klimaksnya bisa dia liat sendiri dari gocekan Josip Ilicic dan tarian Gasperini di Bergamo.
Manajemen tentu nyaris kehilangan akal. Sang profesor Ralf Rangnick bahkan udah dihubungi buat nyelametin musim dari kebakaran. Untungnya manajemen masih sabar dan bisa lihat sisi baik dari segala hal. Di balik keraguan besar, ada potensi besar dari Pioli. Bapak ini bawa aura ketenangan ala bapak-bapak sukses yang gak banyak koar-koar di acara reuni. Tapi sekalinya dia ngomong, singkat aja, dia bayarin semua makanan di kafe tanpa split bill, bikin penyewa iphone pada bengong.
Saat dunia berhenti sejenak oleh pandemi 2020 awal, banyak karyawan yang gegar meeting online sampai bingung gimana cara ganti background. Eh malah Pioli nemu ide lewat tontonan favorit barunya: tim2 Jerman.
Jurus ngejar bola secara obsesif, ngerebut dengan cepat, menangin second ball lalu oper satu-dua kali aja lalu shoot ke gawang lawan adalah hal yang gak biasa ditemui tim2 Serie A pada masanya. Grasak grusuk they said. Apapun itu, Pioli ngebawa angin badai sekembali masa lockdown, Milan tampil bagai der Panzer era 2000an dengan pengecualian era Erich Ribbeck. Ante Rebic rutin cetak gol ajaib, Ibrahimovic comeback dengan elegan ngebalikin komentar pundit-pundit sarkas, Leao juga dibiarin nikmatin permainannya, belum lagi Theo yang makin ngebut.
Akhirnya Rangnick kena korban cancel mendadak demi ngasih kesempatan Pioli. Di bawah komando pelatih ini, hasil2 positif mulai datang. Pioli yang semula diremehkan perlahan tapi pasti mulai bawa Milan keluar dari terowongan panjang nan gelap banter era.
Long story short karena ini bukan podkes, Pioli bawa Milan ke UCL, lalu kemudian meraih scudetto ke 19 dengan perjalanan yang epik. Mau bilang scudetto hoki, tim scudetto terwakwaw, tapi lo gak bisa hapus tato perisai itu dari Pioli selamanya. Gak ada yang bisa cancel gocekan alus Giroud ke De Vrij, selebrasi Tonali di Olimpico, goyangan Leao ngolongin Gian Marco Ferrari hingga solo run Theo ngebelah Bergamo Boyz lalu ngejebol Juan Musso yang geraknya ke kiri.
Lalu kemudian, semuanya jadi serba salah. Emang sih Milan lolos ke UCL, tapi ya masih sulit melangkah jauh, terkecuali semifinal 2023. Beberapa pertandingan juga dijalanin tanpa arah, terlebih kekalahan derby yang selalu jadi keniscayaan bagai Nobita tiap ketemu Giant. Emang siklusnya udah selesai aja.
Sebenernya menarik ditunggu comeback dari Pioli ke salah satu tim Serie A. Teruslah bawa ide2 segar yang membingungkan pelatih online, dan kejutkanlah Italia kembali bahkan saat semua orang meragukan, Mister! Tapi untuk saat ini, enjoy your time, jangan pedulikan siapa pun. Mainlah ke rumah teman lama hingga disuguhi gelas ketiga, lalu pulang jam sembilan malam.
Terima kasih, Mister!