Arogansi Kyai Achyar sungguh melukai demokrasi yg telah dibangun dg susah payah di organisasi Nahdlatul Ulama. Seorang Ketua Umum yg dipilih melalui Muktamar cukup dilengserkan oleh satu-dua orang !
Catat ya, ini awal yg buruk !
Gara2 terkena galian pipa air bersih, @IndiHomeCare@Telkomsel di sebagian wilayah Tegal Barat Jateng mati total. Sejak Kamis malam (6/11/2025) sampai hari ini (9/11/2025). Gimana ini ?
Aku yakin kali ini KPK merasa terpampar, ketika sebuah partai mem'framing' Lembaga anti rusuah itu saat ini sdh menjadi alat politik kekuasaan. Pdhl setahuku, kalaupun KPK dipolitisir Penguasa paling2 hanya menunda/menghentikan perkara, bukan membangun 'fiksi perkara'.
DENGAN MODAL AWAL 1 PELETON PASUKAN, BERHASIL MENGGULUNG PEMBERONTAK YANG BERKEKUATAN 1 DIVISI.
Penumpasan G30S/PKI bukanlah operasi militer yang melibatkan kekuatan yang seimbang, sebab gerakan pemberontakan berdarah itu berhasil menghasilkan efek kejut yang mampu membuat TNI-AD mengalami kelumpuhan dalam hal garis komando.
Lumpuhnya struktur komando TNI-AD disebabkan oleh penculikan pucuk pimpinan TNI-AD berikut beberapa pejabat teras dibawahnya oleh gerombolan pemberontak G30S/PKI, secara otomatis garis komando tak terpenuhi sehingga menimbulkan terganggunya sistem koordinasi terhadap struktural dibawahnya.
Secara militer, di fase awal G30S/PKI berhasil melumpuhkan slagorde TNI-AD. Maklum saja, G30S/PKI sudah dipersiapkan selama kurang lebih 1 bulan sebelum gerakan dilakukan, dalam kurun waktu tersebut komplotan pemberontak berhasil mengkoordinir beberapa unit militer dan milisi bersenjata yang secara keseluruhan berkekuatan setara dengan 1 divisi.
Sementara di pihak TNI-AD, hampir seluruh pasukan sempat tak berfungsi secara normal dikarenakan kehilangan komando. Di pagi itu, tanggal 1 Oktober 1965 menurut tradisi internal hanya tersisa seorang jenderal TNI-AD yang memiliki kewenangan untuk mengambil alih komando setelah seluruh pejabat teras TNI-AD berhalangan, yakni Pangkostrad yang dijabat oleh Mayjen Soeharto.
Dan tak banyak orang yang memahami terkait tradisi di internal TNI-AD kecuali sesama pejabat teras TNI-AD itu sendiri, terlebih lagi tradisi garis komando ini merupakan norma tak tertulis, membuat pihak diluar TNI-AD tak mengerti kebiasaan tersebut termasuk para pimpinan G30S/PKI yang kemudian menganggap bahwa Pangkostrad tak perlu dijadikan target penculikan.
Wajar jika Mayjen Soeharto luput dari radar para gembong G30S/PKI, karena memang bersifat 'cadangan' kala itu Pangkostrad tak memiliki kewenangan langsung atas pasukan TNI-AD. Di pagi itu kontan pasukan yang murni berada langsung dibawah komando Pangkostrad hanya 1 peleton pasukan penjaga markas, tak seimbang jika dibenturkan secara langsung dengan kekuatan G30S/PKI.
Sekira pukul 07:00, Mayjen Soeharto mendengar pengumuman G30S/PKI dari siaran RRI. Sebagai jenderal dengan segudang pengalaman tempur, Mayjen Soeharto dapat dengan cepat membaca situasi. Langkah strategis segera dilakukan setelah menerima informasi tentang adanya peristiwa penembakan dan penculikan terhadap para pejabat pucuk pimpinan TNI-AD.
Setelah gagal menghubungi Jenderal AH Nasution dan mendengar penembakan di kediaman Letjen Ahmad Yani, maka berdasarkan naluri militer dan kebiasaan dalam garis komando internal TNI-AD Mayjen Soeharto segera mengumpulkan para pimpinan TNI-AD yang tersisa lalu menggelar rapat darurat. Diakhir rapat, Mayjen Soeharto memutuskan untuk mengambil alih sementara komando tertinggi TNI-AD.
Keputusan Pangkostrad mendapatkan dukungan dari seluruh peserta rapat yang hadir di Makostrad. Diantara para petinggi TNI-AD yang hadir saat itu antara lain:
1. Kepala Staf Brigjen Achmad Wiranata Kusumah.
2. Asisten Intelijen Kol Yoga Sugama.
3. Asisten Operasi Kol Wahono.
4. Asisten Teritorial Kol Sru Hardojo.
5. Asisten Logistik Kol Djoko Basuki.
Setelah rapat, Mayjen Soeharto segera mengirim radiogram kepada seluruh Pangdam, lalu menghubungi Kol Sarwo Edhie Wibowo dengan mengutus Letkol Herman Sarens Sudiro. Naas saat itu Letkol Herman justru ditahan oleh RPKAD, selain secara garis komando RPKAD berada langsung dibawah komando Menpangad, karena peristiwa yang terjadi membuat situasi saat itu dalam kondisi saling curiga.
Setelah Letkol Herman menjelaskan bahwa Pangkostrad mengambil alih pimpinan sementara TNI-AD, barulah Kol Sarwo yang memahami hierarki internal TNI-AD berkenan mematuhi perintah untuk menghadap Pangkostrad.
Tepat pukul 13:00, Mayjen Soeharto telah memiliki pasukan elit pemukul berkekuatan 1 Batalyon RPKAD. Langkah Pangkostrad selanjutnya yaitu melemahkan kekuatan lawan, sasaran yang dituju adalah Yon 530 dan Yon 454 yang mengepung Istana Negara.
Tak mau berpikiran kemana-mana sebenarnya. Tp klu ketum @DPP_PKB@cakimiNOW menuding keras @nahdlatululama ganggu partainya lalu rumah dinas @kemendespdtt yg kakak kandung Cak Imin digeledah KPK bersamaan dgn pelantikan Sekjen PBNU Syaifulah Yusuf sbg Menteri Sosial itu apa artinya ya? @FraksiPKB
Setelah Soeharto, Jokowi adl presiden yang berakhir dengan HINA dan CACIAN dari rakyatnya sendiri
Salah sendiri, merusak demokrasi demi kepentingan keluarga. Pensiun bahkan harus dgn cara MEMALUKAN