Wawancara terhadap seorang investor: ia jelaskan alasan investor luar enggan berinvestasi ke Indonesia. Dia bercerita pengalamannya 5 tahun lalu saat di Indonesia. 😯
Bapak Stoikisme Dunia, Murid Kesayangan Seneca: Ohim Lutung dari Kedunghalang.
BAB I: Kelahiran Sang Lutung
Di sebuah desa yang namanya sengaja tidak disebut demi keamanan KTP (Kedunghalang), lahirlah seorang anak bernama Ohim.
Konon, sejak kecil ia sering menatap langit-langit rumah dengan tatapan kosong seorang filsuf yang sudah tahu bahwa segala sesuatu di dunia ini fana, termasuk privasi data kependudukan.
Seneca, sang filsuf Romawi, dalam mimpinya pernah berkata:
"Suatu hari nanti, akan lahir seorang murid dari Timur. Ia akan menguasai amarah, menguasai hawa nafsu, namun gagal menguasai pengaturan privasi di Facebook."
Para sejarawan percaya, murid itu adalah Ohim.
BAB II: Ajaran-Ajaran Sang Filsuf
Ataraxia (Ketenangan Jiwa)
Stoikisme mengajarkan bahwa kita tidak bisa mengendalikan peristiwa eksternal, hanya respons kita terhadapnya. Ohim memahami ini dengan sangat dalam.
Ketika KTP-nya tersebar ke seluruh penjuru jagat maya dan dijadikan template meme oleh 200 juta rakyat Indonesia, Ohim tidak goyah.
Ia hanya berkata, dengan ketenangan seorang Marcus Aurelius:
"NIK boleh tersebar. Tapi jiwa tetap merdeka."
Murid-muridnya mencatat ini sebagai Meditation XIII, bab yang Marcus Aurelius sendiri tidak sempat menulisnya.
Amor Fati (Mencintai Takdir)
Seorang Stoik sejati mencintai takdirnya. Bahkan ketika takdir itu berbentuk seorang pria cosplay yang siaran langsung dengan koneksi 3 bar.
"Apa yang menimpaku adalah bagian dari Logos" ujar Ohim, "termasuk doxxing."
Trikotomi Ohim
Epictetus membagi dunia menjadi dua: yang dalam kendali kita, dan yang di luar kendali kita. Ohim menyempurnakannya menjadi tiga:
1. Yang dalam kendali kita: respons batin
2. Yang di luar kendali kita: opini orang lain
3. Yang sudah terlanjur tersebar dan tidak bisa ditarik lagi: KTP yg beralamat di Kedunghalang
Para akademisi menyebut poin ketiga ini sebagai terobosan terbesar Stoikisme sejak abad pertama Masehi.
BAB III: Tersebarnya Lembaran Suci (KTP)
Maka tibalah hari yang dicatat para sejarawan sebagai tragedi terbesar sekaligus ujian terbesar, dalam hidup sang filsuf.
KTP Ohim tersebar luas. Ke seluruh penjuru negeri. Menjadi mainan, menjadi template, menjadi bahan tertawaan seluruh lini masa.
Dunia mengira sang Lutung akan hancur. Tapi seorang murid Seneca tahu satu hal: bahwa yang membuat manusia menderita bukanlah peristiwa itu sendiri, melainkan penilaian kita atasnya.
"Mereka memegang doksli KTPku" sabda Ohim, "tapi mereka tidak akan pernah memegang jiwaku."
[ENG SUB]
Nagi talks about her real long-term goal beyond voice acting: using her recognition to support people in conflict zones, plus her monthly donations to UNICEF.
From her radio show "Aoyama Nagisa no Sa!", where she opened up more thoroughly about this for the first time.
saat mahasiswa, saya ikuti sebuah seminar di GSP, membahas soalan pemberantasan korupsi. Lalu, pembawa acara memanggil narasumber selanjutnya, yakni Dekan Filsafat UGM.
saya jadi mikir, “lho, apa hubungannya korupsi sama filsafat?”
Prof. Mukhtasar Syamsuddin, sang pemateri, maju ke depan. Dan menyentak audiens dengan berkata, bahwa selama ini instrumen hukum gagal dalam memberantas korupsi.
beliau lanjut menjelaskan, selain korupsi itu kejahatan hukum, politik, dan ekonomi, korupsi juga adalah “kejahatan filososfis”.
sebuah kejahatan, yang menjadikan manusia, sering mengalami “kesesatan epistemologis”.
artinya, kita tahu bahwa korupsi adalah kejahatan, tapi kita pura-pura ngga tahu. Padahal ada rasio, hati, atau panca indra yang bisa menilai.
***
memang benar, belajar filsafat itu ada kedalaman dan kenikmatan. Adakah yang suka filsafat? 🙋♂️☺️