Tempo hari ada orang ngajak diskusi saya tentang Indonesia ke depan. Saya males meladeni. Saya bilang, anda tonton video ini aja. Semoga jadi gamblang…😂
Akhirnya ada juga yg berani bilang 'toa masjid kelewat kenceng = polusi suara' dari kacamata syariat.
Biasanya yg ngomong begini langsung dibilang 'musuh Islam' atau 'kafir'.
Skrg giliran ustadznya sendiri yg ngomong, kita lht komentarnya bakal pd ngamuk atau tiba² jadi bijak.
Sabar bu @srimulyani, "Air Susu dibalas Air Tuba".
Sangat disayangkan penjarahan yang terjadi di rumah Bu Menteri. 1 pertanyaan dasar, mengapa rumah bu menteri menjadi amukan sasaran? Soal pernyataan kontroversial yang beredar, itu fakta DeepFake.
#TangkapPelakuPenjarahan
Di DPR tak banyak perdebatan bermutu yang aspiratif. Umumnya mereka tergiring seperti bebek yang mengikuti penggembalanya yang memegang cambuk agar tak keluar jalur yang membelenggu. Itulah pengibaratan wajah politik kita. Ini harus diperbaiki.
“Kenapa Jepang Maju? "
Jadi ceritanya, ada orang Indonesia main ke Jepang.
Matanya berbinar-binar kayak liat diskon 90% di toko elektronik.
“Wah, kursi di pinggir jalan aja canggih bener!” katanya sambil duduk.
Lho, kursinya punya pedal! Dan kalau dikayuh, keluar listrik buat lampu jalan!
“Gilaaaaa,” dia kagum,
“Di sini duduk doang aja bisa bikin terang masa depan, di tempat gue... duduknya malah bikin terang api emosi!”
Lagi asyik kayuh pedal sambil sok mikir kayak startup founder,
tiba-tiba dia nengok ke samping.
Ada orang Jepang duduk tenang, santai, tapi auranya kayak bisa nyusun satelit dari tusuk gigi.
Dengan sopan tapi penasaran dia nanya:
“Orang Jepang tuh pinter-pinter banget ya? Makanya negaranya maju!”
Orang Jepang senyum, lalu jawab pelan:
“Oh tidak, kami biasa saja kok.
Dari sepuluh orang Jepang, cuma satu yang pintar, yang sembilan ya... gitu-gitu aja, lebih sibuk ngikutin aturan daripada mikir aneh-aneh.”
Wajah orang Indonesia itu mulai bingung.
“Lah, terus kok bisa maju?”
Orang Jepang lanjut sambil nyeruput teh hijau,
“Karena kami taruh satu orang pintar itu jadi pemimpin, dan yang sembilan tinggal ikut arahan.
Sementara di negara Anda, satu yang... yah, mohon maaf nih ya... agak kurang dikit malah disuruh mimpin,
dan yang sembilan orang pintar disuruh nurut.”
Diam.
Sunyi.
Angin bertiup pelan, kayak menyampaikan rasa malu kolektif se-RT.
Jadi bukan karena semua orang Jepang itu pinter.
Tapi karena mereka tahu siapa yang harus duduk di belakang kemudi.
Sementara kita, kadang malah nyuruh yang nggak punya SIM buat bawa truk negara.
Kadang bukan rakyatnya yang kurang cerdas,
tapi yang duduk di kursi pedal... malah dikayuh ke arah jurang.
Mau terangin jalan kayak Jepang?
Jangan cuma pedalnya yang dikayuh.
Otaknya juga.
"Batu, Kaca, dan Negara yang Masih Belajar Empati"
Malam itu, 6 Juli 2025.
Kereta malam melaju dari Yogyakarta menuju Surabaya.
Dan di dalam gerbong yang seharusnya jadi tempat istirahat,
seorang wanita bernama Widya Anggraini lagi bersantai menikmati perjalanan sambil membaca.
Tapi ternyata, bahkan santai pun sekarang adalah kemewahan.
Karena di tengah malam, tanpa aba-aba,
sebuah batu — entah hasil iseng, dendam, atau cuma otak kosong —
menembus jendela kaca kereta,
menghancurkannya,
dan ikut menghancurkan kulit dan rasa aman Widya.
Dia tidak sedang berbuat jahat.
Tidak mengganggu siapa-siapa.
Hanya seorang penumpang biasa.
Yang membayar tiket.
Yang percaya bahwa negara ini bisa memberinya perjalanan yang aman.
Tapi malam itu,
yang dia terima bukan pelayanan…
melainkan luka.
Bukan permintaan maaf…
tapi pembiaran.
Dan bukan pengamanan…
tapi suara nyaring dari sistem yang sudah terbiasa "mendiamkan".
Lalu media datang.
Tangan-tangan birokrat mulai menyusun kalimat,
“Kami akan evaluasi.”
“Sedang diselidiki.”
“Kejadian ini tidak mencerminkan layanan kami.”
Kalimat template yang sudah lama kehilangan makna.
Widya tidak butuh "evaluasi",
dia butuh rasa aman yang nyata.
Karena yang dilempar itu bukan hanya batu.
Tapi juga:
Kepercayaan publik.
Harapan penumpang.
Dan rasa kemanusiaan yang seharusnya jadi fondasi negara.
Tapi tenang,
besok pagi semua akan lupa.
Berita akan berganti.
Kereta akan jalan lagi.
Dan batu-batu baru… tinggal tunggu giliran.
Karena di negeri ini,
lebih mudah mengganti kaca…
daripada memperbaiki nurani.
Kalau kamu merasa ini berlebihan,
coba tanya Widya:
bagaimana trauma yang dia terima,
karena satu batu dari orang yang mungkin tidak akan pernah ditemukan?
Atau mungkin,
tanya dirimu sendiri:
kapan terakhir kali kamu benar-benar merasa aman di tanah sendiri?
Parah nih. Neisyah Navila ngeracun orang tuanya, Munir Achmad sampai koma, lalu mencuri 3 unit motor, 2 hp, dan nguras uang di atm 334 juta. Neisyah datang ke rumah Munir bersama Haikal Ali, Bikinin Achmad kopi yang ternyata dicampur racun.
Sering kita lihat. Jika orang kuat scr ekonomi atau politik berkasus saat diusut hasilnya "Tak ada dua alat bukti yg cukup". Tp kalau orang kecil diusut dlm satu kasus meski punya alibi kuat dan tak cukup alat bukti dibilang "Nanti saja jelaskan pengadilan".
Banyak yang tag akun X dan DM kami soal Dugaan P3nc4bulan ayah tiri pada 4n4k dibawah umur dan saat ini pelaku kabur,lokasi di Cikarang
Saat ini sudah dalam penanganan pihak berwajib
Cat Warrior mohon kerendahan hati share postingan ini buat keadilan saja anak