orang indo ini hatinya lembut, gampang banget kasian sama orang, tapi orang yang dikasianin itu elit politik, pemerintah, public figure, orang kaya, dan orang-orang jahat, giliran ke minoritas teriak-teriak nyuruh mati
orang2 kaya ga pernah punya konsep minta maaf ke orang2 yg lebih miskin, mereka lbh percaya meminta maaf ke Tuhan dgn berbagai macam ritual keagamaan yg hanya bisa dilakukan org2 kaya
entah memperbanyak perpuluhan, melakukan pengakuan dosa tiap minggu, berangkat haji, wakaf, dsb
semoga lu matinya susah. waktu ditarik nyawanya, diulur biar kesakitan dulu, gak mati mati tapi kesiksa.
biadab, dzalim. semoga lu dan semua orang dzalim di belakang lu, mati dalam keadaan terlaknat.
Turut berduka cita ya 😢. Udah ratusan pasien saya tangani tapi tetap aja deg2an tiap dapat pasien dengue. dengue ini punya kemungkinan jadi lebih parah pada infeksi kedua dst, saat infeksi pertama sakitnya cenderung ringan bahkan seseorang bisa gak tau kalo kena dengue.
Setelah infeksi pertama terjadi, terbentuk lah antibodi spesifik terhadap serotipe dengue yang meng-infeksi sebelumnya. Ada 4 serotipe DENV-1,2,3,4.
Ketika infeksi kedua dst terjadi karena serotipe dengue yg berbeda dari infeksi sebelumnya, di situlah awal kekacauan terjadi.
Antibodi dari infeksi sebelumnya, alih2 membantu untuk mematikan virus dengue yg beda serotipenya itu, mereka malah membantu virusnya untuk memperbanyak diri. Fenomena yang disebut Antibody Dependent Enhancement.
Begitu jumlah virusnya jadi jauh lebih banyak, sistem imun tubuh langsung jadi “lebay” dengan reaksi peradangan berlebih yang tidak hanya mencoba mematikan virusnya, tapi juga merusak lapisan pembuluh darah sehinga membuat cairan plasma bocor kemana2, bisa sampai syok dan merusak organ vital tubuh.
Bisa segitu parahnya memang dengue ini. Stay safe semua.
Jika MBG dihentikan, bagaimana dengan nasib 1,5 juta penggerak SPPG & supplier bahan makanan?
Saya tidak tahu, dan tidak mau tahu juga. Karena sejak awal realisasi program ini, kan, ngotot "demi" gizi anak-lansia-bumil. Maka, perhatian saya ada di sana, bukan yang lain.
Kalau program ini benar-benar murni demi gizi anak-lansia-bumil, kenapa harus bikin rantai pasok sebesar itu yang ujung-ujungnya cuma bikin ketergantungan massal pada APBN?
Mereka yang ngotot dari awal apakah tahu persis bahwa ini bukan solusi gizi tapi mesin politik untuk bagi-bagi proyek?
Sekarang, tiba-tiba 1,5 juta orang jadi korban ketika programnya dihentikan (setelah mantan Kepala BGN-nya ketahuan korup), apakah mereka dari awal tidak tahu bahwa mereka cuma jadi alat untuk narasi “peduli rakyat” yang murahan?
Siapa yang salah kalau akhirnya nasib mereka terkatung-katung? Warga Indonesia selain 1,5 juta itu? Lho, bukan mereka yang memaksa "program gagal" ini jalan.
Lagian, kalau gizi anak-lansia-bumil memang prioritas utama, kenapa tidak langsung kasih dana tunai ke keluarga daripada lewat supplier dan penggerak yang entah berapa persennya cuma jadi perantara rente?
Seharusnya 1,5 juta penggeral SPPG harus menagih tanggung jawab ke mereka saja, bukannya ngasih tahu warga tentang kondisi mereka yang terkatung-katung itu.
Jadi, ya, jangan salahkan yang kritis dan protes sejak awal. Yang salah justru mereka yang ngotot program ini “harus” jalan, tanpa hitung-hitungan matang soal keberlanjutan, dan dampak jangka panjangnya.
Nasib 1,5 juta orang pengegrak itu, kan, konsekuensi logis dari kebijakan yang dibangun di atas "sandiwara gizi", bukan atas dasar akal sehat, to? Sementara kalian, kan, mengambil itu atas dasar ekonomi, to?
Kenapa harus mengadu ke rakyat non-1,5 juta itu?
NB: 1,5 juta itu bukan "relawan", ya. Mereka digaji pakai APBN. Tidak bisa disebut relawan karena mereka dibayar untuk melakukan pekerjaan itu.
Dan ternyata tidak begitu pecus.
Kakak temen gue baru lahiran di usia kepala 4. Siang siang dia pamit mau istirahat sama anak sulungnya yang SMA. Ternyata istirahat untuk selamanya.
"Mama mau tidur sebentar, tolong jagain adeknya ya?"
Dia udah masak buat keluarga, nyuci baju sekeluarga, ngurus bayi mandiin, netein dll, rumah sudah rapi. Dia masih nifas, lahiran SC, ga pernah ngeluh sakit atau capek. Orang di sekitarnya melihatnya kuat, hebat. Tapi ternyata tubuhnya menyerah.
Terlepas umur ditangan Tuhan, tidak dipungkiri masih sangat banyak orang orang yang mengabaikan kondisi lemah perempuan yang baru melahirkan.
Kadang memang suami nyuruh "gapapa istirahat saja kalau capek" Tapi perempuan yang biasa menyuruh rumah tanpa libur seringnya lupa cara beristirahat.
Yang dia tahu kalau dia tidak mengerjakannya sekarang, tidak ada yang akan menggantikannya. Semua hanya akan menumpuk dan menunggunya.
Jadi banyak perempuan yang tetap mengurus rumah meskipun lelah, meskipun lemah, meskipun sakit, meskipun pusing. Selama dia masih bisa menggerakkan badannya, dia akan kerjakan.
cc:threadcanda_senja
sunco per april masih di angka 43,500 sekarang juni udah 47.000
beras yang biasanya 74.500
sekarang udah 95.000
jangan kaget bulan depan
kalo minyak goreng udah 50 rb na
ayam 50 ribuan
beras 100 ribuan
anjirr ini mau diem doang kita WNI
kata prabowo udah swasembada pangan
swasembada dari hongkong?
KALAUUU VERSI AKUUU.... cuma mau reminder aja buat new moms kayak aku & temen2 yg ada disini melalui pengalamanku.
Januari tahun lalu aku lahiran anak pertamaku, Alhamdulillah semua baik-baik aja say. anakku gak ada drama pelekatan, minum asip dari dot juga mau. tapi semuanya diawali karena aku ke-skip pumping 1 malem.
IYA 1 MALEM AJA. waktu awal urus newborn tuh berasa banget capeknya. kayak pagi, siang, sore, malem itu bawaannya lelah, capek, ngantuk. biasanya aku kebangun jam 1 pagi buat pumping, tapi malem itu aku skip lebih pilih tidur😭😭 dan yap, paginya tiba-tiba payudara kananku bengkak dan agak keras karena asinya banyak tp gak dikeluarin.
udah coba pumping, dbf langsung, tapi tetep bengkak dan berujung keras merengkel gitu. sampe kurang lebih 2 minggu aku panas demam, terus asi mulai gabisa dipumping di PD kanan....
udah pijat laktasi, kompres anget/dingin, udah pijat mandiri tetep gak ngaruh, berujung minggu ke-3 pagi-pagi aku harus ke IGD karena pembengkakannya udah masuk ke Abses dan harus di operasi💔
sedih jujur, merasa gagal pada saat itu jd seorang perempuan dan ibu. dilema karena anakku cuma mau asiku dan gak disarankan dokter untuk sufor. Alhamdulillahnya pd saat itu aku dpt donor asip dari temen satu komunitas & anakku cocok🥲
sebagai reminder aja buat mama mama baru yg minim pengalaman kyk aku, jgn pernah sepelein supply demand asi selama menyusui plis plis. secapek apapun jg lupa pumping yah☝🏻🥲 & buat para suami please jangan merasa berat & capek buat support sang istri dimasa krusial sebagai new mom / parent ini. kalian perlu support & cinta satu sama lain untuk menguatkan.🥹💖 (sekalian berterimakasih ke suamiku sayang selalu support& penuh kasih sayang through ups& downs nya🥲💕)
disclaimer; yg ngeri darah jangan liat gambar 4 ya‼️
- foto 1: demam tp udh agak turun (sempet 40,5 malemnya)
- foto 2 & 3: pumping waktu di IGD di PD yg bengkak, liat aja dptnya cuma segitu pdhl udh digabung kiri kanan😭
- foto 4: setelah tindakan, dikasih selang untuk wadah 'nanah' & darah yang tersisa.
Nothing is truly yours.
Not your wealth. Not your children. Not even your body.
Allah owns everything — we are only trustees.
Freedom from attachment starts here.
A deep reflection on true ownership, family & life. Watch now
Full Video on YouTube.
Nah, berarti sudah clear ya.
Kalau nanti ada gimmick model Bahlil seperti itu lagi dan masih banyak yang kena juga, berarti pendidikan politik kita memang sudah no hope 🥲
Anakku bangun 4x semalam.
Selama 8 bulan dulu
Kita coba semuanya.
White noise machine. Rp 500 ribu.
Bedtime routine ketat. 7 malam, mandi, baca buku.
Minyak telon. Pijat bayi. Doa.
Gak ada yang works. Sampai aku cerita ke dokter anak.
Dia tanya satu pertanyaan:
"Kamar tidurnya pakai lampu apa?"
Istrinya sakit pinggang. 2 tahun.
dia beliin kasur baru. Rp 2 juta
Niatnya baik. Biar dia tidur nyenyak. Biar sembuh.
Gak sembuh.
Bantal ortopedi. Rp 1juta
Gak sembuh.
Kursi ergonomis. Rp 1 juta
Gak sembuh.
Sampai fisioterapis tanya satu pertanyaan:
"Ibu mandiin anaknya di mana?"
ya Allah ini jahat banget
anak SMP mukul kepala temennya pake palu sampe pecah trus bangga banget ngechat ke temannya yang lain.
orang tua pelaku playing victim katanya miskin gak bisa bantu pengobatan.
pelaku tau gak akan ditangkep karna di bawah umur, korbannya gak cuma satu.
lokasi : singkawang
Giliran ada perempuan hamil yang janinnya disabilitas, janinnya ga boleh digugurin.
Giliran anaknya lahir dan besar sbg orang disabilitas, anaknya harus hidup sengsara karena ga ada kerjaan yang "cocok" di dunia kapitalis ini. Plus orang2 di sekelilingnya cuma bisa nyalah2in aja
- Nelayan disandera bajak laut Somalia
- Aktivis kemanusiaan sama beberapa jurnalis diculik zionis israel
- Aceh gak pulih-pulih pasca 6 bulan bencana
Gak ada yang dibahas blas, malah ngeprank kenaikan gaji 300% buat guru, yang ternyata salah ucap buat hakim. Asu!
BREAKING: media Jepang menyebut pemerintah Indonesia memakai buzzer untuk membungkam publik dengan cara menuduh warga yang kritis sebagai "antek-antek asing"
---
Antek-antek asing mendunia guys.
normalize ngeliat pejabat sbg warga biasa, bukan manusia terhormat /punya level lebih tinggi.
lagi di resto mall terus ada anggota dewan berikut gerombolannya lewat, bbrp orang disitu langsung ngasi salam, nunduk, senyum sapa hangat sampe ngasih tempat duduknya
jujur, ngapain dh?? aneh banget.
Mungkin kalian merasa buruk hari ini karena setiap Prabowo muncul, yang ada hanyalah perasaan semakin menderita sebagai WNI.
Tapi perlu kalian sadari satu hal, 2029 nantipun kemungkinan ia tetap akan terpilih. Atau paling buruknya, Gibran.
Program MBG milik pemerintah sekarang itu sudah menjaring pemilihnya untuk Pemilu berikutnya. Jumlahnya besar; pengusaha, pegawai MBG, politisi, semua yang terlibat di rantai pasok hingga penerima manfaat. Program ini memang sampah, tapi bagi pemerintah ini adalah jalan untuk melanggengkan kekuasaan ke depan.
Guys, ada pernyataan Prabowo yang menurut gue paling berbahaya yang pernah gue dengar dari seorang presiden soal mata uang negaranya sendiri.
Dan dia ngomong ini bukan di forum terbatas.
Bukan slip of the tongue.
Tapi di depan ribuan rakyat dengan penuh keyakinan:
Mau dolar berapa ribu kek
kalian di desa-desa kan enggak pakai dolar.
Yang pusing yang suka ke luar negeri.
Ini bukan candaan.
Ini adalah cara berpikir yang sangat berbahaya.
Gue mau kasih lo contoh nyata negara yang pemimpinnya pernah berpikir persis seperti ini.
Dan apa yang terjadi setelahnya.
Zimbabwe
ketika presiden bilang rakyat desa tidak butuh mata uang yang kuat:
Robert Mugabe selama bertahun-tahun bilang kepada rakyatnya bahwa pelemahan nilai mata uang adalah konspirasi Barat.
Bahwa rakyat desa yang tidak bertransaksi dalam dolar tidak perlu khawatir.
Hasilnya?
Inflasi Zimbabwe mencapai 89,7
sextillion persen per tahun di 2008.
Orang membawa uang keranjang penuh hanya untuk beli roti.
Petani di desa yang "tidak pakai dolar" mendapati hasil panennya tidak bisa dibeli siapapun karena harga berubah setiap jam.
Tabungan seumur hidup hilang dalam semalam.
Mereka akhirnya menyerah dan menggunakan dolar Amerika sebagai mata uang resmi.
Mata uang mereka sendiri sudah tidak ada nilainya sama sekali.
Venezuela
ketika pemerintah melarang rakyat khawatir soal kurs:
Hugo Chavez dan Maduro selama bertahun-tahun meyakinkan rakyat bahwa kurs tidak relevan bagi rakyat kecil.
Yang penting ada subsidi.
Yang penting ada program sosial.
Hasilnya?
Inflasi Venezuela mencapai 1.000.000% di 2018.
Dokter, guru, insinyur semua yang punya pendidikan dan bisa pergi pergi.
Lebih dari 7 juta warga Venezuela meninggalkan negaranya.
Rakyat desa yang "tidak pakai dolar" itu akhirnya mengantri berhari-hari untuk dapat sekarung tepung.
Mereka juga akhirnya terpaksa bertransaksi dalam dolar di pasar gelap karena mata uang mereka sendiri tidak dipercaya siapapun.
Dan sekarang kembali ke Indonesia yang ternyata sangat relevan:
Prabowo bilang rakyat desa tidak pakai dolar.
Tapi benarkah demikian?
Kedelai bahan baku tempe dan tahu yang dimakan rakyat desa setiap hari 90% diimpor dari Amerika Serikat.
Harganya ditentukan dalam dolar.
Ketika rupiah melemah dari Rp13.000 ke Rp17.000 — harga kedelai naik.
Harga tempe naik.
Harga tahu naik.
Penjual tahu dan tempe di desa yang "tidak pakai dolar" itu langsung merasakan dampaknya di meja makan mereka.
Gandum bahan baku roti, mie instan, biskuit yang dikonsumsi rakyat desa 100% diimpor.
Harganya dalam dolar.
Pupuk yang dipakai petani desa untuk bercocok tanam sebagian besar bahan bakunya diimpor.
Harganya dalam dolar.
Obat-obatan generik bahan bakunya sebagian besar diimpor dari China dan India.
Harganya? Dalam dolar.
Rakyat desa tidak pegang dolar secara fisik.
Tapi seluruh kehidupan mereka dari makan pagi sampai obat yang mereka minum harganya ditentukan oleh kurs dolar.
Dan inilah yang paling miris:
Presiden yang seharusnya menjaga kepercayaan pasar terhadap mata uang negaranya justru dengan entengnya bilang kurs dolar tidak relevan bagi rakyat.
Padahal kepercayaan itulah
yang membuat rupiah bisa stabil.
Kepercayaan itulah yang membuat investor mau masuk.
Kepercayaan itulah yang membuat rakyat tidak lari ke dolar dan emas seperti yang sekarang terjadi dan dikhawatirkan oleh ekonom-ekonom kita.
Ketika presiden sendiri tidak menganggap serius pelemahan mata uangnya sinyal apa yang dikirim ke pasar?
Sinyal apa yang dikirim ke investor asing?
Sinyal apa yang dikirim ke rakyat yang tabungannya dalam rupiah?
Bandingkan dengan pemimpin yang serius:
Lee Kuan Yew dari Singapura negara tanpa sumber daya alam apapun menjadikan kestabilan mata uang sebagai prioritas utama pemerintahannya.
Dia tahu bahwa kepercayaan terhadap mata uang adalah kepercayaan terhadap negaranya secara keseluruhan.
Hasilnya?
Singapura hari ini punya GDP per kapita lebih dari 80.000 dolar.
Rakyat Singapura yang "cuma pedagang kecil" pun hidupnya jauh lebih sejahtera dari rakyat kita yang punya sumber daya alam berlimpah.
Bukan karena Singapura kaya alam.
Tapi karena pemimpinnya tidak pernah menganggap remeh nilai mata uangnya.
Pernyataan "mau dolar berapa ribu kek, di desa kan tidak pakai dolar" bukan pernyataan yang menunjukkan ketenangan seorang pemimpin.
Itu adalah pernyataan yang menunjukkan ketidakpahaman atau lebih buruk lagi, ketidakpedulian terhadap bagaimana ekonomi nyata bekerja di tingkat paling bawah.
Rakyat desa tidak pegang dolar.
Tapi rakyat desa makan tempe dari kedelai impor yang harganya dalam dolar.
Rakyat desa bertani dengan pupuk yang bahan bakunya dalam dolar.
Rakyat desa berobat dengan obat yang bahan bakunya dalam dolar.
Ketika presiden tidak peduli dengan kurs yang tidak peduli bukan hanya presidennya.
Tapi seluruh sistem di bawahnya ikut tidak peduli.
Dan ketika seluruh sistem tidak peduli dengan nilai mata uangnya sendiri kita tinggal menunggu giliran menjadi Zimbabwe atau Venezuela berikutnya.
Semoga kita tidak sampai di sana.
Tapi pernyataan seperti ini tidak membuat gue yakin bahwa kita sedang bergerak menjauhi arah itu.