Hmm.. kita sering mendengar entropi apalagi di kuliah fisika.
Entropi adalah ukuran ketidakteraturan suatu sistem yg cenderung selalu meningkat sesuai hukum kedua termodinamika.
Tapi ada 1 jenis “entropi” yg tdk pernah masuk silabus, padahal ia mampu meruntuhkan sistem paling stabil sekalipun: entropi emosional dlm hubungan manusia.
Coba bayangkan alam semesta. Para kosmolog berhasil mengukur laju ekspansinya (Hubble constant, H0) hingga presisi sekitar 1%, nilai terkini dari kolaborasi H0DN Collaboration (2026) berada di kisaran 73,50 ± 0,81 km/s/Mpc.
Itu artinya kita bisa memprediksi perilaku skala kosmik dgn akurasi yg luar biasa. Namun, ketika menyangkut manusia, kita hampir selalu gagal memprediksi kpn seseorang yg dulu terasa seperti “rumah” tiba2 berubah menjadi black hole yg menelan semua energi dan cahaya yg pernah kita berikan.
Knp? Ya krn entropi emosional bekerja dgn logika yg sama kejamnya seperti entropi termodinamika: sekali keteraturan rusak, sulit sekali dikembalikan.
1 kata kasar, 1 keputusan impulsif, atau bahkan salah paham yg terlalu lama.. semuanya menambah “kekacauan” dlm sistem hubungan.
Dan seperti halnya gas yg menyebar di ruang hampa, emosi negatif cenderung mengisi seluruh ruang yg tersedia.
Fakta menariknya: fisikawan pun masih kesulitan menyatukan gravitasi kuantum dgn termodinamika. Begitu pula dlm kehidupan, kita sering kali tahu persis “hukum2nya”, tapi tetap tdk bisa mencegah collapse.
Menurut pengalaman kalian, apa strategi paling efektif untuk menjaga entropi emosional tetap rendah dlm hubungan jangka panjang? 🤔🤔
𝐀𝐝 𝐌𝐚𝐢𝐨𝐫𝐞𝐦 𝐃𝐞𝐢 𝐆𝐥𝐨𝐫𝐢𝐚𝐦
Pernah baca bio Instagram atau akun media sosial temanmu bertuliskan "AMDG" atau "Ad Maiorem Dei Gloriam". Nah, cukup populer kan? Tapi Kira-kira maknanya apa ya?
AMDG adalah singkatan dari bahasa Latin: Ad Maiorem Dei Gloriam yang berarti: “Demi Kemuliaan Allah yang Lebih Besar.
Kalimat ini sangat erat dengan Santo Ignatius Loyola dan spiritualitas Jesuit.
Sesuatu yg bukan untukmu akan selalu menemukan cara untuk pergi, mau kamu jaga sekuat apapun. Bisa lewat sikap yg berubah, jarak yang memanjang, atau rasa yang perlahan hilang tanpa penjelasan.
you'll keep asking why? sampai akhirnya kamu sadar pertanyaan itu bukan buat dicari jawabannya, tapi buat dimengerti maknanya. karena takdir gak pernah salah arah, yg sering keliru itu kita, terlalu lama bertahan di jalan yg sebenarnya bukan tujuan kita.
Barusan nemu tulisan ini:
"Hanya karena gue nggak pernah banyak nuntut, bukan berarti gue harus nerima yang ala kadarnya. Gue emang nggak suka ribet, tapi bukan berarti gue nggak punya standar."
Maknanya ngena banget karena sering kali orang ngira kalau seseorang itu sabar, pengertian, sederhana, atau nggak banyak protes, berarti dia bakal nerima apa aja yang dikasih.
Padahal nggak gitu.
Ada orang yang jarang mengeluh bukan karena dia nggak punya keinginan. Ada orang yang nggak banyak minta bukan karena dia nggak tahu nilai dirinya. Dia cuma memilih untuk nggak mempersulit keadaan dan nggak menjadikan tuntutan sebagai ukuran kasih sayang atau penghargaan.
Tapi tetap ada batasnya.
Tetap ada standar tentang bagaimana dia ingin diperlakukan, dihargai, dan diperjuangkan.
Kadang orang yang paling mudah diajak kompromi justru paling sering dianggap remeh. Kebaikannya dianggap kewajiban. Pengertiannya dianggap kelemahan. Dan karena dia nggak pernah banyak menuntut, orang jadi merasa cukup memberi usaha yang seadanya.
Padahal seseorang bisa saja sederhana dalam permintaan, tapi tetap tinggi dalam harga diri.
Dia nggak butuh yang berlebihan. Dia cuma ingin usaha yang tulus, rasa hormat yang konsisten, dan perlakuan yang menunjukkan bahwa dirinya memang dianggap berharga.
Karena pada akhirnya, nggak banyak menuntut adalah pilihan sikap. Sedangkan punya standar adalah bentuk menghargai diri sendiri. Dua hal itu nggak pernah bertentangan.
Sepakat banget!!!
Suka sama kalimat “Otot itu kebentuknya di luar gym!” dan ini bener
Bahkan pembentukan otot tuh trjd kebanyakan saat tidur. Iya, saat tidur malam!
Makanya prioritas utamanya tuh benerin tidur dulu, benerin makannya, baru bagusin olahraganya!
Jangan kebalik!
jujur. ketika umur 27-28 tuh deg degan bgt kaya life is over , ngerasa telat dr yg lain, bla bla bla…tapi kesini2 justru gue makin sadar kalau hidup ga bisa dipaksain. ga harus selalu ambisius dalam segala hal. dan trying to let it go..
i think ketika umur 20an akhir itu beda, seperti mau melangkah ke umur yg dituntut dewasa bgt. padahal ketika nyampe di umur 30. dan skrg 31 justru ngerasa lebih muda. ngerasa kek “umur 40 masih jauh. im still young dll..
dan memang mulai sadar akan kesehatan bgt dulu 20an gue itu males gerak, binge watching, ngemil, begadang dll. skrg? pelan2 mengubah kebiasaan buruk dan menjadi lebih sehat. mungkin karna berkaca ke sekitar, kalau udah tua nanti ga mau nyusahin org lan ga mau sakit2an. dllnya
dan kalau masalah karir atau percintaan keknya udah pasrah aja. tp emang udah punya prinsip sendiri. dan tau akan resiko dengan prinsip itu. kadang emang cape mikirin kehidupan ini. tp skrg lebih ga muluk2. . paling banyakin “oh yaudah, kalau gagal jd klien mah” “oh yaudah kalau emang ga mau ketemuan” “oh yaudah kaau ga jadi acaranya ” dll. like.. ga memikrkan hal yg ga bisa kita control aja
“gak semua orang mau dijadikan tempat buat bercerita”
totally agree, karena dengerin cerita orang itu bisa nguras energi banget.
makanya orang yang jadi good listener itu hebat karena mereka bisa ngedengerin tanpa rasa kepo dan menghakimi.
makanya jangan lupa apresiasi orang orang terdekat yg mau secara ikhlas dan suka rela jadi rumah untuk tempat bercerita kita
udah ga peduli sama instagram, udah suka pake helm, udah ga malu lagi pake jas hujan, udah ga pilih-pilih makanan, air putih udah jadi minuman favorit, udah jarang banget nongkrong dan keluar malem, itu tandanya kamu udah mulai di fase usia yang hampir menginjak kepala orang
terlalu ngeremehin rasa sakit orang lain, nyatanya di lapangan banyak banget kasus orang sampai desprade dan depresi klinis karena diselingkuhi atau patah hati. luka asmara itu nyata, bisa mengubah sifat, dan bikin trauma mendalam, jadi sama sekali bukan hal remeh.
Berarti mereka gak mengalami dua jam depan laptop tapi baru bisa nulis satu kalimat setelah menyelam 15 artikel. Anddddddd itu pun yang dikutip cuman 2 artikel setelah membaca dan membandingkan sebanyak itu