Pernah kepikiran engga, kenapa pemerintah memilih proyek MBG di tengah akses dan fasilitas pendidikan yang belum merata? Ya, karena memelihara orang-orang seperti ini.
Sistem yang rusak emang paling gampang memelihara ketidaktahuan.
Aku baru baca ini,
Hasil survey dari Policy Research Center (Porec)
Judulnya "Siapa yang diuntungkan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG)"
Silahkan kita baca hasil penelitiannya, yang sebenernya hasilnya tidak mengagetkan namun melegitimasi dan mengkonfimasi asumsi kita.
Fenomena Gen-Z tidak punya properti bukan hanya soal daya beli, tapi juga pergeseran filosofi hidup.
Di masyarakat tradisional, rumah adalah pusat kehidupan komunal, tempat membangun relasi bertetangga, membesarkan anak, dan menjaga kontinuitas sosial.
Namun bagi Gen-Z urban, fungsi ini telah terdekonstruksi. Hubungan sosial kini lebih berbasis koneksi digital dan minat, bukan kedekatan geografis.
Bertetangga bahkan sering dianggap sebagai beban sosial, fokus mereka kini bergeser ke ruang privat untuk pemulihan diri dan eksplorasi. Akibatnya, rumah kehilangan makna simbolisnya dan hanya berfungsi minimal sebagai tempat tidur, mandi, dan beristirahat.
Perubahan ini menunjukkan adanya krisis paradigma terhadap asumsi bahwa kesejahteraan harus diwujudkan dalam kepemilikan rumah. Gen-Z memilih hidup dalam ekonomi yang lebih cair dan fleksibel. Bagi mereka, mobilitas jauh lebih berharga daripada stabilitas fisik.
Fenomena "Generasi tanpa Properti" ini bukan tentang kemalasan, melainkan realitas baru di mana kepemilikan tidak lagi dianggap sebagai kebebasan.
Pertanyaannya bukan lagi: mengapa Gen-Z tidak ingin memiliki rumah? Melainkan: apakah konsep “rumah” yang kita wariskan masih relevan bagi masa depan?