dibagikan adalah sebuah fakta tentang kondisi jalanan gelap yang sepi. Di tempat keduanya berdiri, cahaya dari lampu jalan berkedip beberapa kali. Sepertinya perlu diperbaiki, “anda lihat itu? Penerangan di sekitar sini pun sedang bermasalah.” ( @theirenmna )
@theirenmna — Sepanjang jalan nampak sepi, karena jalur yang ia lalui bukan rute utama untuk dilewati. Di depan terdapat sebuah persimpangan, kembar ain menangkap kemunculan. Ketukan langkah dari sepatu kulit menyusul dari belakang, mendekat untuk menanyakan. “Apa yang (cont.)
Tapi rute ini tidak sering dilalui orang, tingkat berbahaya meningkat. Sebaiknya anda memilih jalanan lain.” Tangan kanannya merapihkan lengan baju sebelah kiri, kemudian menatap pria asing di hadapannya lagi. Ia bertaruh saat memutuskan mendekati, namun—hal yang (cont.)
@encncea Ternyata yang dibutuhkan bermaksud untuk dibagikan, karena itu adam kami tak segan membelikan sejumlah yang nona sebutkan. “Tunjukkan tempat dimana kita perlu membeli es krim itu.”
Saku celana terasa lega, tetapi tidak membuatnya sadar telah kehilangan satu benda. Tungkai jenjang berjalan dengan santai, hingga secara kebetulan sebelah tangan menyelami saku celana yang kosong. Usai dipastikan kedua sisi tak berisi, ia buru-buru memutar arah. (cont.)
@2DimensiMenfess Claudia mengernyit ketika melihat sebuah dompet terjatuh di tengah jalan. Diambilnya dompet tersebut, kepalanya menoleh ke kanan dan kiri. Haruskah ia merapalkan mantra agar segera menemukan pemiliknya?
Katanya, memuji hal yang sewajarnya dilakukan oleh para penemu benda berharga di sembarang tempat. “Semuanya masih di tempat yang sama, kecuali kartu identitas. Terima kasih atas kejujuran anda untuk mengembalikannya pada pemilik sesungguhnya, apakah ada imbalan yang anda (cont.)
!2Dfess ; cw, tw / stalking, blood, violence.
... without attaching any visual of our character, we wished to expand his circle of friends. if you kindly repost this letter? should you wish to interact, do please drop a word and closeness rate (1-5). — signed, w-oc, M.
lama—hingga berakhir disesap pengecap rasa. “Ya,” Ada jeda yang diambil usai membalas secara singkat, tangannya menurunkan cangkir di atas pangkuan. “Kami punya urusan di Rusia, ingin mencoba menebaknya? Saya tidak keberatan jika anda ingin melakukannya.” ( @AntonioSergei_ )
@AntonioSergei_ — Ain keunguan menatap kelamnya kopi dalam cangkir di atas meja, mulut belum terbuka ‘tuk layangkan suara. Jeriji menggenggam gagangnya, lalu mengubah arah pandang pada sosok pria sang mantan tentara. “Apakah anda masih saling bertukar kabar dengan (cont.)
@AntonioSergei_ Mungkin, pria di hadapannya salah satu dari sekian banyak insan yang enggan memulai pembicaraan dengan basa-basi. Menjawab pertanyaan, lalu memberi tanya kembali mengenai tujuan. Iris ungunya beralih memandang coklatnya kopi dalam cangkir, (cont.)
@2DimensiMenfess He noticed the pack of cigarettes you gave him, then his gaze shifted to you, as if he assumed you were deep in thought about something important. “I don't want to smoke,” he said. “I have to meet someone afterward, and I don’t want the smell to linger on my clothes.”
He lifted the lighter and burned the cigarette between his lips. He didn’t exactly count; perhaps it’s his third, or maybe fourth. “Want one?” he offered the opened cigarette box to you. Interested in accompanying him?
— You may reply or repost this. [ !2DFESS ]
@ragedwings https://t.co/k6oxxUpjnR Halo, kita tidak saling mengikuti. Namun cuitan ini melewati linimasa di sini, apakah berkenan menulis dengan kami?
!2DFESS ・ Kemari membawa tawaran untuk menulis bersama. Sekiranya ada yang tertarik untuk melanjutkan potongan adegan ini, silakan jatuhkan balasan kalian. Menghijaukan unggahan ini pun diperkenankan untuk menulis bersama di lain waktu.
—— W-OC ・DD:DNE
Telapak tangan memegangi sebelah bahunya sendiri, pegal akibat menghabiskan waktu dengan posisi yang sama di atas kursi. “Kemana kau akan pergi setelah ini? Mungkikah masih ada urusan dengan kasus yang sedang kau tangani?” ( @Aerviene )
Dari tempatnya berdiri, ia menyaksikan engkau sedang berbicara dengan para polisi. Setelah memastikan pembicaraan kalian selesai, barulah tungkai beralas sepatu kulit bergerak mendekat. Mereka yang mengenalinya menyapa sesaat, sebelum pergi untuk menyelesaikan sesuatu (cont.)
@Aerviene Adam kami tahu betul, bahwa—tanya dari pemuda di sekitarnya mengandung candaan semata. Sebab itu ia tertawa ringan di antara ruang bicara keduanya, jarang-jarang dapat merasa santai ketika beradu kata. “Apakah pulang usai bekerja keras adalah sebuah hal yang tidak wajar?” (cont.)
usaha memperbaiki kesahalan, setidaknya engkau paham nilai sebuah keterlamatan. Satu tangan lainnya tersimpan dalam saku celana dengan nyaman, menunggu apa yang akan @drietrail katakan.
“Apakah sangat sulit menempati janji dengan datang tepat waktu?” Jarum jam menujukkan keterlambatan lima menit dari waktu yang telah disepakati, sedikit atau banyaknya waktu yang terlewat tetap tidak bisa ditoleransi. Air muka tampak sedikit kesal, karena kamu (cont.)
@drietrail “Saya bukan pemilih, tidak ada satu dua hal yang disukai secara khusus di dunia ini. Tentukan olehmu sendiri, anggaplah sebagai hukuman yang menantang.” Alisnya terangkat naik, gurat wajah terlihat berubah mengikuti perasaan yang kian membaik. Menghargai puan atas (cont.)
“Selamat sore.” Adam kami membalas sapa dengan intonasi datar tanpa kehangatan, “Ucapan anda terdengar tidak wajar, berjalan di rute yang tidak pernah anda lalui hanya akan membuat anda tersesat.” Benaknya memikirkan hal demikian, usai mendengar sebuah alasan. (cont.)