Awal tahun 2026, aku sempat menulis nama2 di journaling ku. Nama2 yg kusebut sbg my people, orang2 yang ingin aku keep sepanjang 2026 atau mungkin seumur hidup.
Tapi, baru setengah jalan, nama nama itu sepertinya sudah hilang dari list.
Yah.. Tak ada org yg tak tergantikan.
@rendracul@peaxhtherapy Aku pnh dfoto buat album loyalty customer kak.. Pas kutanya aku nomer berapa, kata dia 3 dari sekota kak ๐คฃ keknya emg bner kata sender harusnnya di autodebet aja
@dramacoKR Jujur agak trauma kalau iu mau ambil peran jadi king maker spti drama 2015 itu deh ๐ฅฒ dia yg jadiin raja sah, tp dia ga bsa jd ratu, jd selir pun masih tersiksa ๐ฅฒ๐ฅฒ
Yg nggak fair menurutku adl ada 1 org dri tim lain yang ikutan dinaikin gajinya. Alasannya, iya dia kan banyak tim kamu.
Oh ya?
Ngeselin ya.
Ya udah kucoba hari ini minta dia bantu trus blm usaha udah sambat dan blg ga bsa.
๐ค๐ค๐ค๐ค๐ค๐ค
HOD ku resign awal bulan lalu, sempat mengajukan kenaikan gajiku dan anggota tim lainnya karena dinilai beban kerja bertambah selepas dia pergi, meanwhile posisi HOD masih cari pengganti. Ya, jd aku seorg lagi ini bakal backup kerjaan HOD sampe dpf penggantinya. Ok. Fair lah ya.
Inget dulu, sekitar tahun 2013, seorg teman blg dia pengen kerja di salah satu perusahaan retail multinas dgn menggebu gebu. Padahal, saat itu aku gatau ada perusahaan itu, yah nol info.
Aku tahu, sampai detik ini, kesempatan itu blm pnh dtg padanya. Sekedar interviewpun tdk.
Kami ngobrol mulai dri pekerjaan, membangun koneksi, persiapan paskah masing2, bahkan kemiripan urgensi kehadiran kami di tempat kami masing2.
Hidup penuh misteri. Aku harap aku bsa ktemu temanku lagi dan cerita padanya betapa mimpinya itu keren. Meski, maaf aku baru tahu skarg
Bertahun2 kemudian, kesempatan justru dtg padaku untuk mgenal perusahaan tsb. Mulai dari by email, by phone, hingga akhirnya pagi tadi kami bertemu. Wanita yang menggawangi retail multinas tsb menyambutku, hahahihi, dan bahkan memanggilku tanpa kaku dgn namaku tanpa embel2 "ibu"
Nggak semua cinta ditakdirkan bersama.
Kita jalani hubungan dengan seseorang yang kita cinta banget. Saking bangetnya, kita sampai bertahan dan menahan segala kesakitannya asalkan masih bersama.
Sampai one day, sakitnya nggak lagi tertahan.
Logika terurai.
Saat itu terasa berat. Sesak dan kadang ingin mati rasanya.
Tapi itu masuk akal dan dibutuhkan.
Jadi, tidak ada yang perlu disesali. Bahkan, kalau bisa, aku ingin sesekali kembali kesana. Ke momen itu.
Ya, hanya disaat bahagianya. Karena, aku tak mau kritis dua kali.
Memang sakit. Tapi, apa mau dikata?
Saat itu kami tahu, yang kami butuhkan bukan seseorang disisi karena rasanya perasaan ini, pasangan kami, dan diri kami adalah beban.
Kami butuh jarak. Kami butuh kebebasan. Kami butuh sendirian.
Semua harus ditata, diperbaiki segera.
Bersama sakit, nggak bersama rasanya lebih sakit. Tapi, berpisah rasanya jauh lebih masuk akal, kan?
Lalu kami berpisah.
Berjuang untuk bertahan dan bangkit melewati masa masa paling berat itu.
Semua orang mencibir, meragukan, tapi sedikit yang ikut menemani.