Sebelum nikah, mantapkan pikiran & hati utk 'menjadi', bukan 'mendapat'.
- jadi istri (bukan dapat suami)
- jadi suami (bukan dapat istri)
- jadi ibu/bapak (bukan dapat anak)
Pasti beda hasilnya.
Karena 'menjadi' fokus dgn kontribusi diri. Bukan menuntut org jadi yg kita mau.
habis nyimak podcast nikita willy dan teh qoonit, ada salah satu kalimat yang rasanya kayak nyess banget:
“bahagia itu bisa kita upayakan, bisa belanja, bisa makan, bisa jajan, bisa jalan-jalan, tapi kalau rasa tenang itu cuma bisa Allah swt yang menurunkan”🥹🫶
alasan pgn punya jodoh yg bisa nge-lead & dominan tuh pgn bgt dimanjain. capek bgt seumur sekarang hidupku survival mode ga pernah mati, harus ngemong & ngajari orang. capek, pengen diemong
temenku pernah bilang: “saya tau kalau saya punya tempat buat bersujud. tapi saya juga ingin dipeluk.”
kalimat itu bikin aku langsung mewek, manusiawi banget. iman kuat, tapi tetap butuh pelukan & kehangatan manusia. keduanya penting.
dr. Gia pernah ngomong:
Peluang kita meninggal itu 100%. Sedangkan peluang kita hidup sebenarnya sangat kecil. Jadi jangan sia2kan waktu yang berharga hanya untuk overthinking. Jalani, syukuri, nikmati saat ini.
im not saying "cape bgt kerja terus"
but im saying "terima kasih ya allah udah dikasih otak dan kemampuan yang sangat gacor ini. bcs my job is literaly doing everything in my power and knowledge to keep someone's mom, dad, sister, brother, loved one alive for 12 hours of my day"
aku pernah nulis catetan soal ini dari kajian Ust. Nouman Ali Khan.
sebenernya, bukan porsi kita buat sibuk melabeli hardship itu hukuman, takdir, atau ujian. Tugas kita bukan nebak-nebak rahasia langit, tapi gimana cara kita untuk meresponsnya.