B.J. Habibie
Bapak B.J. Habibie adalah ikon abadi yang memadukan kesederhanaan hidup dengan pencapaian teknologi tinggi demi bangsa. Meski sukses besar sebagai insinyur penerbangan di Jerman, beliau memilih pulang ke Indonesia pada 1974 untuk membangun industri dirgantara nasional dengan penuh integritas dan bakti tulus pada negara. Gaya hidupnya yang sederhana serta pengabdian tanpa pamrih menjadi teladan abadi bagi generasi penerus.
Potensi anak muda Indonesia yang cerdas dan berbakat di luar negeri sangat besar. Ribuan talenta muda yang menguasai teknologi mutakhir di berbagai negara memiliki semangat kuat untuk kembali ke tanah air, berbakti, dan melanjutkan warisan Habibie dalam mewujudkan Indonesia yang mandiri secara teknologi serta berdaulat.
Namun, kasus Ibrahim Arief alias Ibam—mantan konsultan teknologi Kemendikbudristek era Nadiem Makarim yang kini dituntut 15 tahun penjara dalam perkara pengadaan Chromebook meski mengaku tak bersalah, merasa dikriminalisasi, dan hanya menjalankan tugas konsultasi tanpa wewenang pengadaan—serta Ira Puspadewi, mantan Direktur Utama PT ASDP Indonesia Ferry yang divonis 4,5 tahun terkait akuisisi PT Jembatan Nusantara (meski kemudian direhabilitasi Presiden), menjadi bukti nyata bagaimana ketidakpastian hukum, tuntutan berat, dan proses yang kerap menjadikan profesional sebagai kambing hitam membuat talenta berbakat enggan kembali mengabdi.
Oleh karena itu, harapan kita ke depan adalah Indonesia segera mereformasi sistem hukumnya agar lebih adil, proporsional, dan melindungi inovator serta pemimpin berintegritas. Hanya dengan demikian anak muda pintar di luar negeri akan berani pulang berbakti seperti Habibie, membawa teknologi dan semangat pengabdian untuk kemajuan bangsa yang lebih cerah dan berdaulat.
@yosephsamodra Mungkin arah nya akan seperti ini:
- 1 dokter akan bisa menangani lebih banyak pasien.
- dokter lain akan bertugas untuk collect dan input data pasien yang tidak bisa di lakukan oleh alat/IoT/sensor.
- dokter menangani tidakan yang tidak bisa dilakukan oleh robot.
Kemarin mau buat workflow seperti ini.
Tapi kembali mikir, paling juga ga lama lagi keluar produk yang mengakomodir kebutuhan itu.
Ini salah satu jebakan yang membuat banyak vibe code jalan di tempat.
Membuat aplikasi yang umurnya pendek.
Ini yang saya takutkan, bukan hanya coding, tapi termasuk workflow dalam perusahaan atau komunitas.
Ini baru pre singularity?
Grok Build just got Agent Dashboard
You can now manage multiple coding agents from one screen
You can see which sessions are working, idle, done, or waiting for your input....then jump in only when needed
You can also peek at the latest output, reply to agents, answer permission requests, and dispatch new sessions directly from the dashboard
This turns Grok Build from a single coding session into a real multi-agent coding workspace
Simple idea, huge workflow upgrade
For more: https://t.co/BYJbBaEgKq
Hari ke-2 trading SpaceX ($SPCX) setelah IPO:
Close hari pertama: $160.95
Hari ini: $192.50 (+19,6% dalam sehari) 🚀
Valuasi company sudah tembus $2,5T.
Grok Build sedang dibangun ke arah Multi-Agent Software Engineering Platform
Bukan lagi single coding assistant, melainkan “AI Engineering Team” yang bisa diatur lewat dashboard.
@techdevnotes Grok Build is being built towards a Multi-Agent Software Engineering Platform
no longer a single coding assistant, but rather an “AI Engineering Team” that can be managed through a dashboard.
@alfariz220 Jawaban yang di dapat :
- si anu lebih murah kalau pasang Ac.
- baik2 aja kok, dingin juga.
- udah setahun ga ada masalah.
Setelah bermasalah, bolak balik di perbaiki teknisi lain, baru hubungin installator principal/professional.
@XFreeze Grok Build is being built towards a Multi-Agent Software Engineering Platform
no longer a single coding assistant, but rather an “AI Engineering Team” that can be managed through a dashboard.
Dari 10 orang terkaya dunia per Juni 2026, banyak yang punya satu pola yang sama :
Mereka adalah Engineer, bisnisnya besar karena fisika.
B.J Habibie adalah Engineer, walaupun hanya 17 bulan jadi Presiden banyak yang dia bisa lakukan.
Mengapa Fisika?
Pada Juli 2025, saat kunjungan ke Beijing, CEO NVIDIA Jensen Huang membuat pernyataan yang cukup mengejutkan. Ketika ditanya apa yang akan ia pelajari jika menjadi mahasiswa berusia 20 tahun di tahun 2025, ia menjawab dengan tegas bahwa ia akan lebih memilih **ilmu fisika dan physical sciences** daripada software atau pemrograman semata. Menurutnya, era berikutnya dalam teknologi bukan lagi sekadar “Generative AI”, melainkan **Physical AI** — kecerdasan buatan yang berinteraksi langsung dengan dunia nyata, yang membutuhkan pemahaman mendalam tentang hukum-hukum alam.
Fisika adalah fondasi segala ilmu pengetahuan. Dari partikel terkecil seperti quark yang membentuk proton dan neutron, hingga elektron yang mengorbit inti atom, semuanya diatur oleh hukum fisika. Dari atom terbentuk molekul, dari molekul lahir senyawa kimia, dan dari sana muncul kehidupan yang kita pelajari dalam biologi. Tanpa memahami fisika, kita hanya melihat permukaan — kita tidak tahu mengapa air membeku, mengapa matahari bersinar, atau mengapa planet mengorbit. Fisika adalah “bahasa dasar” yang menjelaskan bagaimana alam semesta ini bekerja.
Di dunia modern, pentingnya fisika semakin nyata. Teknologi tercanggih seperti chip GPU, energi terbarukan, eksplorasi luar angkasa, hingga robotika masa depan semuanya dibangun di atas prinsip fisika. Jensen Huang menyadari bahwa coding saja sudah tidak cukup. Untuk menciptakan AI yang benar-benar cerdas dan berguna di dunia nyata, kita harus memahami konsep seperti gesekan, inersia, gaya, energi, dan sebab-akibat — hal-hal yang hanya bisa dipelajari secara mendalam melalui fisika.
Oleh karena itu, bagi siapa pun yang ingin memahami dunia dan berkontribusi pada masa depan, mempelajari fisika adalah pilihan yang sangat bijak. Bukan hanya untuk menjadi ilmuwan, tetapi juga untuk menjadi inovator, insinyur, atau bahkan pemimpin teknologi seperti Jensen Huang. Seperti yang ia katakan sendiri, jika ia bisa kembali muda, ia akan memilih jalur ini. Jadi, mengapa fisika? Karena fisika adalah kunci untuk membuka rahasia alam semesta dan membentuk masa depan peradaban manusia.
Menurut keyakinan saya, ini masalah struktural. lingkungan anak dipengaruhi tingkat pendidikan orang tua dan orang2 sekitarnya, coba jalan2 di area yang padat penduduk, komunikasi anak seperti kebun binatang.
Salah satu solusi naikkan jumlah jam disekolah ( lingkungan yg lebih terkontrol).