kayanya bukan cuma tontonan tapi bacaan juga, belum lama ini para pembaca perempuan mendiskusikan ketidaknyamanan membaca buku Perawan Remaja dalam Cengkeraman Militer-nya Pram karena deskripsi yang dipakai menggambarkan tokoh perempuannya terlalu misoginis
@Anggo81512273@aconkISSME Terus apa? Gue cuma tanya kan dengan logika tsb, boleh gak gue kaget? Malah dibahas kemana-mana, diganti diksi gue jadi salah-engga, gue balikin lagi ke pertanyaan gue, malah gue yg dibilang mereduksi. Dari awal yg mereduksi jadi bahasan sambel juga siapeeeeeeeee cobaaaaaa ahelah
Isu LGBT ini gak ada angin, gak ada hujan tiba-tiba jadi besar. Langsung pula dieksekusi jadi kebijakan. Narasinya juga langsung diamplifikasi gak organik gede-gedean. Mau counter isu Amien Rais ini ceritanya?
buat yang selama ini (sok) kritis ke rezim, gue mau kasih kalian sedikit exercise:
notice ga setelah narasi LGBTQ+ ini benar-benar dipolitisasi, sentimen teddy sebagai gay ini langsung turun.
ngeh ga? cuman ada dua kemungkinan:
1. kalian emang disetting
2. atau emang goblok aja
@cromagnonnnn@Hary_rh@ooochnini@aconkISSME Dan gue sedang highlighting, apakah gue engga boleh kaget kalau mengonsumsi media disturbing sementara gue sebelumnya tidak pernah tau bagaimana peristiwa disturbing tsb disajikan?
@BangBarbar2499@aconkISSME Pertanyaan gue cuma BOLEH GAK GUE KAGET?????? kenapa lu menginvalidasi gue yang kaget??? Kenapa lu melarang gue kaget??? KAGET KAN PENGALAMAN PERSONAL YANG GUE RASAIN. KENAPA GA BOLEH GUE KAGET??? TOLOL LU TUB GOBLOK ANJING BACA PERTANYAAN AJA GABISA
Bebas aja sumpah lu mau bahas film dari perspektif gender, kelas, kodok zuma, atau apa lah. Bebas juga lu mau kritik review orang, tapi kalau lu mengekang perspektif tertentu atau malah nganggap reaksi jijik = nggak paham isi filmnya, menurut gue lu aneh sih