Jika akhirnya Persija jadi salah satu tim yg diundang Persebaya dlm Wali Kota Surabaya Cup
Saya atas nama pribadi,
Akan menerima kedatangan suporter Persija yg mendukung timnya bertanding di stadion Gelora Bung Tomo
🚨 Didier Drogba Blasts VAR Decision in Egypt vs Argentina:
I finally believe Argentina always find the easiest route to progress in the World Cup, and VAR made it obvious tonight.
Thank God VAR didn’t exist in our era. Look at the beautiful run from Hassan and Salah to create that chance - where was the referee then? Was the whistle missing from his hands? He only woke up after they scored.
You could see the reaction from FIFA President Gianni Infantino. I guess he wished he could reverse the second goal by Zizo.
The funny thing is that some fans are already saying Argentina is playing in the African Cup of Nations because they’ve faced mostly African teams since the start of the tournament. But I think yes, they have - and they’re experiencing it well, because Egypt won tonight for me.
Sometimes I blame African teams for not holding onto their leads until the final whistle, but how can they when the referee and VAR always seem to be against them?
We Africans deserve better.
Gila, bahkan Rio Ferdinand ikut gerah liat performa wasit tadi malam👀
Rio Ferdinand bilang gini:
“Sepak bola butuh keadilan, bukan aturan yang berbeda untuk tim yang berbeda.
Sudah bertahun-tahun gue duduk di sini dan nonton sepak bola, baik sebagai pemain maupun pundit, dan yang paling bikin supporter kesal adalah inkonsistensi.
Kalau Argentina jatuh kena challenge, peluit kayaknya langsung bunyi. Wasit cepat spot foul, cepat stop play, dan cepat protect mereka. Tapi kalau Mesir yang kena insiden serupa, tiba-tiba game dibiarkan lanjut dan semua disuruh move on.
Itu masalah yang diperdebatkan orang-orang malam ini. Bukan hasil pertandingannya sendiri, tapi kurangnya konsistensi dalam pengambilan keputusan.
Terus lo lihat proses menuju gol kemenangan Enzo Fernández. Mesir teriak-teriak minta foul, pemainnya kerumuni wasit, dan jutaan orang yang nonton kira VAR bakal cek dengan proper. Tapi malah kayak semua orang di ruang VAR lagi tidur.
Buat apa sih VAR kalau bukan untuk nge-review momen-momen krusial di pertandingan penting?
Kalau insiden itu terjadi terhadap Argentina di ujung lapangan yang lain, apakah lo bakal percaya itu nggak bakal dicek? Gue agak susah buat percaya.
Kita udah lihat insiden yang jauh lebih ringan dicek sepanjang turnamen ini.
Itu asal muasal frustrasinya. Fans cuma mau standar yang sama diterapkan ke setiap tim.
Dan mari kita bicara soal sisi disiplin permainan. Argentina kayaknya bisa lolos dari banyak hal. Ada challenge yang biasanya bakal bawa kartu kuning, tapi wasit kayak ragu buat ambil kartu dari kantong.
Kayaknya official wasit takut ambil keputusan yang mungkin bikin Argentina kesal.
Kalau lo lihat beberapa pertandingan Argentina di turnamen ini, ada beberapa momen di mana lawan-lawan mereka ngerasa dirugikan. Satu insiden bisa didebat, dua insiden bisa didebat, tapi akhirnya orang mulai notice ada polanya.
Sepak bola tidak bisa mentolerir persepsi seperti itu. Integritas permainan bergantung pada keyakinan para pendukung bahwa setiap negara diperlakukan setara.
Apakah lo Argentina, Mesir, Brasil, Prancis atau siapa saja, hukum permainan seharusnya nggak berubah tergantung badge di baju lo.
Wasit malam itu punya tanggung jawab buat fair, balanced, dan brave. Tapi malah ninggalin jutaan orang nanya-nanya kenapa beberapa keputusan dikasih begitu gampang buat satu sisi sementara insiden serupa yang melibatkan sisi lain diabaikan.
Sepak bola pantas dapat yang lebih baik dari itu. Pemain pantas dapat yang lebih baik. Dan fans jelas pantas dapat yang lebih baik.”
Yang bikin gue setuju adalah bagian “fans cuma mau standar yang sama”. Itu inti masalahnya.
Lo setuju nggak sama Rio soal wasitnya? Atau menurut lo ini cuma persepsi dia aja?
#ARGEGY
lempar kaleng bir ke supporter mesir, bentangin bendera israel buat provoke coachnya mesir, bahkan kasih gestur rasis ke ishowspeed.
what a disgusting behavior from argentinian suppporter🤮
Fizeram um compilado de 4 minutos mostrando os lances em que a Argentina foi favorecida contra o Egito.
Simplesmente um escândalo mundial. Quanta sujeira envolvida. 🤢
Btw, ini kan cewek yang sama dengan yang ada di podcast Denny Sumargo itu. Jadi harusnya ini semakin memperjelas bahwa Mama Yasinta emang "digoreng" tanpa malu-malu. Semoga semua baik-baik saja.
Dengan hormat, saya sungguh heran kenapa Pemerintah 🇮🇩 tidak memenuhi undangan Iran utk mengirim delegasi resmi ke pemakaman almarhum Ayatollah Khamenei yg terbunuh dlm serangan militer ilegal.
Yg saya dengar, berbagai upaya gigih Iran utk mengundang Pemerintah 🇮🇩 tidak mendapat tanggapan. (Mereka kan juga punya harga diri - tidak mungkin mengemis-emis kehadiran kita.) Akhirnya, yg hadir hanya Dubes RI di Teheran - yg dianggap oleh Teheran sbg sikap menyepelekan undangan ini, bahkan dianggap sbg tamparan. Sementara Arab Saudi, Qatar, Turki, Oman, Kazakhtan, Mesir, Pakistan, Rusia, Tiongkok, India, Malaysia, Bangladesh dll (lihat daftar dibawah) sama sekali tidak ragu mengirim delegasi resmi pada tingkat Menteri, bahkan Pakistan pada tingkat Presiden. 🇮🇩 sbg negara berpenduduk muslim terbesar di dunia satu-satunya yg ABSEN mengirim delegasi. Bahkan Malaysia nampak lebih bebas aktif dari Indonesia.
Apakah ini berarti polugri "bebas aktif" kita mulai LUNTUR krn 🇮🇩 takut/sungkan thdp Amerika ? Has “FEAR” become a factor in Indonesian foreign policy ? Ataukah kekhilafan ini lebih mencerminkan MANAJEMEN sistem politik luar negeri yang penuh masalah - sebagaimana biasanya, surat undangan macet di berbagai meja dan tidak ada yg berani mengambil keputusan. Paling tidak 🇮🇩 bisa mengirim Wamenlu urusan dunia Islam Anis Matta - tapi beliau justru keliling Asia Tengah utk kunjungan yg sifatnya rutin.
Kita seakan melupakan bhw Iran adalah sahabat lama Indonesia, hubungan selalu terjaga dgn hangat dan saling menghormati, dan tidak pernah ada konflik antara kedua negara. Kehadiran delegasi resmi 🇮🇩 dlm acara penghormatan terakhir Ayatollah Khamenei (yg sayangnya tidak terjadi) seharusnya menjadi momen pembuktian diplomasi bebas aktif Indonesia, momen persahabatan RI-Iran sekaligus sinyal tegas dari Jakarta bhw adalah aksi pembunuhan Ayatollah Khamenei adalah aksi ilegal yg melanggar hukum dan norma internasional.
Jangan sampai kita selalu lantang bicara bebas aktif, tapi begitu diminta menentukan sikap dlm situasi yg sensitif, kita bersembunyi.
Please remember : bebas aktif adalah #diplomasiberprinsip, bukan #diplomasisungkan
Boleh dikutip.