The wait is officially OveR. Ragnar Oratmangoen is here! ๐ฏ๐ฅ
Selamat datang di #PERSIB, Ragnar Oratmangoen!
#SumangetAnyar untuk membawa trofi kembali ke Bandung.
Berjuanglah dengan hati, karena di belakangmu ada jutaan Bobotoh yang selalu mendukung!
Let's make Bandung ROAR again, RAGNAR! ๐ต
"Jangan asal beli buku Tan Malaka!
Zen RS bongkar kesalahan fatal puluhan penerbit yang merusak sejarah aslinya."
"Banyak buku Tan Malaka yang beredar ternyata cacat terjemahan? Ini alasan kenapa kamu sering pusing pas baca bukunya!"
Zen RS dalam sebuah podcast yt Asumsimenegaskan bahwa buku Naar de Republiek Indonesia (Menuju Republik Indonesia) yang ditulis oleh Tan Malaka adalah dokumen tertulis pertama dalam sejarah yang secara eksplisit menggunakan dan mencetuskan istilah "Republik Indonesia", jauh sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya.
Zen RS membongkar kekeliruan fatal dari belasan versi buku Naar de Republiek yang beredar di pasaran. Banyak penerbit tidak mencantumkan nama penerjemah karena mereka tidak riset dan tidak tahu bahwa buku asli tersebut aslinya ditulis oleh Tan Malaka dalam bahasa Belanda yang sangat akademis dan berlapis-lapis, bukan bahasa Indonesia.
Misreading Terhadap Buku Madilog (Bukan Sekadar Ilmu Logika)
Terjadi misreading (salah baca) massal di kalangan anak muda terhadap buku Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika). Banyak yang mengira Madilog hanyalah panduan agar cara berpikir menjadi rasional atau logis. Padahal bagi Tan Malaka, Madilog dibentuk sebagai senjata/perangkat berpikir revolusioner bagi kaum buruh dan murba untuk melakukan perubahan sosial dan aksi nyata.
Zen juga memberikan formula membaca semesta pemikiran Tan Malaka. Jika Madilog mengajarkan cara berpikir (fondasi) dan Masa Aksi/Gerpolek mengajarkan taktik di lapangan (praksis), maka buku Naar de Republiek adalah jembatan emas di antara keduanya. Buku ini jauh lebih ringkas, dibandingkan Madilog, dan tidak setebal buku Dari Penjara ke Penjara yang mencapai 900 halaman.
Melalui riset arsip kolonial, Zen menemukan bahwa pemerintah Hindia Belanda sangat ketakutan dengan buku ini. Kepala Reserse Hindia Belanda (A.E. van der Lely) dalam laporan intelijennya menyebut buku ini sebagai dokumen rencana pemberontakan dan rencana perang yang sangat lengkap, hingga media internasional kala itu menjulukinya sebagai "Rencana Perang Tan Malaka".
Buku Naar de Republiek memuat cetak biru (blueprint) dan program nasional yang sangat komprehensif. Bayangkan, 20 tahun sebelum proklamasi 1945 berkumandang, Tan Malaka sudah merancang secara detail bagaimana sistem militer dan kurikulum pendidikan jika Indonesia merdeka nanti. Tidak ada tokoh pergerakan lain di zamannya yang mampu berpikir sejauh itu.
Dalam podcast ini Zen juga membacakan kutipan langsung dari bagian belakang buku yang ditujukan khusus untuk kaum intelektual. Buku ini aslinya ditulis dalam bahasa Belanda karena sasarannya adalah kelas menengah ke atas yang punya banyak pengetahuan tapi minim pemahaman terhadap penderitaan massa. Tan Malaka memperingatkan kaum intelek agar tidak hanya menjadi pajangan (performative) sebelum mereka dibuang oleh kapitalisme kolonial seperti sepah tebu.
Selengkapnya baca aja deh langsung bukunya Tan Malaka - Naar De Republiek yang diberik catatan kritis oleh Zen.
Di balik dua gelar beruntun, ada air mata, tekanan, pengorbanan, dan kerja keras para masterclass yang menjadi saksi perjalanan ini
Expert Tasteโฆ sebuah persembahan terakhir #PERSIB bersama Intersport by Pria Punya Selera.
The Untold Stories akan tayang perdana mulai besok eksklusif di PERSIB TV๐ฌ
#WeArePERSIB
Hatur nuhun untuk tiga tahun yang luar biasa, Coach!
Terima kasih untuk setiap kenangan, setiap perjuangan, dan setiap kebanggaan yang telah diberikan untuk Bandung dan Bobotoh.
You will always be part of our story. Bojan Hodak ๐ญ๐ท๐
#WeArePERSIB
Penjelasan resmi dari Ketua Viking dan Rektor ITB terkait polemik yang sempat beredar telah disampaikan secara terbuka, transparan&jelas.
Mari bersama-sama menyimak informasi resmi ini dengan bijak agar tidak ada lagi kesalahpahaman di ruang publik.
(Video 1/3)
Mengapa kaum yang mengaku "terdidik" ini mendadak buta huruf secara sosiologis? Sebuah utas๐
๐๐๐ง๐๐๐ ๐ ๐๐ก๐๐ฅ๐ ๐๐๐๐๐ก๐ ๐๐จ๐ง๐ ๐๐จ๐ฅ๐จ๐ ๐ง๐๐ฅ๐๐๐๐๐ฃ ๐๐๐๐๐ก๐๐๐ฅ ๐ฅ๐๐๐ฌ๐๐ง
Setelah menjadi bagian dari perjalanan penuh prestasi #PERSIB, kini Igor Tolic akan naik memimpin sebagai pelatih kepala untuk melanjutkan warisan kesuksesan yang telah dibangun bersama.
Dengan semangat baru saatnya melangkah menuju tantangan berikutnya.
The legacy continues ๐
#WeArePERSIB #PERSIBThreepeatChampions #PANCATAKHTA
Setelah sukses membawa #PERSIB mendominasi sepak bola Indonesia dalam tiga musim terakhir, Bojan Hodak akan mengosongkan kursi Head Coach dan kini akan menjalani peran baru sebagai Shareholder Group Technical Advisor dan turut membantu melanjutkan warisan kesuksesan untuk masa yang akan datang.
Once a Blue, always guiding the Blue. ๐ต
#WeArePERSIB #PERSIBThreepeatChampions #PANCATAKHTA
Cara Bandung Mewariskan Persib
Persib resmi menjuarai liga untuk ketiga kali secara beruntun sekaligus menjadi gelar liga kelima dalam sejarah Persib. Sebuah pencapaian yang membuat Bandung kembali tenggelam dalam lautan biru.
Namun video yang saya unggah ini sebenarnya bukan hanya tentang pesta juara.
Video ini adalah tangkapan kecil tentang bagaimana, dalam satu hari, kota Bandung sedang bekerja mewariskan kebesaran Persib.
Bagi banyak kota, klub sepakbola hanyalah hiburan akhir pekan. Datang ke stadion, menonton pertandingan, lalu pulang. Namun di Bandung, Persib Bandung tidak pernah sesederhana itu. Persib hidup sebagai identitas, sebagai cerita keluarga, sebagai sesuatu yang diwariskan bahkan sebelum seorang anak benar-benar memahami apa arti sepak bola.
Dan malam ini, warisan itu kembali dirayakan.
Di setiap sudut jalan, terlihat orang tua yang membawa anak-anak mereka ikut merayakan. Ada yang digendong di pundak. Ada yang berdiri diapit ayah-ibunya di atas motor dengan jersey yang agak kebesaran. Ada yang tertidur di pelukan ibunya di tengah suara klakson, flare, petasan, kembang api, dan nyanyian bobotoh yang tidak berhenti sejak sore.
Ada juga orang tua yang sejak siang sudah mengajak anaknya nobar di pinggir jalan, di warung, di layar besar kota, atau datang langsung ke stadion. Membiarkan mereka menikmati atmosfer sejak matahari masih tepat di atas kepala hingga akhirnya tenggelam bersama pesta kemenangan Persib.
Bahkan banyak orang tua yang rela berdiri atau duduk berjam-jam di pinggir jalan bersama anak-anak mereka hanya untuk menikmati suasana. Menunggu rombongan konvoi lewat. Menikmati euforia kota. Membiarkan anak mereka melihat sendiri seperti apa rasanya Bandung ketika Persib juara.
Bagi sebagian orang, itu mungkin terdengar tidak masuk akal. Anak kecil berada di luar rumah hingga larut malam. Jalanan penuh asap dan keramaian. Banyak risiko. Membahayakan.
Namun bagi banyak keluarga di Bandung, ada sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar perayaan malam itu.
Ini tentang warisan. Tentang bagaimana kecintaan terhadap Persib tidak diajarkan lewat kata-kata, melainkan lewat pengalaman. Lewat suasana. Lewat memori.
Anak usia tiga atau empat tahun mungkin belum benar-benar mengerti apa arti juara. Mereka mungkin hanya bengong melihat lautan manusia berpakaian biru. Mereka mungkin hanya melamun saat ayah-ibunya berada dalam situasi tegang menunggu hasil akhir. Bahkan mungkin mereka tidak akan mengingat detail malam ini ketika dewasa nanti.
Namun memori tidak selalu bekerja lewat logika.
Ada hal-hal yang diam-diam tinggal di dalam diri seseorang. Bau asap flare. Suara ribuan orang bernyanyi bersama. Wajah ayahnya yang begitu bahagia di malam Persib mencetak sejarah. Jalanan Bandung yang terasa hidup sampai dini hari. Dan mungkin juga momen ketika dirinya duduk kecil di pinggir jalan bersama keluarganya, menunggu konvoi lewat selama berjam-jam.
Semua itu perlahan berubah menjadi core memory.
Dan tanpa disadari, di momen-momen seperti inilah Persib diwariskan.
Bukan lewat teori. Bukan lewat paksaan. Tapi lewat rasa memiliki yang tumbuh perlahan sejak kecil.
Lalu suatu hari nanti, anak kecil yang malam ini hanya duduk diam di atas motor saat konvoi three-peat Persib, akan tumbuh dewasa. Dan mungkin, ia akan melakukan hal yang sama kepada anaknya kelak.
Karena di Bandung, mendukung Persib bukan sekadar kebiasaan menonton sepakbola. Ia diwariskan.
Dari jalanan ke jalanan berikutnya. Dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dan pada 23 Mei 2026, sekali lagi, Persib sedang mencetak generasi-generasi baru yang akan terus mencintainya tak lekang oleh waktu.
This is a day full of battles!
This is one shared dream we must conquer together!
This is #PERSIBDAY ๐
Together we fight for a glorious ending!
#WeArePERSIB