Tenang, walau 1 dollar skrng udah 18.000
Itu artinya rupiah lagi dilemahin, biar ekspor josss, toh beli tempe goreng masih pake rupiah. Ga pake dolar.
Amanlah.
Itu buktinya ibox, resto mewah, event2 fashion tetep rame.
Ini ulah mata2 asing yg buat gaduh.
Jaya jaya jaya
Saudara kandung gw seorang psikolog yg sehari-hari kerjaannya dengerin dan beresin isi kepala orang lain yg berantakan. Pas kita lg kumpul kemarin, dia buka obrolan.
Dia bilang, "lo tau nggak paradoks paling lucu dari profesi gw?"
Dia cerita, pernah nanganin pasien yg semuanya punya pola masalah yang sama. Mereka gak ada yang bener2 sakit secara fisik, tapi badannya rontok karena pikirannya selalu merantau ke masa lalu atau masa depan.
Siksaan batin yg dijelasin saudara gw ini namanya Mental Time Travel.
Kondisi dimana otak kita terlalu canggih sampe bisa loncat ke masa lalu buat nyeselin hal yg udah lewat, atau loncat ke masa depan buat nyemasin hal yg belum tentu terjadi.
Efeknya? Lo kehilangan masa kini. Lo lagi makan makanan enak tapi nggak ngerasain rasanya, lo lagi jalan sama anak-istri tapi pikiran lo lagi sibuk mikirin cicilan 5 taun ke depan, atau sibuk nyeselin blunder kerjaan minggu lalu.
Dia cerita, banyak pasiennya yg kalau malem sebelum tidur, otaknya kayak muter kaset rusak. Mereka selalu terjebak di zona "Regret & What if"
"Kenapa ya dulu gw gak ambil kesempatan itu?"
"Gimana kalau nanti umur 40 gw mendadak di PHK dan gak punya tabungan?"
Siksaan batinnya adalah masa lalu udah jadi abu, masa depan masih jadi kabut, tapi lo ngorbanin satu2nya hal nyata yg lo punya sekarang, yaitu detik ini. Lo dapet capeknya, tapi gk dapet solusinya.
Gw tanya ke dia, "Kenapa otak kita secara psikologis bisa se terjebak itu?"
Dia jelasin kalau secara evolusi, otak manusia itu emg didesain buat bertahan hidup dg cara mengantisipasi bahaya (masa depan) dan belajar dari kesalahan (masa lalu).
Tapi di jaman sekarang, insting itu malah jadi bumerang. Tiap hari kita liat pencapaian orang lain di medsos yg bikin kita cemas ama masa depan kita sendiri.
Kita dipaksa buat selalu berlari ngejar target, sampe lupa caranya berhenti sebentar buat napas.
Ada satu istilah psikologi yg ngena banget buat kondisi ini:
"The Illusion of Control"
Kita mikir dg merenungkan masa lalu berulang kali, kita bisa mengubah rasa bersalah kita. Atau dengan mencemaskan masa depan, kita bisa mengendalikan hasil akhirnya.
Padahal itu semua cuma ilusi. Satu2nya momen dimana lo punya kekuatan penuh buat bertindak dan mengubah sesuatu itu cuma ada di masa kini.
Gimana cara kita buat lepas dari penjara waktu ini?
Saudara gw kasih terapi simpel yg biasa dia kasih ke pasiennya:
Grounding Technique (5-4-3-2-1)
Pas pikiran lo mulai melayang entah ke taun berapa, paksa mata dan tubuh lo buat fokus ama sekitar.
Sebutin 5 benda yg lo liat sekarang, 4 hal yg bisa lo sentuh, 3 suara yg lo denger, 2 bau yang lo cium, dan 1 rasa di lidah lo.
Cara ini bakal menyeret paksa kesadaran emosional lo kembali ke realita tempat lo berdiri.
Langkah kedua adalah bergaul sama kenyataan, bukan asumsi.
Kurangi bikin skenario terburuk didalam kepala. Kalau emg ada hal yg perlu disiapin buat masa depan, tulis di kertas jadi action plan yg nyata, after itu tutup bukunya.
Belajarlah buat menikmati hal-hal kecil yang gratis.
Dinginnya air pas lo wudhu atau cuci muka, angetnya obrolan ama pasangan sebelum tidur, atau rasa pahit manisnya kopi yg lagi lo seruput.
Pesan dari saudara gw ini:
Masa lalu itu udh selesai tugasnya, dan masa depan itu bukan urusan lo sekarang.
Satu2nya tanggung jawab lo adalah menjalani hari ini dengan sebaik-baiknya.
Jgn biarin hidup lo lewat begitu aja cuma karena lo terlalu sibuk jadi penjelajah waktu di dalam kepala lo sendiri. Rebut kembali kendali pikiran lo mulai hari ini.
tulisan by ryn pedia
cc: istory selebriti (facebook)
Terkait kasus rame2 d grup wa.
Hikmah yang diambil, tolong Biasakan jangan bercandaan mesum, karena bercandaan tersebut akan menjadi kebiasaan yg dibawa terus menerus sampe dewasa.
Kalo ngacengan itu dikontrol.
Bukan ngacengan sak nggon2.
Otak kok isine kenta kentu
Breaking News !!!
MBG ditolak oleh masyarakat Ekonomi Menengah Kebawah.
here we go !!!
Mengapa Warga Berpendapatan Menengah-Bawah Menolak MBG?
Hasil Survei Persepsi Publik terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Maret 2026 • 1.168 responden nasional • 80,4% penerima langsung MBG
Temuan Utama (Lintas Kelas, Satu Suara)
• 80,1% responden TIDAK setuju MBG dilanjutkan (hanya 19,9% yang mendukung).
• 88,5% menilai manfaat MBG dinikmati elite & pejabat politik (44,5%) serta pengelola/mitra SPPG (44%).
• Hanya 6,5% yang menyebut anak-anak sebagai penerima utama
ANOMALI FAKTA
🌱 Penolakan Tertinggi Justru dari Kelompok Sasaran. Kelompok berpendapatan menengah-bawah (sasaran utama MBG) paling banyak menolak:
RENTANG PENGHASILAN :
🌱 < Rp2 juta/bulan → 80,2% menolak
🌱 Rp2–4 juta/bulan → 74% menolak
🌱 Rp4–8 juta/bulan → 86,1% menolak (tertinggi)
Semua kelompok pendapatan menunjukkan penolakan tinggi (74–86%).
Empat Temuan Kunci :
🌱 87% warga yakin MBG rawan dikorupsi,
🌱 79% percaya kualitas makanan sengaja diturunkan demi keuntungan pengelola,
🌱 76% menyatakan makanan tidak sebanding dengan anggaran Rp8–10 ribu per porsi,
Indeks persepsi negatif rata-rata 4,22 (dari skala 5)
Suara Warga Berpendapatan Menengah-Bawah. Meski mayoritas sudah menerima MBG, mereka tetap menolak karena:
🌱 Makanan tidak bergizi (sering hanya cemilan atau roti biasa),
🌱 Program dianggap “maling berkedok gizi” — uang pajak rakyat menguntungkan elite,
🌱 Tidak transparan, rawan korupsi, dan suara warga tidak didengar,
🌱 Banyak yang lebih memilih diuangkan langsung kepada orang tua.
Masalah Struktural (Bukan Hanya Implementasi) :
🌱 Tata kelola buruk: top-down, opasitas anggaran,non-disclosure.
🌱 Semua partai politik memiliki SPPG (termasuk keluarga pejabat)
🌱 Program redistribusi dibajak menjadi arena rent-seeking elite
🌱 Respons publik tinggi (97,8% ingin bertindak), tapi kelompok miskin paling banyak “pasrah”
Kesimpulan dari Lembaga Porec.
🌱 Program MBG telah kehilangan legitimasi sosial. Bukan lagi pertanyaan “apakah dilanjutkan?”, melainkan “untuk siapa dan dalam kerangka apa?”
🌱 Tanpa perubahan struktural, MBG berisiko menjadi regressive redistribution in disguise — tampak pro-rakyat, tapi justru memperkuat ketimpangan.
Sumber :
Laporan Policy Research Center (Porec) • Maret 2026
https://t.co/rJKkLVY3kq
Link : https://t.co/BlSiWpwFaG
cc :
@dosenkesmas @iPoopBased @gibran_tweet@prabowo
Guys, akhirnya kejadian juga…
pertemuan dokter tentram vs dokter tantrum
yang selama ini cuma jadi bahan netizen
Pertemuan antara dr. Tirta dan dr. Gia Pratama ini bukan sekadar konten biasa ini literally benturan dua karakter ekstrem di dunia medis Indonesia.
Dua Dunia Berbeda:
Main Character vs Backstage Energy
Dari awal ngobrol aja sudah kelihatan kontrasnya:
dr. Tirta → tipe main character energy: vokal, tegas, frontal, bahkan sering “ngegas” kalau ketemu pasien ngeyel
dr. Gia → tipe backstage energy: kalem, halus, lebih diplomatis, tapi ternyata tetap tegas dengan caranya sendiri
Menariknya, mereka sendiri sadar kalau mereka ini kayak yin & yang:
Satu keras di depan
Satu halus tapi tetap mengontrol dari belakang
Cara Ngadepin Pasien: Marah vs Elegan
Ini bagian paling “daging” dari obrolan mereka.
Gaya dr. Tirta
Kalau pasien ngeyel → bisa langsung ditegur keras
Fokus: efisiensi & hasil cepat
Contoh: pasien bandel → langsung disuruh keluar kalau mau debat
Intinya: kalau sudah dijelasin tapi masih ngeyel, ya digas
Gaya dr. Gia
Tetap senyum di depan, tapi…
Bisa langsung “main belakang” → lapor ke direktur
Tegas tanpa harus marah di tempat
Ini lebih ke: “soft outside, strict inside”
Realita IGD: Tekanan Gila yang Jarang Orang Tahu
dr. Gia sebagai kepala IGD kasih insight penting:
IGD = penuh tekanan (pressure tinggi banget)
Bisa tiba-tiba:
kecelakaan massal
pasien kritis datang bersamaan
Dokter harus ambil keputusan cepat → karena nyawa dipertaruhkan
Makanya:
Galak itu bukan karakter… tapi efek tekanan kerja.”
Salah satu momen paling menarik:
Pasien percaya anaknya kesurupan/santet
dr. Gia tetap ikuti alur cerita
lalu pelan-pelan “twist”:
“Saya tahu makhluknya… namanya tuberkulosis (TBC)”
Ini contoh edukasi cerdas:
Tidak langsung bantah
Masuk ke pola pikir pasien
Baru diluruskan
Mereka juga bahas hal penting yang jarang disadari:
Peran dokter itu bukan cuma mengobati, tapi juga:
Kuratif → mengobati
Preventif → mencegah
Promotif → edukasi kesehatan
Rehabilitatif → pemulihan
Konten mereka di medsos itu masuk ke promotif & preventif
Real Talk: Perokok, Anti-Vaksin, dan “Seleksi Alam”
Bagian ini cukup pedas:
Ada pasien yang tetap ngeyel walau sudah diedukasi
Bahkan ada yang bangga dengan pola hidup tidak sehat
Respon mereka?
dr. Tirta → masih dilayani, tapi dengan sindiran keras
dr. Gia → kalau sudah tidak logis → dibiarkan (no debat)
👉 Quote penting:
“Cara menang debat adalah… tidak berdebat.”
Dinamika Personal: Rival MU vs Liverpool
Bukan cuma serius, mereka juga seru:
dr. Tirta → fans Liverpool
dr. Gia → fans Manchester United
Saling roasting tapi tetap santai → nunjukin kalau di balik perbedaan, mereka tetap satu tujuan.
Di akhir, dr. Gia drop perspektif yang cukup dalam:
Peluang kita lahir itu sangat kecil (dari jutaan kemungkinan)
Tapi kita berhasil hidup sampai sekarang
Hidup itu sendiri sudah keajaiban.
Bukan Siapa Lebih Benar, Tapi Saling Melengkapi
Pertemuan ini justru membuktikan:
Tidak ada satu gaya komunikasi yang paling benar
Dunia kesehatan butuh:
yang tegas (kayak dr. Tirta)
yang halus (kayak dr. Gia)
Karena targetnya sama:
edukasi masyarakat Indonesia biar lebih sadar kesehatan
Mau menambahkan ya dok dari sisi… Tentang coli (onani) sering terkait sama kecanduan p0rn0.
Salah satu penelitian yang pernah saya baca, penelitian tahun 2014 menunjukkan bahwa:
Semakin sering orang mengonsumsi p0rn0, ditemukan adanya: penurunan volume di striatum (bagian otak terkait reward & motivasi) & perubahan konektivitas otak.
Mungkin simplenya itu, otak jadi “terbiasa” dengan stimulasi tinggi, akibatnya hal-hal biasa jadi terasa kurang menarik. Juga jadi cepet bosan, selalu butuh stimulus yang lebih intens, real life sering terasa “kurang hidup”, kurang seru.
Sumber: Kühn & Gallinat (2014). Brain Structure and Functional Connectivity Associated With Pornography Consumption. (JAMA Psychiatry)
BREAKING: Seorang siswa SMK di Kudus bernama Muhammad Rafif Arsya Maulidi menulis surat terbuka kepada Presiden Prabowo, menolak jatah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk dirinya dan meminta anggaran tersebut (sekitar Rp6,75 juta untuk 1,5 tahun) dialihkan sebagai tambahan tunjangan bagi guru-guru yang kesejahteraannya masih memprihatinkan.
Ia berargumen bahwa guru jauh lebih berperan membentuk generasi muda daripada program makan gratis, dan suratnya yang diunggah di Instagram menjadi viral.
Pemilu 2029, pemilihnya:
1) Anak-anak yang baru pertama punya hak pilih, dikasih makan MBG selama tahunan.
2) Ortunya anak-anak kelas menengah ke bawah yang dapat MBG setiap hari, gak perlu repot nyiapin makanan dan budget buat anaknya.
3) Masyarakat grassroot yang dapet kontrak kerjaan dari SPPG, buat masak MBG, nyopirin mobil nganterin makan ke sekolah, dapet kerjaan tetap dari situ.
4) Para pedagang dan petani yang hasil bumi dan jualannya diborong oleh ribuan SPPG setiap hari.
5) Sarjana baru yang keterima jadi ribuan PPPK di bawah BGN, jadi ahli gizi dan pelaksana lapangan.
6) Para pejabat dan aparat yang buka yayasan jadi SPPG meski dengan segala konflik kepentingan.
7) Para elit yang dukung kekuasaan supaya mereka tetap bisa dapat konsesi HGU atau IUP buat buka hutan, nanam sawit, dan tambang.
8) Anggota ormas yang nurut buta sama pemimpin dan elitnya, sementara elitnya dikasih konsesi tambang.
9) Para grassroot yang menerima bantuan sosial bertuliskan "istana" setiap ada pejabat blusukan.
10) Para pejabat yang tunjangannya 10-20 kali lipat gaji rata-rata rakyat di kotanya sendiri ditambah segala fasilitas yang ada.
***
Mereka akan memilih siapa lagi kalau bukan petahana atau penerusnya?
Kalian masih percaya politik elektoral?
Ada calon yang cukup kuat yang bisa melawan itu semua?
Saatnya mengeluarkan kata kata
Tulung nek koncomu mbuh Lanang opo wedok ketok lesu tur ora semangat dijak ngobrol ora di nengke wae
Meskipun Kowe ora isoh ngenehi solusi sak ora orane isoh dadi tempat berkeluh kesah koncomu kuwi.
Ben ora kedadeyan hal hal sek ora di pengeni.
🚨 BREAKING : Kejadian anomali di Bayern, 4 kiper mereka sekaligus mengalami cedera . 😦
• Manuel Neuer : cedera otot betis
• Jonas Urbig : gegar otak
• Sven Ulreich : robekan otot adduktor
• Leon Klanac : cedera paha
Bayern kemungkinan akan menurunkan kiper U19, Leonard Prescott, di laga Liga Champions vs Atalanta tengah pekan ini.
bentar lagi sekolah libur 1-2 minggu setelah ujian.
selama libur sekolah, bisa nggak MBG juga libur, dan anggaran per hari itu dialokasikan utk bencana Sumatra?
jika benar MBG per hari sekitar Rp 1 T, maka bantuan bencana selama libur bisa kisaran 7-14 trilyun
#logikarakyat
Itu di Bima juga hutan ditebang tebang, dibakar. Masa lu diem juga sih @RajaJuliAntoni ? masa tunggu bencana dulu, korban dulu. Kenapa sih diem aja? Mention jebol? makanya kerja yang bener jadi banyak yang protes kan lu.