Lo memuja Golden Age Islam, tapi lo gak paham apa yg membuat Islam bersinar
Ilmuwan Golden Age justru beriman, bukan sekuler
Ibn al-Haytham, al-Biruni, al-Khawarizmi dan lainnya, mereka gak memisahkan sains dari iman. Mereka meneliti alam justru karna-
Bener jg, masa ini sulit ada ilmuwan/saintis yg jg hafidz qur'an/hadits/ahli agama. Even, Islam dlu kiblatnya ilmu, org Eropa Islam/nonis smp rela dtg langsng ke ulama buat bljr. Mlah skrg bnyak yg mikir klau belajar sains = dunia. Jd gausah heran klau IPTEK dikuasai barat/nonis.
@kaiashere Sumpah Islam dlu ga sebego skrng deh, apalagi jama Golden Age, bener bener mempelajari sains, ga takut belajar hal baru, banyak ilmuan Islam yg mengubah peradaban dgn sains. Skrng kaya orang dongo, kuno & di doktrin agama buat alergi sains & ilmu pengetahuan anjir
Same duʿa Same nights. Same tears.
Different trust.
And slowly quietly
things began to move.
Sometimes your rizq isn’t blocked by sin.
It’s blocked by fearful wording
and a heart afraid to expect good from Allah.
Check the words you repeat.
They reveal what you really believe.
But duʿā doesn’t work on emotional insurance.
It works on yaqeen. On asking Allah like you know
He hears.
He gives. He responds one way or another.
So I changed ONE thing. I removed “if”.
And replaced it with:
“Ya Allah, grant me what is best for me
and expand my heart to accept it.”
Jika dosa berulang, ulangilah taubatmu, Allah tidak akan jenuh dengan taubat seorang hamba, sampai manusia tersebut yang jenuh dengan taubatnya sendiri.
"ustadz khalid basalamah"
kadang kita itu gaperlu doa spesifik, cukup "robbana atina..." itu udah mencakup semua kebaikan, dan dibarengi dgn hati penuh harap dan percaya. kalau kita berdoa spesifik malah kebanyakan kita itu minta perkara dunia, terus tiba tiba blank lupa di tengah² berdoa apa lagi.
Kur’an’daki peygamber dualarıyla alakalı çok dikkat çeken ortak bir nokta var. Belki de bu sır, duaların kabul olmasının en kestirme yoludur. İşte o sırrın Kur'an'daki 3 büyük örneği :
lagi doom scrolling, suddenly i stumbled upon a post menjelaskan lafadz الفراغ (al-faraagh), yang berarti “kekosongan” atau “waktu luang”, berasa ditampar bacanya.
katanya, al-faraagh ini adalah salah satu ujian terbesar buat kita. ketika kekosongan ini dibiarin tanpa ada arah, bisa jadi pintu masuk bagi waswas, kecemasan, depresi, overthinking dan perasaan tersesat. hati yang kosong lebih gampang membesarkan kejadian-kejadian kecil, mengulang-ngulang luka lama, tenggelam dalam kesedihan, merasa sesak tapi gak tau sumbernya, sibuk memikirkan kekurangan diri, ingin mengakhiri hidup, merasa rendah diri, dan dihantui pikiran-pikiran yang gak ada habisnya.
seringnya kan kita ngira yang harus kita lawan tuh perasaan gak nyaman, anxiety, depresi, etc. tapi jarang dibahas kalau semua itu bisa diperparah dengan hati yang kosong. kosong dari amal, kosong dari dzikir, kosong dari tujuan.
para ulama juga sering banget ngingetin kalau banyak maksiat bermula dari waktu yang luang. soalnya hati yang kosong tuh sebenernya akan selalu terisi oleh sesuatu, kalau bukan dengan hal yang mendekatkan kita kepada Allah, maka sesuatu yang lain akan mengambil tempat itu.
maybe that is why healing is not only about removing pain, but also filling the emptiness with what brings your heart closer to Allah.