@spargowentgone pak masa bawa mobil taksi dibandingin sama bawa mobil balap 😭
dari safety dan kebutuhan aja udah jauh bedaa, jadi emang kalo mobil matic paling bener pake satu kakii
Semarah itu sama kampus sendiri alias IPB.
Di Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini mereka memilih untuk buat acara ngelepasin Invasive Alien Species berupa burung parkit
Kyk, bodoh???????????
Fun fact
BJ Habibie pernah pulihkan rupiah dari Rp 16.800 ke Rp 6.550
Fakta yang tidak akan bisa diterima oleh para pembela pemerintah, yang menyuruh rakyatnya untuk tenang aja disaat dollar naik, mbg itu bermanfaat dan ngga ada korupsi.
Alih2 optimalisasi dan evaluasi sistem, pikirannya langsung bangun bangun bangun
Mbok ya duduk dulu, ngobrol sama ahli2, evaluasi dan identifikasi core problemnya dulu apa, baru tentuin tindakannya
Arghhh frustrasi gw sama ngr ini 😩
Oiya sejak kapan demen dengerin ahli? 🥴
Kalau dalam kondisi normal, mungkin iya.
Normalnya urutannya gini:
🟢 Hijau → lanjut jalan
🟡 Kuning → peringatan, bersiap berhenti di sinyal berikutnya
🔴 Merah → berhenti sekarang
Sinyal kuning ini namanya sinyal muka (distant signal), letaknya sekitar 500 meter sebelum sinyal merah utama. Fungsinya sebagai peringatan awal supaya masinis punya waktu dan jarak cukup untuk ngerem pelan-pelan.
Tapi masalahnya, asisten masinis Argo Bromo mengklaim sinyal di depannya tiba-tiba langsung merah, tanpa didahului kuning. Harusnya nggak bisa langsung merah kalau sinyal sebelumnya masih hijau.
Kemungkinannya, karena insiden taksi tadi bikin sistem track circuit di area itu terganggu. Track circuit adalah sensor di rel yang mendeteksi keberadaan kereta. Kalau sensor ini error, sinyal bisa menampilkan aspek yang salah, atau berubah tiba-tiba tanpa urutan normal.
Sayangnya, besar kemungkinan awak stasiun tidak menyadari ini karena kondisi sedang hectic akibat insiden taksi.
Di kecepatan 110 km/jam, Argo Bromo menempuh sekitar 30 meter per detik. Jarak 500 meter (antara sinyal muka dan sinyal utama) habis hanya dalam sekitar 16 detik. Sementara jarak pengereman penuh kereta penumpang seberat itu butuh setidaknya 700–900 meter. Artinya, kalau sinyal kuning nggak muncul dan merah baru kelihatan dari jarak 500 meter, secara fisika sudah mustahil berhenti tepat waktu, meski masinis langsung panik ngerem sekeras-kerasnya.
Jadi 3 menit itu bukan waktu yang bisa dimanfaatkan penuh oleh masinis, ataupun waktu yang cukup untuk stasiun menyadari kerusakan di persinyalan.
Kenapa gue sangat fokus ke insiden ini? Karena gue ngerasa begitu dekat dengan aktivitas terakhir para korban.
Berangkat kerja naik KRL, pulang juga naik KRL, menjalani rutinitas yang berulang, nunggu kereta dateng, desek-desekkan di peron dan kereta, dan berdiri di antara banyak orang dengan pikiran yang sama, yaitu ingin pulang, ingin sampai rumah, ingin bertemu keluarga tercinta.
Mungkin banyak dari kita menganggap perjalanan itu hanyalah bagian biasa dari kehidupan. Tapi tragedi ini mengingatkan, bahwa di balik setiap langkah menuju tempat kerja dan setiap perjalanan pulang, ada doa, ada harapan, ada orang-orang di rumah yang menanti dengan penuh cinta.
Rasanya begitu menyesakkan membayangkan, mereka yang pagi tadi berpamitan seperti biasa, ternyata tak semua bisa kembali seperti yang direncanakan. Dan dari situlah hati gue ikut berkecamuk, karena kisah mereka adalah kisah yang sangat mungkin juga kita jalani setiap harinya.
Semangat selalu, Para Pejuang 🤍