Karna ngomongin pemerintah bikin darah tinggi naik, mending ngomongin bola.
Daripada Vinicius, mending Arsenal rekrut Kenan Yildiz.
Selain skill, Yildiz cocok buat strategi Arteta dan cocok dengan squad Arsenal musim depan.
Ada anak muda, seorang akedimisi, warga sipil, yang mempertanyakan legitimasi profesional, kemudian di pahami oleh elit sebagai kritik personal.
"Indonesia bangsa yang besar", katanya.
Kemarin ada orang yg upload lukisan, terus kasih caption kalo karya tsb hasil AI. Ngga lama, banyak sekali komentar netizen yang mengkritik tajam karya tsb.
Tapi ternyata karya lukisan tsb asli, dan bukan AI 😂
Experiment ini lagi jadi pembahasan hangat di kalangan seniman.
@Syaikhfools@gunners_lyfe Jadi rasanya kita ngga boleh menormalisasikan cara Arsenal bertahan di laga final kemarin. Pressure nya berat, ketenangan buyar, dan bikin kepercayaan diri anjlok.
Buat team ini ngga bagus kalo di pelihara, bayangin hampir ngga gerak pemain kita.
Sebagai fans Arsenal, dengan pemain yang ada saat ini harusnya Arsenal bisa buat main total football.
Defensive yg dilakukan Arsenal di Final justru memalukan. Idealnya kalo mau total defense ya di menit 70an. Bukan di menit 10. Ini layak disebut haramball.
@Syaikhfools@gunners_lyfe Opini lu cukup bagus, yg jadi pertanyaan adalah kenapa disaat pemain PSG panik dan melakukan kesalahan sendiri Arteta tidak melakukan pressure abis-abisan. Malah pilih nunggu dibelakang yg bikin PSG unggul lagi dalam ketenangan.
Bertahan itu ga nyaman, boleh tanya ke pemain pro.
@Syaikhfools@gunners_lyfe Iya kalo long ball akurat, sayangnya Arsenal ngga bisa.
Tentu tanpa mengurangi rasa hormat, Arteta pelatih bagus, tapi di final jadi pengecualian. Orientasi bertahan total yg dilakukan Arteta cukup aneh, karna ngeliat sepanjang babak pertama PSG udah hilang fokus.
@gunners_lyfe@Syaikhfools Lah baru tau gue, kalo lawan PSG harus main bertahan total tanpa cari celah buat lebih variatif dalam serangan, harus sapu bola terus menerus sepanjang 90 menit.
Jadi ya hasil imbang adalah prestasi, padahal Arsenal pemimpin klasmen liga champion.
@Syaikhfools@gunners_lyfe Udah tau main direct ngga berhasil, malah main buang bola ke depan. Goal Kai di menit 6, terjadi lewat ketenangan pemain. Termasuk peluang Kai di menit 45 juga lewat bola bawah.
Jadi yg paling berhasil long ball atau bola bawah? Kok Arteta main long ball terus-menerus.
@laszlokerik Opini abangnya oke, sehingga diskusi kita jadi enak.
Tapi abang notice ngga, yg paling berani di Arsenal cuma Lewis Skelly, brani bawa bola, kontrol untuk delay, dan kasih progresi serangan yg akurat. Dia 19 tahun, dan mampu tenang. Tapi strategi Arteta beda, dan ini kesalahan.
@gunners_lyfe@Syaikhfools Liat posession aja, walaupun defense Arsenal tetep mampu bermain tenang di akhir kompetisi.
Presentase ball posession Arsenal termasuk yg superior, passingnya juga oke. Lalu di Final UCL? Apakah menunjukan mental Arsenal sebagai juara EPL dan P #1 UCL, gue pikir engga.
@laszlokerik Ya jelas Arteta perlu kita kritisi, PSG dibawah Enrique itu selalu menang di penalti, harusnya Arteta lebih aware soal ini.
Seluruh pemain bermain disiplin, cuma perintah Arteta untuk full defense ngga tepat.
Jadi yg gue kritisi disini cuma di laga Final aja, laga lain oke kok.
@vartcxh@Syaikhfools Jelas gue tidak suka permainan Arsenal di Final. Selain pertandingan Final gue seneng kok liatnya.
Di final kita terlalu terburu-buru kaya pemain amatir dan selalu sapu bola.
Jadi yg gue kritisi soal haramball cuma di pertandingan Final aja.
@udinberseri911@Syaikhfools Tapi kita juga punya pemain bertahan terbaik di dunia saat ini, Mosquera/Timber, Saliba, Magalhaes, Hincapie/Calafiori.
Di first half ketiga penyerang PSG malah buntu dan kebingungan, Ini unggul buat Arsenal kan? Kenapa pilih nunggu bola terus disaat fokus pemain PSG pecah.
@gunners_lyfe@Syaikhfools Loh kita punya pemain bertahan kelas dunia saat ini, Inter jadi contoh?
Buang buang bola pas lagi mimpin 1-0 adalah kekacauan. Sepanjang musim Arsenal main world class, mau di domestik atau eropa. Tapi, kenapa di final malah rusak sekali.
@laszlokerik Pemain bertahan kita jauh lebih baik dari club manapun di dunia saat ini, jadi sepanjang musim kita selalu bermain pertahanan indah yg kelas dunia.
Tapi, saat final ucl itu bukan pertahanan indah, itu seperti bentuk frustasi ketidakmampuan keluar dari masalah.
@SirJohnFastolf Strategi ini pernah dipake Arteta di final lawan City, dan Arsenal kalah.
Ngga belajar dari pengalaman atau males cari variasi baru buat optimalkan potensi pemain?
Ini penghinaan, seolah-olah satu-satunya strategi yang bisa dipake para pemain adalah bertahan.
@rizky_kuton Sepanjang musim ini gue ngga melihat Arsenal main haramball, pas di final UCL aja.
Biasanya emang defensive rapih dan tenang, tapi pas Final sering buang bola dan terburu-buru.
@kevinnosaurus Tapi bang, pas di first half, Arsenal cukup klinis. Pemain PSG sering ketarik.
Celah ini ngga di explore Arteta, malah nyuruh pemain buat nunggu di dalam pertahanan.