pelayan. “Siapa namamu?” tanyanya, tetap dengan nada tenang. “Kau mau daging?”
Dolseok, yang kini tengah sibuk “membantai” hewan buruan tersebut, menyela dengan sedikit senyum di wajahnya. “Ini kesempatan langka. Tuan muda jarang sekali berburu, apalagi (…)
mencoba menemukan kata-kata pembuka yang tepat untuk menggambarkan perasaan rumit itu. Karena kertas yang ia bawa terbatas, ia akan menulis dengan hati-hati. Maka dari itu, setiap kata dipilihnya dengan cermat untuk dapat menyampaikan emosi yang mendalam.
di bawah kakinya menjadi lebih stabil.
Dengan sekali hembusan napas berat, Sang berhasil membawa wanita itu ke daratan. Tubuhnya menggigil, dingin menusuk di tengah desiran angin dengan pakaian yang basah kuyup. Teruna Jo terengah-engah, berusaha menenangkan (…)
dan mengangguk setuju. Untungnya mereka tidak harus kembali ke rumah. “Baiklah, kita beli saja di sana nanti. Jangan sampai lupa lagi.”
@fse_sol // 12 replies.
sebuah cengiran sarat rasa bersalah, “Benar, tetapi sepertinya tertinggal di rumah.”
“Tapi tidak perlu khawatir, Tuan muda. Biasanya di dekat kuil banyak orang berjualan. Kita bisa membeli makgeolli di sana saja,” lanjut Dolseok.
Sang menghela napas lega (…)