Disclaimer: saya bukan pendukung FI (amit-amit)
Tapi saya pribadi, paling malas kalau ngelihat perilaku orang dari stereotip sukunya.
Stereotip itu ada benarnya kok, karena bersumber dari realita yang dialami seseorang ketika berinteraksi dengan suku tersebut.
Tapi penyebab munculnya stereotip dari suku itu bukan nilai-nilai dari suku itu sendiri.
Melainkan faktor lain seperti: TINGKAT PENDIDIKAN, KELUARGA, EKONOMI, TRAUMA MASA LALU dsb.
Orang Minang banyak bacot dan pengolah? Iya, saya sering menemui itu pada orang-orang yang berasal dari keluarga broken home/disfungsional, tingkat pendidikan rendah, punya pengalaman traumatis, dll.
Tapi saya hampir ga nemu itu di anak2 Minang yang kuliah di PTN bagus. Yang keluarganya utuh dan akhlak orang tuanya bagus. Apalagi yang udah jadi profesional sukses.
Orang Jawa sering dicitrakan sebagai orang yang rajin, ga neko-neko, dan cinta damai.
Sampai aku menemukan almarhum bos preman besar di Medan ternyata keturunan Jawa Kebumen (tahu film Jagal, coba cek aja bos2nya itu orang mana)
Ada lagi bos bandar narkoba dari Jawa Timur yang ternyata pemain internasional (barusan ketangkap di Kamboja).
Jadi, stop analisis orang berdasarkan stereotip sukunya.
Bisa ngeliat McTominay langsung juara liga di musim pertamanya cabut dari United
Bisa ngeliat Lindelof langsung juara Europa League di musim pertamanya cabut dari United
Bahkan ngeliat Sancho yg spell-nya di United sejelek itu, tapi dapet 2 trofi kompetisi Eropa juga pas dipinjemin
Sementara seorang Bruno yg udah carry United bertahun-tahun seberat itu dan se-effort itu blm dapet itu. Baru 2 piala turnamen domestik
Football is cruel, pantes aja Paulo Dybala yg udah ngerasain juara World Cup bareng Argentina di musim yg sama tetep nangis waktu kalah di final Europa League bareng Roma
Artinya buat pemain, gimana pun trophy is a trophy ๐